Senin, 21 November 2016

Gagal, Gagal, dan Gagal

Standard

"Bangzaaaat, ngapain lo semua di sini?! Pulang wooooy, ini hanya duniawi.." begitulah kira-kira kata yg muncul di pikiran gue sewaktu pertama kali ikutan tes kerja. Sekeliling gue penuh dengan orang-orang berkemeja putih, sambil megang tumpukan file, dan muka planga-plongo. 

Btw yang terakhir itu gue.

Gue udah sering denger dari orang ataupun artikel kalau jaman sekarang nyari kerjaan itu susah. Awalnya sempat nggak percaya, tapi begitu ke tempat seleksi,... gue.jadi.sangat.percaya.

Pertama kali ikutan seleksi, waktu itu tepat sehari setelah yudisium di kampus. Di kampus gue, tiap ada yudisium, pasti ada beberapa perusahaan yang buka booth buat nawarin pekerjaan. Saat itu, mungkin ada sekitar 16 perusahaan. Dan saat itu juga, gue hanya tertuju sama satu perusahaan. Yaitu. Perusahaan BUMN. Bank BNI. Iya, cuma BNI doang akhirnya yang gue apply. 

Belagu banget emang.

Waktu pertama kali narok berkas, entah kenapa gue malah deg-degan. Rasanya kayak lagi ngechat gebetan baru yang mantannya kaya kaya gitu. Langsung kepikiran, "Berkas gue dibaca nggak ya?", "Dibales nggak ya?", "Dipanggil tes nggak ya?". Kepikirannya bukan main. Mengingat, gue orangnya suka ceroboh. Gue takut malah salah kirim. Bukannya ke bank BNI, malah ke bank darah.

PMI kali bang ah bank darah.




Untungnya nggak sampai seminggu nunggu, gue dapat panggilan buat tes. Senangnya bukan main. Rasanya kayak gebetan baru kita yang mantannya kaya kaya itu, ternyata orangnya apa adanya. Dan belakangan gue baru tahu, semua perusahaan yang ada di booth kampus, itu semacam golden tiket buat para freshgraduate. Mereka pasti manggil mahasiswanya buat tes, tanpa harus seleksi administrasi. 

Jadi buat kalian yang di kampusnya banyak perusahaan bagus, jangan disia-siakan!

via GIPHY

Pagi-pagi buta pun gue datang ke tempat tes dengan mantap.

Mengantre buat 'daftar ulang' dengan tatapan penuh percaya diri, sambil melihat sekeliling dan sesekali berkata, "Lu musuh gue lu semua. Musuh gue. Musuh gueeee" mengingat waktu ngeliat daftar peserta tes, jumlahnya mencapai 650 orang. Dan sebelumnya gue baca-baca dari Kaskus, ODP cuma nerima sekitar 20 orang. Itu berarti 1 banding 32 orang. Dengan kata lain, untuk satu tempat ODP, gue harus ngalahin 32 orang.

Mari kita kesampingkan konsep kebhinekaan... *bunyi genderang perang*

Singkat kata, ternyata siang itu pengumumannya langsung diumumkan. Dan sorenya tes lagi, lolos lagi. Kemudian besoknya lagi. Baru setelah itu gue harus menunggu waktu cukup lama buat lanjut ke tahap seleksi berikutnya.

Min, banyak ya emang tahap seleksinya?

Banyak! Untuk ODP (semua perusahaan BUMN sebenarnya), minimal, 7 tahap. Proses seleksinya pun paling cepat tiga bulan.

Dan endingnya, setelah bertahap-tahap dan menghabiskan waktu berbulan-bulan, gue gugur di tahap ke-enam. Apa itu tahap ke-enam? Next post akan gue bahas.

via GIPHY

Itulah kegagalan pertama gue waktu tes kerja. Rasanya kayak patah hati. Seolah pengin neriakin, "HEYYYY! BERANI-BERANINYA NOLAK HEYYYYYY".

Tapi tenang, cerita ini nggak akan berakhir di sini aja. Ini cuma pengantar, sekadar intermezzo. Kalau diceritain satu persatu, bisa-bisa bakalan jadi ensiklopedia. Ensiklopedia yang nggak guna gitu. Dan selanjutnya, gue bakalan cerita di tahap mana aja gue gagal, kenapa gue gagal, dan apa yang harus dilakuin biar (semoga) nggak gagal. Semoga ada gunanya.

Dan kalau ditotal hingga saat ini gue kerja, udah cukup banyak gue mengalami kegagalan.

Kayak misalnya waktu ikutan ODP BNI. Gue butuh 3 kali ikutan tes, hingga akhirnya bisa lolos masuk sana. Masih ingat betul, BNI part pertama pesertanya 650, yang kedua 450, dan yang ketiga, 1200. Semuanya diambil di bawah 25 orang. Mantap soul. Mantap jiwa.

Gue pernah ikutan ODP BTN, waktu itu pesertanya seribuan lebih, dan gue gagal di tahap ketiga.

Pernah ODP BJB, waktu itu pesertanya enam-ribuan lebih, dan gue pun gagal di tahap ketiga.

Pernah juga ODP Mandiri, pesertanya lima-ribuan, dan sekalinya keterima,... gue harus mengundurkan diri. Pengen banting Hulk gak lu rasanya.

Dan yang paling ekstrim, waktu gue ikutan OJK. Jumlah pesertanya seratus-enam-puluh-lima-ribu orang. Iya, 165 ribu. RIBU. Yang kalo mereka demonstrasi, mungkin bisa nurunin dua kepala negara.

Dan yang diterima, cuma 400 orang.

Mantap soul. Mantap jiwa.

Gagal, Gagal, dan Gagal. 

Itu yang gue alamin waktu seleksi tes masuk kerja. Kadang suka mikir, kenapa sih gagal mulu? Bawaannya pengin putus asa. Males ngelamar kerja.

Tapi setiap pengin putus asa, gue selalu ingat sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di pikiran sewaktu dulu gagal juara turnamen di SMA...

"Bayi aja butuh beratus-ratus kali jatuh buat bisa jalan. Dalam hal ini, gue baru berapa kali?"

Nggak kebayang kalo waktu gue bayi udah pasrahan. Sekarang masih belum bisa lari kali ya?

Selasa, 05 April 2016

Satria Si Vlogger Monoton?

Standard
Sejak beberapa bulan yang lalu, rumah gue berlangganan internet. Dulu kalau mau buka Youtube, biasanya videonya gue favorite-in dulu, nanti kalau lagi ke cafe yang internetnya kenceng, videonya baru gue buka. Nah, karena sekarang gue mau ngapain aja di internet enak, nggak pake mikirin kuota, makanya hampir setiap hari gue buka Youtube. Gue jadi lebih aktif di Youtube. Tapi bukan aktif sebagai kreator, hanya sebagai penikmat kontent. Iya, konten para Youtuber. Youtuber dengan semua tipe vlog-annya.

Karena saking seringnya gue mantengin keseharian para Youtuber lewat vlog-nya, dari beberapa bulan yang lalu itu juga lah gue bertanya-tanya seperti ini:

Di zaman yang serba nge-vlog gini, orang-orang masih pada pengen baca blog nggak sih?

