Tampilkan postingan dengan label SokSerius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SokSerius. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

Kata-Kata yang Agak Geli Kalau Dipakai Chat Sesama Cowok

Standard
Entah ini cuma gue doang atau emang udah dari sananya, gue kalau baca chat dari orang pasti langsung kebayang ekspresi dia ngomong kayak gimana. Misalnya kalau bokap gue chat nyuruh pulang, "Satria, pulang." gue ngebayangin kalau dia nyuruh pulang dengan muka datar, mata yang sesekali ngeliat ke arah jam tangan, dan mulut cemberut. Beda dengan kalau gue baca chat dari kakak gue yang nyuruh pulang, "Lo dimana? Pulang!" itu yang kebayang dia ngetiknya dengan jidat yang mengerut, dengusan nafas yang menggebu-gebu, dan sambil megang pisau dapur kalau emang ternyata dia kekunci dari luar dan kunci rumahnya kebawa sama gue.

Gue makin ngerasa kalau yang ngebayangin-ekspresi-pengirim-pas-baca-chat ini cuma golongan anak muda doang. Tiap gue baca chat bokap-nyokap atau bapak-bapak dan ibu-ibu umumnya, mereka balas chat-nya sadis. Misalnya nih bokap gue kalau nerima chat dari rekan kerjanya, rekan kerjanya udah ngetik panjang-panjang, dia cuma balas singkat kayak "Ya." atau panjangan dikit "Ya, terima kasih." doang. Gile, innocence banget. Dan kerennya, mereka nggak ada yang bete-betean. Beda kalau chat-an sama pacar.

Hampir semua pacar orang kalau dia udah nge-chat panjang-panjang, seandainya kita balasnya dikit pasti dia langsung ngomel, "Kamu kok jutek banget sih?", "Kamu marah ya sama aku?", "KAMU LAGI SELINGKUH YA?!". Soalnya mereka langsung ngebayangin ekspresi kita kayak gimana. Makanya, kita dituntut harus balas yang panjang juga, meskipun intinya cuma seiprit, misal:

Pacar: Eh eh eh tau nggaaaaak, tadi aku seharian study tour