Ini salah satu faktor yang sebenarnya bikin gue jarang ngeblog. Kalau dilihat dari euforianya, anak jaman sekarang lebih suka nonton (ngeliat vlog), daripada baca (ngeliat blog). Tiap gue mau cerita kegelisahan gue, kadang suka mampir pikiran, "Njir, orang-orang aja udah pada ngevlog, masa gue masih ngeblog?! Nggak laku lah!"

Dari pikiran ini, gue pun berniat satu hal: belajar ngedit video! Buat ngevlog.

Singkat kata, seminggu gue udah bisa ngedit video. Yaaaa, walaupun nggak jago-jago amat, seenggaknya masih enaklah buat ditonton. Siapa tahu aja kalau skill ngedit video gue diasah terus, ke depannya gue bakalan dilirik sama orang Hollywood, trus gue disuruh ngedit lanjutan film Avenger.


Tapi setelah gue udah bisa ngedit video, timbul satu pertanyaan lagi di pikiran gue: 

Apa penting keseharian gue buat diliput?

Lo perhatiin deh vlog orang, keseharian mereka banyak kegiatannya. Meeting lah, pacaran di mobil lah, buka-bukain-kado-subscribers-terus-dijualin-lah. Sedangkan keseharian gue, gue ngerasa monoton banget: bangun subuh - berangkat kantor - jalan kaki dikit - nyampe kantor - buka komputer - pulang - macet-macetan - ngetwit - tidur. Gitu terus tiap hari. Monoton, dan kurang seru buat diliput. Bisa-bisa gue dijulukin sebagai Satria si Vlogger Monoton. Kecuali keseharian gue seru, misalnya: abis bangun subuh - mandi - memperjuangkan kemerdekaan Palestina. 

Di vlog Pandji Pragiwaksono pun gue sempet nonton yang episode tentang Vlog, di situ ada temennya nyeletuk yang intinya, "Seberapa penting keseharian hidup lo buat diliatin ke orang?"

Bikin galau gak tuh. Dan ada benarnya.

Di sisi lain, gue pengin lebih dekat dengan para pembaca atau followers gue. Biasanya lewat video, engagement-nya lebih kuat. Nah balik lagi gue pengin nanya, enaknya kalau gue bikin vlog, vlog tentang apa ya? Yang intinya, bikin gue sama pembaca jadi lebih dekat (tapi sementara ini, biasanya gue suka bikin video absurd di channelnya Ikramarki sih). Apa lewat Official Line, kah?

Kalau selama ini, biasanya gue mencoba lebih dekat dengan pembaca via Snapchat (id gue: satriaoo), ya walaupun gue nggak sering-sering amat Snapchat-an sih. Tapi biasanya, di manapun gue berada, selalu gue Snapchat-in. Haha!

So guys, wht shud i do? U can touch me at comment, yes.

Oh, Begini Cara Efektif Ngirit Kuota Internet

Standard
HUAAAAAAAH! Apa kabar gaes?!

Gilaaa, udah lama banget gue nggak ngeblog. Dari statistik terakhir, terakhir gue ngeblog itu bulan Oktober 2015. Udah 5 bulan! Astagaaaa, maafkan saya saudara-saudara. Akibat terlalu banyaknya kesibukan, blog gue jadi nggak tersentuh. Pas baru buka aja, blog gue udah debuan, banyak sarang laba-laba, banyak gembel-gembel lagi pada tiduran. Sekali lagi, maafkan saya, kawan. Saya memang pantas diperbudak bangsa Portugis. Padahal ada (lumayan) banyak hal yang pengin gue share di sini, rencananya sih mau share tentang hal yang berbau IPK. Karena gue yakin pembaca gue banyak yang usia masih-belum-lulus-kuliah ke bawah. So, tunggu post-an berikutnya ya?

Iya banget nih.. *numpang lewat*
Kali ini gue mau sedikit sharing aja nih tentang penggunaan kuota. Selama ini lo ngerasa nggak sih, kadang kuota internet kita itu kayak pipis? Keluarnya deres amat. Baru beli kuota 5GB, kurang dari 14 hari abis mulu gara-gara stalking-in Path/Instagram/Snapchat gebetan. Itu buat gebetan yang cuma doyan selfie. Nggak kebayang kalau gebetan doyan bikin video, Youtuber misalnya, bisa tiap hari kita beli kuota kalau dia upload video mulu.

Sebenernya agak 'ngiklan', sih. Tapi karena ini iklan yang ngebantu banget, gue dengan senang hati ngiklaninnya. Semoga para pembaca gue berkenan dan nggak ngerasa kecewa. :)

Ini juga iya banget nih... *numpang lewat lagi*
So, gue baru-baru ini dapet info kalau LOOP (produk Telkomsel) ngeluncurin aplikasi baru yang namanya #LoopKita. Jujur, gue tahun 2014-2015 pernah berpikiran gini waktu ngerasa kenapa kuota internet gue cepet abis, "Ini kenapa nggak ada yang buat aplikasi pengatur kuota sih?" dan benar, beberapa tahun setelahnya, ada yang buat. Sebagai #AnakGames, #AnakChat, dan #AnakUpdate, begitu mendengarnya, gue langsung bahagia. Gue jadi mau meluk Raisa.

Aplikasinya nggak ribet sih, nggak yang makan 'memori' juga (tapi sayangnya baru untuk Android aja). Buat penggunaannya juga simple. Jadi kalian download aplikasinya dulu di Google Play, kalau udah, masuk ke menu "USAGE". Dan biar aplikasinya bisa jalan, di bagian "Data Saving Mode" wajib di-on-in,

trus Continue,

 trus Ok.
Nah, kalau udah di-on-in, kalian bisa langsung monitoring aplikasi mana yang paling boros di bawahnya. Dan gue yakin sih buat anak-anak zaman sekarang, Snapchat dan Path.

Dan setelah tau mana aplikasi yang paling boros makan kuota, kalian bisa ngeblock akses internet si aplikasi tersebut di menu "Control". Jadi begitu buka, kalian nggak bisa internetan. Jadi irit deh.

Setelah semuanya udah di-setting, kalian nggak usah takut buat kehabisan kuota lagi. Karena gue jamin, ini aplikasi efektif banget buat 'ngerem' kuota kita. Gue aja semenjak pake ini jadi irit, nggak pernah Youtube-an pake kuota sendiri lagi. Tiap mau buka Youtube, internetnya pasti nggak nyala. Haha!

Dan enaknya lagi, di aplikasinya kita juga bisa beli kuota dengan harga promo. Murah-murah lagi, gue aja beli yang 30 ribuan udah dapet yang 3Gb! 

Ah, kubahagia. 

Raisa mana Raisa.

Untuk info selengkapnya (buat yang pengin tahu harga kuotanya juga) kalian bisa mampir ke: loop.co.id/loopkita. Okeh?!

Kayaknya segini dulu hal yang bisa gue share. Di postan selanjutnya, gue janji bakal share tentang IPK yang semoga bisa ngasih gambaran ke kalian tentang dunia setelah kuliah. Okey?!

Dan buat yang pengen request gue mau ngebahas apa, kalian bisa kasih saran di kolom comment ya!
Ini gue banget nih. Ngetik tulisan ini aja cuma beberapa menit. #okesip

So, apa cuma gue doang di sini yang dalam sebulan bisa dua kali beli kuota yang 5 GB? 

Kamis, 22 Oktober 2015

"Cinta Butuh Chemistry"

Standard
First impression gue waktu ngeliat buku Between Us: “wah, ada novel yang isinya tentang Kimia-Kimiaan nih, kayaknya keren.”. Waktu masih SMA, gue paling nggak bisa pelajaran Kimia. Entah kenapa pelajaran Kimia yang gue dapet dari sekolah bikin gue jadi males belajar Kimia. Gue dicekokin dengan segala macam rumus kimia, di situ gue mikir, ini pelajaran buat apaan sih? Daripada belajar kimia, mending gue main basket.

Gue masih ingat waktu dulu gue pernah belajar Kimia tentang inti atom. Begitu dijelasin, hari pertama gue ngerti, keesokan harinya, gue lupa apa itu inti atom. Begitupun temen gue. Gue yakin penyebab anak sekolah cepat lupa sama pelajaran IPA itu karena pelajarannya nggak bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Coba gue tanya, apa itu inti atom? Yak betul! Inti atom itu bukan yang ini:
Metode guru ngajar biasanya cuma ngasih tau definisinya apa, lalu ngasih unjuk gambarnya seperti apa. Ini kan nggak bikin siswa paham. Siswa bakalan paham, kalau dijelaskan dengan hal-hal yang bisa diterapkan sehari-hari, misalnya ngejelasin dengan trik ngegombalin cewek.

A: Sayang, cintaku ke kamu itu kayak inti atom tau.
B: Ah, kenapa gitu, Bang?
A: Kecil sih, tapi nggak bisa dibagi lagi.

DEMN. Pasti tuh siswa-siswa bakalan pada nyatet apa itu inti atom.

Hal yang serupa gue temui di buku Between Us. Buku yang menceritakan tentang Fahrul, seorang chemist (anak Kimia) yang sedang mencari chemistry ke orang-orang di sekitarnya; ke bawahannya, ke bosnya, ke ibunya, juga ke gebetannya, sangat menarik karena dikemas dengan istilah-istilah kimia. Gue baru sadar ternyata dalam jatuh cinta, terdapat proses kimia yang jarang diketahui oleh orang-orang. Yang selama ini gue cuma tahu ikatan terkuat adalah ikatan silaturahmi, ternyata masih ada ikatan lain yang juga sama kuatnya; yaitu ikatan kovalen.


Cinta memang nggak memandang seseorang berdasarkan latar belakangnya, tapi  seseorang, bisa memandang cinta berdasarkan latar belakangnya. Fahrul sebagai anak kimia memandang cinta sebagai proses senyawa kimia yang bereaksi ketika hati menemukan chemistry. Yap, cinta itu butuh chemistry. Dan gue sebagai anak basket, memandang cinta adalah kemenangan. Meraih kemenangan itu nggak mudah, kita butuh latihan rutin –karena cinta tidak datang dengan tiba-tiba-, kita butuh kekompakan –karena cinta itu saling, bukan paling-, dan kita butuh tujuan yang kuat –karena cinta tanpa tujuan, sama dengan buang-buang waktu-. Dari semua elemen itu, tentu nggak mudah untuk menyatukannya. Selalu ada halangan entah itu datangnya dari diri sendiri, ataupun dari rekan kita yang hanya bisa diatasi dengan suatu formula; yaitu saling mengerti. Saling mengerti adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam sebuah hubungan. Karena "saling" adalah berdua, butuh 'kekompakan'. It isn't about you or me. It's all about; BETWEEN US.



EH! Maap-maap salah cover. HEHE. 



Rabu, 09 September 2015

Kata-Kata yang Agak Geli Kalau Dipakai Chat Sesama Cowok

Standard
Entah ini cuma gue doang atau emang udah dari sananya, gue kalau baca chat dari orang pasti langsung kebayang ekspresi dia ngomong kayak gimana. Misalnya kalau bokap gue chat nyuruh pulang, "Satria, pulang." gue ngebayangin kalau dia nyuruh pulang dengan muka datar, mata yang sesekali ngeliat ke arah jam tangan, dan mulut cemberut. Beda dengan kalau gue baca chat dari kakak gue yang nyuruh pulang, "Lo dimana? Pulang!" itu yang kebayang dia ngetiknya dengan jidat yang mengerut, dengusan nafas yang menggebu-gebu, dan sambil megang pisau dapur kalau emang ternyata dia kekunci dari luar dan kunci rumahnya kebawa sama gue.

Gue makin ngerasa kalau yang ngebayangin-ekspresi-pengirim-pas-baca-chat ini cuma golongan anak muda doang. Tiap gue baca chat bokap-nyokap atau bapak-bapak dan ibu-ibu umumnya, mereka balas chat-nya sadis. Misalnya nih bokap gue kalau nerima chat dari rekan kerjanya, rekan kerjanya udah ngetik panjang-panjang, dia cuma balas singkat kayak "Ya." atau panjangan dikit "Ya, terima kasih." doang. Gile, innocence banget. Dan kerennya, mereka nggak ada yang bete-betean. Beda kalau chat-an sama pacar.

Hampir semua pacar orang kalau dia udah nge-chat panjang-panjang, seandainya kita balasnya dikit pasti dia langsung ngomel, "Kamu kok jutek banget sih?", "Kamu marah ya sama aku?", "KAMU LAGI SELINGKUH YA?!". Soalnya mereka langsung ngebayangin ekspresi kita kayak gimana. Makanya, kita dituntut harus balas yang panjang juga, meskipun intinya cuma seiprit, misal:

Pacar: Eh eh eh tau nggaaaaak, tadi aku seharian study tour enak deh, aku ke dufan, trus aku di sana ke rumah miring, main wahana-wahana yang serem itu tuh, yang kamu nggak berani, aku naiknya ampe dua kali lho! Trus aku juga ke istana boneka, dan tau nggak sayang aku ngapain di sana? Aku berenang! Iya, yang lain naik perahu aku berenang gaya punggung! keren kaaan?

Kita: Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, kamuuuuuuuuuuuuuuu kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet.................................

Kurang lebih begitu lah.


Karena tiap baca chat rata-rata orang selalu ngebayangin ekspresinya, gue mikir kayaknya penggalan-penggalan kata ini bakalan aneh deh kalau dikirimnya ke sesama cowok. Karena cowok, identik dengan ketegasan. Asli deh, gue pernah dapet chat yang salah satu penggalan katanya ada di bawah ini. Pas baca, waduuuy, shock ngebayanginnya.

"Nyebelin"
Kebayang nggak sih lu, kalau temen lu atau lu ngeliat temen-temen cowok lu nge-chat ada kata nyebelinnya? Misal:

A: Hahaha gue ngibul bego, gue ada di rumah.
B: Ah! Nyebelin!

Ya Tuhaaaan...

"Iiiiih"
Gue kalau dapet yang kayak gini dari cewek gue, jujur, gue malah gemes sama dia. Bawaannya pengin nyubit. Coba bayangin deh, imut banget kan cewek kalau lagi ngomong "iiih"? Biasanya ekspresinya itu bibirnya manyun, nada suaranya manja, idungnya kembang kempis. Gila, gemesin banget.

Coba kalau cowok yang ngechat gitu, misal:
A: Eh, gue pulang duluan ya, mau nganter nyokap.
B: Iiiiiiih, dia mah.

Ya Tuhaaaaan...

"Hihihi"
Ini adalah ekspresi nyengir-nyengir-gemes-genit gimana gitu. Gimana ya ngegambarinnya. Geli gak sih lu kalau ada dua insan pria yang chat-nya kayak gini:

A: Eh uang patungan sapi kurban dikumpulin di elo ya?
B: Hihihi iya hihi

Ya Tuhaaaan...

Segalanya yang Huruf Belakangnya Dipanjangin
Misalnya nih, "Nantiiiiiiiiii" atau "Iyaaaaaaaa". Kebayang gak sih lu ekspresinya gimana? Gemes-gemes-ucul gitu kan. Kalau sama pacar, sangat wajar. Coba bayangin lagi dua cucu Adam ngechat-nya gini;

A: Eh, bayar utang pulsa lo
B: Iyaa, nantiiii

Ya Tuhaaaan...

Emote Melet ':p'
Gue ngebayangin ada cowok yang ngomong langsung, trus main julur-juluran lidah. 

A: Anjing lo!
B: hehehe :p

*ternyata anjing beneran lagi melet*

"Yah" "Iyah"
Gue semangat dengerin kata ini, kalau yang ngomong Nikita Mirzani. Beuh, jadi aus nggak sih lu kalau misalnya Nikita Mirzani yang ngomong di depan lu sambil ngedesah-desah? Beda kalau sama cowok.

A: Nanti jangan lupa yah
B: Iyah
A: Bagi minumnyah
B: Bentar yah

*ternyata lagi kepedesan*

"Wooo" atau "Wuuu'
Gerakan memanyunkan bibir dengan nada yang panjang. 

A: Yah, gue lupa bawa casan!
B: Ye dasar wuuuuuuu

Tuhaaaan, tarik mereka Tuhaaan...

"Wleee"
A: lo bolos sekolah ye?
B: Nggak sih, orang gue sakit wleeee

Sedih bacanya.

Yak! Itu kata yang menurut gue bikin geli kalau dipakai chat sesama cowok. Ngebayanginnya itu lho, bikin istighfar. Tapi sekali lagi, ini cuma menurut gue, kalau ada yang nggak setuju, yaudah. Namanya juga menurut gue. Hehehe. No offense pokoknya.

Menurut lo gimana? Atau ada lagi?

Minggu, 02 Agustus 2015

Di Balik "re-gram" Dagelan

Standard
Beberapa hari ini kasus pengcopasan Dagelan lagi rame di Twitter. Semua semenjak @ernestprakasa ngomel di Twitter gara-gara ada bit dari comic yang di-copast, dijadiin meme, dan di-post di ig-nya Dagelan tanpa nyantumin sumber. Sebenernya kasus pengcopasan ini udah lama, nggak cuma Koh ernest aja yang ngomel. Banyak anak Twitter (yang kontennya keren dan berfollowers banyak) sebelumnya juga udah ngomel, tapi nggak seheboh kemarin. Ampe masuk portal berita.

Gue dari dulu sebenernya banyak banget kegelisahan tentang Dagelan. Sekarang gini, mungkin lo udah tau, Dagelan itu adminnya banyak. Kalau diliat sekilas, mungkin lebih dari 10. Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa hampir semua konten di Instagramnya harus regram sih? Coba pikirin deh, mereka itu anak muda, masa bikin konten sederhana tentang kegelisahan anak muda zaman sekarang aja nggak bisa? Kayak salah satu tweetnya @arhamrsalan yang dicopast: "Lelaki sejati itu takut sama 3 hal: 1. Tuhan 2. Orangtua 3. Kecoa Terbang". DEG. Ngerasa aneh nggak? Apa mereka nggak ada satupun yang kepikiran kayak gitu? Mereka anak muda lho isinya, bukan veteran-perang-yang-lagi-nyari-uang-tapi-udah-pensiun-makanya-gak-bisa-kerja-lagi-dan-akhirnya-copast-buat-dapetin-uang. Masa sesederhana itu aja nggak bisa. Kecoa terbang kan kegelisahan anak jaman sekarang banget.

Sekarang gini, coba pikirin deh, follower mereka itu jutaan, mau bikin meme lawakan sesederhana "Jangan Makan, Kalau Lagi Haus" aja menurut gue yang ngelikes udah ribuan orang. Lah, gue aja followers cuma tiga ribu tapi posting foto muka-Pevita-Pearce-yang-lagi-foto-sama-Keenan-Pearce-trus-muka-Keenan-nya-gue-ganti-pake-muka-gue aja yang nge-like ratusan. Apalagi Dagelan? Btw kalau mau liat ig gue juga bisa liat di @satriaoo. *sekalian promosi*


Di sisi lain, gue menganalisis ada beberapa kemungkinan kenapa mereka hampir semua kontennya bilang "regram". Semoga suudzon di blog nggak termasuk dosa kecil sama malaikat.

Pertama, mereka nggak punya kegelisahan alias mereka hidupnya jauh dari pergaulan masa kini. Jadi, mereka pribadi nggak suka atau nggak pernah main atau nggak pernah buka sosmed. Karena nggak pernah, mereka jadi nggak tau selera humor anak kekinian. Atau mungkin emang nggak punya selera humor ya? Hehehe. Makanya tinggal copas aja biar cepet. Tapi menurut gue kemungkinan pertama ini nggak bener, sih. Masa anak media nggak suka buka social media. 

Kedua, mereka punya trik yang gue namain trik kambing-hitam-tif. Sungguh nama yang nggak ada kerennya sama sekali sebenernya. Jadi, mungkin aja tujuan regram ini buat mengkambing-hitamkan persoalan yang mereka lagi alami sekarang. Coba lo perhatiin deh, hampir tiap kontennya sekali lagi gue tekanin, ada tulisan "regram by" akun parodi bla-bla-bla lah, atau apalah kek. Kalau nggak percaya, buka aja. Nah, di sini janggalnya. Rata-rata dari mereka si akun yang di-regram by-in sama Dagelan ini, akunnya itu-itu doang. Kalau nggak percaya lagi, cek aja. Dari sini gue mikir, mungkin gak sih ini trik buat kambing hitam? Iya, jadi ketika suatu saat ada yang komplen tweetnya dicopas (kayak kasus kemarin-kemarin ini), mereka bisa beralibi yang intinya, "Ini saya dapetin dari akun ini, salahin dia aja." gitu. Dan gue berpikir, bisa aja akun-akun yang gue maksud adalah akun 'bawahan' mereka.*

Ya lo pikir aje, akun instagram yang dia regram-in, anonim juga. Ngelaporin si akun anonim ke polisi dengan UU ITE juga diketawain sama polisinya. (Dan gue yakin sekarang mereka mau nulis "regram" juga gara-gara orang udah pada tau siapa aja di balik Dagelan. Bisa dilaporin. Kalau enggak juga pasti mereka cuek)

Entah nantinya dengan apa Dagelan bisa sadar hingga akhirnya semua kontennya bikin sendiri. Janggalnya, katanya perusahaan, kok nggak punya konten? Harusnya perusahaan kan punya 'sistem' sendiri. Apa jangan-jangan copast secara ilegal dan copast secara legal (dengan nulis regram) ini adalah sistem yang udah dirancang perusahaannya? Hehe. 

Semoga Dagelan cepat sadar. Dan sadarnya bukan gara-gara azab Tuhan yang sampe difilmin sama tim Pintu Hidayah dengan judul "Copas konten orang, jenazah dikuburkan oleh akun bot"

Hehehe.

Baiklah, sekian. Tetap semangat dan jangan lupa beli Love Rebound.

Yang punya analisis lain tentang Dagelan, monggo kita berdiskusi di kolom komen.

Selasa, 21 Juli 2015

CerSing Tour Buku dan Skripsi

Standard
HUARGH! APA KABAR SEMUANYAAAAAH?! *nunjuk-nunjuk yang di ujung biar kayak konser*

Gila! Udah dua bulan lebih gue nggak nulis yang aneh-aneh di sini. Gue merasa dosa. Punya blog dianggurin. Nggak bener nih. Kalau begini terus, gimana menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Gue mau cerita semuanya ah.

Beberapa bulan belakangan gue emang lagi sibuk banget. Mulai dari bulan April. Di bulan April, gue sibuk ngelarin buku perdana, Love Rebound, pala panas revisi naskah mulu. Gue nggak mau para pembaca kecewa sama hasil akhirnya. Beberapa kali gue re-write. Kalau ada bagian yang janggal, gue ganti, biar bacanya enak. Kesan pertama itu penting. Gue takut pembaca kecewa. Ya walaupun pada akhirnya, masih banyak yang typo ternyata. Maaf ya, nanti dibenerin deh kalau cetak ulang. Ayok makanya beli jangan minjem, dikit lagi cetak ulang nih! #promodikit

Lanjut ke bulan Mei. Pas di bulan Mei, gue sibuk tour ke delapan kota buat promo buku Love Rebound. Gilaaaa, pas ngetik "tour ke delapan kota" gue merasa keren gini. Biasa study tour, sekarang tour promo karya sendiri. Waktu itu, gue tour ke Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Kalibata, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Promonya nggak sekaligus, tapi perminggu. Minggu pertama ke kota ini, lalu disusul ke minggu-minggu selanjutnya.

Waktu tour buku, fokus gue benar-benar ke sana. Terutama waktu ke Jogja, Solo, dan Semarang. Maklum, tour kota perdana. Gue harus nyiapin materi buat apa yang mau gue omongin nanti di depan khalayak ramai. Gila nggak tuh. Biasa ngomong di depan temen/dosen, sekarang ngomong di depan dedek-dedek gemes. Gue serasa kayak orang yang dituakan di kampung yang kalau ada warga ngomongin gue, temennya bakalan nyeletuk, "Heh! Jangan ngomongin dia! Pamali!". Gileee, pamali. Iya, mereka duduk di depan gue buat ngedengerin gue ngoceh-ngoceh. Gue kayak sesepuh banget.

Kira-kira kayak gini suasananya:

Ini waktu di Semarang (tour kota ketiga). Pic by @celotehyori.
Awalnya, sempet deg-degan juga. Apalagi waktu di Jogja (kota perdana tour). Tapi bahagianya, materi gue tersampaikan dengan baik. Nggak ada yang terlupakan. Kecuali, di Solo. Sempet lupa sedikit, tapi alhamdulillah-nya bisa back to the line lagi setelah improv. -_- Dan sekarang, karena udah terbiasa, tiap talkshow gue nggak pernah nyiapin materi lagi. Full improv! Haha! Gue jadi ketagihan talkshow!

Lanjut ke bulan berikutnya.

Bulan berikutnya gue dihadapi dengan skripsi. Sebenarnya nggak dari bulan itu aja, gue skripsi dari bulan Februari. Jadi pas lagi nulis (entah itu nulis buat buku atau artikel nyunyu) dan tour, gue juga kepikiran skripsi. Deadline-nya minggu ketiga bulan Juni, cuy harus kelar! Dan masalahnya, sampai minggu kedua, skripsi gue belum kelar! Baru sampai bab 3 (dari bab 5 buat yang nggak tau)! Kenapa gue lelet ngerjainnya? Yes, karena skripsi gue, bikin inih:


Bikin robot. -___-
Dan sampai H-seminggu sidang robot,.... ROBOTNYA NGGAK BISA JALAN! BAJINGAN KAMU ROBOT SIMALAKAMA! *Jangan tanya kenapa gue nulis simalakama, entah kenapa gue ngerasa kata simalakama cocok buat marah-marah padahal gue nggak tau itu apa*

Fyi, itu robot laba-laba pemantau atau robot pemantau berkaki enam.

Gue stress nggak karuan. Gue jadi sensi. Bawaannya mau merengut mulu. Mau senyum aja rasanya males. Gue juga jadi jarang tidur, kepikiran. Tiap hari kerjaan gue dari pagi sampe malem nongkrong di kampus buat ngotak-ngatik si robot ini. Tapi hasilnya, nihil, dia nggak bisa jalan dengan sempurna. Tiap dia jalan, kaki-kakinya konslet gara-gara kabel bajingan simalakama. (Fyi, konsletnya itu kayak kejang-kejang, kakinya geter-geter). Gue udah mau nyewa psikiater aja. Gue pasrah. Kalau robot nggak jalan, artinya, gue nggak lulus. Kudu kuliah lagi. Kudu bayar lagi. Kudu ngedatengin wisuda temen lagi (bukan ikutan wisuda).

Singkatnya, pada tanggal 20an Juni, anggap saja 23 Juni karena gue lupa (hari sidang robot), gue harus bisa jalanin robot, kalau enggak, gue nggak lulus! Gue ngulang! Gue bisa-bisa kalau ketemu bokap dipanggil bro, bukan Nak lagi gara-gara udah nggak dianggep anak! Dan i'm so lucky,... HAMIN SEPULUH JAM SEBELUM SIDANG ROBOTNYA BISA JALAN TANPA KONSLET!!! Yes, nggak tidur beberapa harinya gue akhirnya membuahkan hasil.

Gue gercep pergi ke kampus. Gue girang. Gue senang bukan main. Tiap ketemu orang bawaannya mau senyum sama ngasih beasiswa ke luar negeri. Gila, hari ini hari gue banget! Sampai akhirnya, gue duduk di sebuah ruangan untuk menanti dosen-wanita-tua-ngeselin buat nguji robot gue. Dan pas dia datang, duduk di sebelah gue,... ROBOT BAJINGAN SIMALAKAMA NGGAK BISA JALAN LAGI!!! KAKINYA KONSLET! KAMERANYA NGGAK BISA NGOTRET! DIA JUGA NGGAK BISA DIKENDALIKAN DARI JARAK JAUH!!!!

Gue dimarahin. Diancam nggak lulus. Gue melas. Dan gue ditunggu tiga hari berikutnya buat nguji ulang. Kesempatan terakhir. 

Singkatnya lagi, hari itu pun tiba. Alhamdulillah, robot gue bisa berjalan dengan baik, dia tidak bajingan. Dia robot yang mengerti majikannya. Semua modul, berfungsi. Dia bisa berjalan, bisa ngotret, dan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Gue duduk santai nunggu dosen di ruangan. Semua mahasiswa udah diuji, cuma gue doang satu-satunya mahasiswa yang belum sidang program. Sebelum mulai diuji, robot-nya gue test dulu. Lancar!

Hingga saatnya dosen itu masuk ke ruangan. Gue dengan mantap menyalakan laptop dan bersiap mengendalikan robot. Begitu gue mau masuk ke sistem si robot lewat jaringan wifi kampus,... MENDADAK JARINGANNYA MATI! MATIIII! SUNGGUH WIFI BAJINGAN SIMALAKAMAAA!

Pada dasarnya, kuncinya adalah jaringan. Kalau nggak ada jaringan, robot nggak akan bisa dikendalikan. Kalau robot nggak bisa dikendalikan, artinya gue nggak akan lulus. Dalam teori silogisme pernyataan gue memiliki arti,... KALAU NGGAK ADA JARINGAN YA GUE NGGAK AKAN LULUS! 

Gue panik. Langsung izin keluar ruangan buat nyari dosen pembimbing dan nanya ruangan mana yang jaringannya bagus. Beliau menunjuk salah satu ruangan. Gue pun menjelaskan ke dosen penguji buat pindah ruangan karena jaringannya buruk. 

Setelah 20 menit men-setting robot (karena kabelnya banyak), robot pun siap, jaringan pun bisa digunakan. Dosen penguji kembali masuk ke ruangan. Dan begitu mau dikendalikan, memasukkan perintah,... ROBOT SIALAN ITU KONSLET!!! KAKINYA KEJANG-KEJANG!!!!

Gue stress. Panik nggak keruan. Si dosen ngeliatin gue dengan tatapan lapar penuh amarah. Gue terus ngecek problema si robot, dan ternyata, daya listrik ruangan emang bermasalah, makanya dia konslet. Gue pun kembali mencoba menjelaskan ke dosen apa problemnya. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Gue: Bu, bu, bu, ini konslet bu, tadi bisa kok bu di sana. Beneran. Serius. Saya nggak bohong. 
Dosen: Maksudnya?
Gue: Iya, jadi, tadi kan kalau di sana problemnya jaringan, nah, di sini, daya listrik, bu. 
Dosen: Jadi, nggak bisa gerak robotnya?
Gue: I-iya, tapi tadi bisa kok bu! Seriusan! Saya punya rekamannya kok!
Dosen: JANGAN BAHAS YANG TADI-TADI! SAYA PERLU BUKTINYA SEKARANG!
Gue: Yah, Bu, tapi, ini gara-gara...
Dosen: Satria, kamu mau mempermainkan, saya?

Sampai di sini, gue reflek pengin nutup mulut si ibu dosen dengan telunjuk sambil berkata, "Sayang, plis dengerin aku. Semuanya bisa aku jelasin...". Dia tetap nggak mau dengar penjelasan gue. Akhirnya, dia pun meninggalkan gue lalu berkata, "Sudah, saya tunggu kamu sampai jam tiga (artinya setengah jam lagi), kalau masih nggak bisa, saya nggak menjamin kamu lulus!"

DEG. 

Tuhaaan tarik akuu...

Jantung makin jedag-jedug. Keringat gue keluar dari mana-mana, dari kepala, jidat, leher, tangan, tembok, plafon. Dan ketika gue panik, temen seperjuangan pun datang. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Temen: Sat, kenapa lo?
Gue: Robot gue error! Padahal tadi bisa di sana, pas di sini nggak bisa. Ada-ada aja nih. Di sana, jaringan wifinya mati, di sini, jaringannya ada, tapi kakinya konslet. Kayaknya gue nggak lulus.

Mendengar hal itu, dia langsung bergegas ngeluarin sesuatu dari ranselnya, lalu ngasih ke gue dengan gaya tangan kanan lurus ke depan sambil memegang sebuah benda layaknya iklan-iklan obat di TV-TV.

"Pakai ini!"

Katanya, sambil ngeluarin Bolt.

Gara-gara itu, gue langsung mencium hawa kemenangan. Gue balik lagi ke ruangan sebelumnya. Lari-larian buat mensetting robot. Gue melirik jam. Sisa 15 menit lagi! Setelah selesai, gue pun manggil dosen itu ke ruangannya, and theeeen.... yes! Lancar semuanya!

Perjuangan terberat gue kerasa sampai di sidang program. Buat di sidang akhir (sidang buku), semuanya lancar, tanpa ada halangan. Dan hasil dari semua itu......


Yuhuuuu, Satria Ramadhan S. Kom.

Btw, ini penampakan temen seperjuangan gue. Namanya Nickerson. Iye, emang datar gitu ekspresinya:


Dan ini cerita singkat tentang kita berdua:


Meski kedengarannya rumit, susah, ribet, dan penuh lika-liku buat ngelarin skripsi. Percayalah, ketika lo ngerjain skripsi atau ngerjain apapun yang menurut lo berat, inget ini: Nggak ada usaha yang sia-sia. Yang ada, kita selalu ngerasa usaha kita sia-sia. Jadi kalau lo udah bilang, "Yah, usaha gue sia-sia nih." Sebenarnya usaha lo masih belum maksimal, dan masih bisa dimaksimalin.

Kalaupun kemarin gue -meski udah doa dan usaha mati-matian ngerjain- tetap gagal, gue percaya, Tuhan udah nyiapin jalan yang lebih baik. Apapun hasilnya, kalau dilakuinnya dengan maksimal, selalu timbul kepuasan.

Sampai belum dinyatakan gagal, lo masih bisa (mungkin terus harus) usaha. Do the best will get the best. 

Siapapun anda dan di mana pun anda berada, tetap semangat dalam berjuang! 

... Dan jangan lupa beli Love Rebound. Cheers!

Senin, 27 April 2015

Karya Perdana [Part 3]

Standard
Ok, guys! Setelah bagian satu dan dua, kali ini gue mau ngepost tulisan Karya Perdana bagian terakhir! Yep, tulisan penutup tentang karya gue ini. Lumayan komplit kan, dari sebelum proses penerbitan (Part 1), saat proses penerbitan (part 2), dan sekarang, setelah proses penerbitan! 

Mungkin dari tanggal 23 kemarin ada yang berubah dari timeline gue. Iya, gue jadi lebih sering promosi buat pre-order Love Rebound daripada ngetwit nggak jelas biasanya. Ehe. Maapin. 

Jadi, #LoveRebound udah buka PO dari tanggal 23 April kemarin sampai tanggal 30 April mendatang. Ada yang belum tau kalau ada PO? Atau ada yang udah ikut PO? Ngacung sini!


Buat kamu yang pengin ikutan PO, bisa tuh ikut PO di toko buku online yang ada di bagian bawah banner, atau kalau nggak keliatan, cek di favorite Twitter gue aja ya. Ehe.

Dan buat kamu yang udah ikutan PO, fyi, semua toko buku online yang ada di bawah banner, baru dapat buku-buku gue dari penerbit tanggal 24 kemarin. Dan hari ini, tanggal 27, semua buku bakalan dikirim ke rumah kamu! Ihiw!


Naaaah, buat yang pengin beli buku gue di toko buku, kemungkinan bukunya bakal dijual akhir dari minggu pertama di bulan Mei (sekitar tanggal 7, dan ini pun cuma tebakan gue). So, bersabar yah!

Tapi khusus toko buku yang akan gue kunjungi buat roadshow nanti (Jogja, Solo, Semarang), begitu gue di sana, bukunya udah dijual kok! Jadi, jangan khawatir yah! Soalnya dari kemarin banyak yang mention intinya gini: "Yah, bukunya dijual di toko buku masih lama? Nanti pas lo talkshow gue nggak ada buku lo dong?!". Gitu. 

Btw, siapa nih yang dateng pas roadshow nanti? Absen dong! 


Untuk sementara, kota-kota di atas ini aja yang gue dan Oka kunjungi. Mau kota atau sekolah kamu dikunjungi Bukune? Coba mention @bukune sebanyak-banyaknya yah! Hehe. :D

And then,... ehm. Apalagi yes. Ehm. Nah! Kalau kamu udah nerima bukunya, setelah baca, tolong kasih kritik dan sarannya ya. Bisa lewat Twitter, Line, atau kalau ada yang mau review di blog juga lebih bagus. Saran dan kritikmu itu gue butuhkan banget buat karya-karya gue selanjutnya. Tenang, yang kritikannya jelek nggak bakalan gue block atau gue santet sampe perutnya bisa ngeluarin kandang hamster. Semua kritikanmu, bakalan gue terima.

Karena gue percaya, semakin banyak yang ngeritik, ilmu gue bakalan nambah. Hehe.

So, jangan sungkan buat ngeritik! And.... happy reading! Semoga tulisan gue bisa memberikan inspirasi. :-) 

Kamis, 16 April 2015

Lakuin ini Biar Nggak Ketipu Terong-Terongan

Standard
Baru-baru ini gue dapat followers instagram baru, username-nya @giskaanindyaputri. Yang cowok, boleh cek langsung. Bae-bae, jauhin tangan dari sabun. Celana juga iket yang kenceng, pake tambang biar nggak melorot. Jangan sampai anda lemas detik ini juga!

Nih, gue langsung kasih liat fotonya buat yang koneksi hapenya lemot. *wudhu*


Ini masih belum ada apa-apanya, masih banyak foto yang lebih ekstrim.

Awalnya, cewek ini nge-follow instagram gue. Follower-nya 6000 biji, sampai di sini, gue masih santai-santai aja. Mungkin dia temennya temen gue, kebetulan temen gue ini eksis juga di media sosial. Dan dia pun di-followback sama temen gue itu. Akhirnya, gue ikutan followback.

Sesaat setelahnya, tiba-tiba dia nge-add Line, dan nge-chat gue langsung. Sampai di sini, gue udah mulai curiga. Gue tanya temen gue. Dia bilang, akunnya asli (karena temen gue ini juga nge-followback karena temen-temennya pada followback). Tapi gue nggak langsung percaya, gue investigasi segala macem, dan akhirnya... DUAR! Akunnya palsu! Pemilik aslinya orang Filipina!

Anehnya, modus dia ini halus banget. Di Path (menurut temen gue), tiap dia ngepost foto, selalu ada yang komenin dan keliatan 'real' banget. Setelah gue dan temen gue selidiki, ternyata itu semua fake sodara-sodaraaaa. Dia ngontrol semua akun itu.

Gue emang susah ketipu sama modus penipuan dengan tipe seperti ini, soalnya gue udah sering banget ngebongkar akun terong-terongan kayak gini. Tapi kalau orang lain? Orang yang jomblonya udah tahunan? Kemungkinan besar bisa ketipu yang aneh-aneh. Bisa jadi pemerasan segala macem. Orang secantik ini gitu lho yang nge-chat, siapa yang nggak gemeter. Apalagi kalau diliat dari Instagram-nya, meyakinkan banget. Tiap dia ngepost foto yang komen banyak.

Biar kamu nggak ketipu, baik cewek atau cowok, sebelum kamu nyepik atau meladeni sepikannya lebih baik cek n ricek terlebih dahulu. Daripada capek ya kan, nyepik kan juga butuh kalori.

Cara biar tau dia asli atau palsu? Lakuin ini!

Cek Timeline-nya
Coba kamu perhatiin timeline-nya. Ada banyak hal yang bisa dibedain dari cewek-biasa-beneran-cantik dengan cewek imitasi. Di jaman sekarang ini, cewek-biasa-beneran-cantik, jarang ngetwit. Sekalinya ngetwit, mungkin hasil link-an dari Path, Instagram, atau unfollowers. 

Kalau isi timeline-nya ngegalau mulu, sekalinya mention nyepik dan ngegodain orang (biasanya yang followers-nya banyak), itu udah indikasi kalau dia terong-terongan tuh, waspada!

Selain itu juga, coba kamu amati jumlah followers-nya. Yang namanya cewek cantik, followers-nya banyak. Kalau followers-nya dikit, apalagi di jaman sekarang ini di bawah 200, wah, terong-terongan tuh! Trust me! 

Ya meskipun nggak sepenuhnya bisa dibuktiin dari jumlah followers sih. Mungkin ada juga cewek cantik yang followers-nya dikit, di bawah 200. Mungkin.


Cek Mention-nya
Kalau ternyata si cewek cantik itu berfollowers banyak, jangan langsung kesenangan dulu, coba cek mention-nya. Cewek-biasa-beneran-cantik, ehm, mari kita singkat CBBC biar enak, pasti pernah mention-mentionan sama temennya. Kamu search aja akun Twitternya, ada yang mention, nggak? Mention-nya bukan akun bot yang lagi promote akun motivasi, tapi ngobrol. Kalau ada, kamu boleh tenang.

Kalau belum ada, siaga dua!

Cek Feedback Followers-nya
Coba beralih ke Instagram. Cek foto-fotonya. The real CBBC, mau ngepost kuku aja pasti dikomeninnya yang bagus-bagus. "Ih, kukunya cantik deh! Maukk!" padahal bentuknya segitiga.

Kalau foto kuku aja dikomenin, gimana selfie. Yang komen pasti banyak, kayak si @Giskaanindyaputri ini. 

Nah, kalau dia komennya banyak, jangan langsung menyimpulkan kalau dia real. Cek dulu, yang komen siapa. Lelaki haus belaian atau bukan? Yang harus kamu ingat, cewek cantik selalu punya temen-temen yang cantik. Dan temen-temen yang cantik ini, pasti bakalan komen dengan "Ih, cantik banget sih" atau sejenisnya. 

Nggak cuma "Ih, cantik banget sih" aja sih sebenarnya. Bisa juga komen-komen ngeselin kayak, "Cek ig kita sis, ada tank leopard baru lho" semacam gitu lah.

CBBC kenalanmu komennya bersih? Like-nya dikit? Siaga satu!

Cek Tag-an Fotonya
Kalau dulu di Facebook ada Photos of You, di Instagram juga ada. Letaknya di pojok kanan atas buat yang belum tahu.

Nah, kamu klik deh itu. Kalau memang ada tag-an foto dari temannya, berarti dia real!

CBBC kenalanmu nggak ada tag-annya? Waspada!

Resapi Kalimat Ini: "Cewek Cantik Ogah Memulai Duluan"
Yang harus kamu resapi dan tanamkan pada pikiranmu adalah: "Cewek cantik ogah memulai duluan". Lengkapnya, "Cewek cantik ogah memulai duluan apalagi di media sosial". Jangankan cewek cantik, cewek yang biasa aja suka ogah memulai duluan.

Tentu ada pengecualiannya. Cewek cantik mau memulai duluan, asalkan ke orang yang udah dia kenal dan pernah ketemu langsung.

CBBC kenalanmu nge-chat duluan padahal belum kenal dan belum pernah ketemu langsung? Mampuuuuus mampus!

Sadar Diri
Pergilah ke cermin terdekat, lalu tanyakan pada diri sendiri: "Apa mungkin, dengan kondisi wajah seperti ini, cewek cantik mau?".

Kalau kamu sadar wajahmu nggak bagus-bagus amat, dan tiba-tiba ada cewek cantik yang nge-chat, kamu boleh meladeninya, asalkan,... kamu Kiwil. 

Kadar ketampanan seseorang, selalu kalah sama kadar kilogram emas.

Udah banyak banget akun fake yang pernah gue temui. Udah banyak juga yang gue bongkar. Mereka, si CBBC, umumnya agresif. Belum kenal kok udah agresif. Tapi di sisi lain seru banget sih kalau ketemu sama modus-modus kayak gini. Kalau abis ngebongkar, semacam ada kepuasan hati. Jadi serasa kayak detektif.

Buat cewek-cewek yang lagi disepikin cowok ganteng yang belum dikenal juga bisa lho pake cara ini!

Dan buat cowok-cowok yang kenal sama cewek cantik di media sosial, jangan seneng dulu. Jangan sampai kamu ketipu sama terong-terongan yes! Jangan buru-buru nyepik! 

Senin, 13 April 2015

Cara Biar Di-Followback

Standard


Gue baru-baru ini mengalami kejadian ngeselin. 

Mau tahu?

Rahasia.

Oke bercanda.

Kemarin-kemarin gue datang ke acara temen di Kemang, nama tempatnya 365. Kebetulan gue sering main di daerah Kemang. Begitu dapat undangan buat datang ke sana, dengan mantap gue ngeiyain, tanpa memastikan rute tempatnya. Gue mikir, gue kan sering lewat tempat itu, ngapain juga ngecek di Waze lagi. Tapi begitu nyampe sana, deg! Gue salah tempat. Gue malah ke 678, bukan ke 365. (Lagian, siapa suruh nama tempatnya sama-sama pake angka. Gue pikir yang gue maksud bener.)

Gue melirik jam, acaranya udah mulai. Niat awalnya gue emang kepengin dateng agak ngaret sedikit, satu jam. Dari rumah gue mau mampir dulu ke suatu tempat, lalu makan. Nyasar nggak termasuk di rencana ngaret ini. Kalau nyasar gue bisa lebih lama. Kan nggak lucu gara-gara nyasar, begitu sampai di sana yang punya acara bilang, "Satria, ke mana aja kamu selama belasan tahun ini?"

Gue dengan panik balas-balasan Line sama temen, nanyain rute tempatnya. Gue cek Waze, nggak ke-detect. Kali ini gue benar-benar tergantung instruksi teman. Tapi begitu lagi asik-asiknya nge-Line, tiba-tiba ada chat masuk.

"Assalamualaikum" 

Gue langsung ingat perkataan guru ngaji gue dulu, salam harus dibalas. Kalau enggak, dosa. Dan gue udah baca kalimat salamnya. Karena nggak mau pahala yang udah tipis ini makin nipis, gue pun membalas.

"Walaikumsalam"

Lega.

Tapi sesaat kemudian, notif Line masuk lagi. Gue yang menanti balasan temen, langsung buka tanpa ngeliat pengirimnya terlebih dahulu. Gue pikir itu temen gue. Tapi begitu gue buka, pesannya:

"Maaf kak ganggu. Followback Twitter, ya. Makasih sebelumnya."

Baju gue langsung robek-robek. Badan gue membesar. Kulit gue langsung berubah jadi warna hijau.

Kesel? Iyabet. Gue lagi buru-buru malah minta followback.

Mungkin kalau orang kayak gini hidup di jaman nabi, begitu nabi bilang, "Wahai pengikutku" dia akan balas dengan lantang, "HEEEH! WAHAI-WAHAI! GANTIAN! FOLLOWBACK!"

Buat kamu yang masih suka minta followback dengan ngemis-ngemis, caramu itu nggak asik lho. Bikin orang jadi mikir "Apa bet nih orang". 

Mau difollowback tanpa harus ngemis-ngemis? Kamu harus gini:


Nyamber 
Misalnya kamu pengin minta followback sama si A. Nah, kalau dia ngetwit, nyamber aja. Misal:

"@A: Film Maria Ozawa yang baru keren banget."

Kamu samber:

"@kamu: @A betul, gue paling suka di adegan waktu dia belajar tajwid."

Jangan kayak gini:

 Apalagi kayak gini:

Kalau udah nyamber masih nggak di-followback, berarti kamu nggak penting buat dia. Gitu lho.

Timeline-mu Menjanjikan
Minta followback itu masuk ke kategori pemaksaan. Apalagi kalau minta followback-nya di Instagram, bayangin aja, kita dipaksa buat ngeliatin foto-foto dia. Mending kalau enak dilihat, kalau di fotonya banyak foto telanjang dada dengan daki pusar di mana-mana, gimana? Mual, pak.

Makanya, sebelum minta followback, kamu harus sadar dulu apa yang menjanjikan dari timeline-mu. Apa yang kamu bisa perlihatkan dan kamu 'jual'. Misalnya, akun @adadiskon, dia difollow karena selalu ngasih info diskonan. Misalnya lagi, akun @satriaoo. Dia difollow karena selalu ngasih tips tentang kiat-kiat menjadi selingkuhan ratu Inggris.

Kalau timelinemu nggak menjanjikan, ya udah, itu penyebabnya kenapa nggak di-follow.

Jadi Teman atau Kerabat Kerjanya
Kalau udah jadi teman atau kerabat kerjanya, tentu konten timeline-mu nggak akan dinilai. Kamu mau nge-post apa aja, nggak masalah. Pasti di-followback.

Tapi kalau kamu udah ngerasa temenan tapi nggak difollback-follback, bisa jadi ada yang salah di timeline-mu. Mungkin nyampah. Atau bisa juga cuma kamu yang nganggep teman, dianya enggak.

Jadi Ganteng/Cantik
Nggak perlu dijelasin lagi lah ya kenapa.

Kalau kamu ngerasa nggak ganteng atau cantik, ayo jangan patah semangat, coba operasi plastik.

... wait! jangan plastik deh, global warming. Pake totebag! 



Sandra Ayahnya
Kamu menyelinap ke rumahnya, lalu culik ayahnya dan bawa ke tempat persembunyian.

Setelah itu, minta tebusan.

"MAU AYAHMU BEBAS?! FOLLOWBACK!!!!"

Itulah sedikit pencerahan buat adik-adik dan kakak-kakak sekalian. Semoga budaya followback-nya menghilang. Jangan sampai ada sinetron baru yang judulnya "Cantik-Cantik Minta Followback".


Assalamualaikum.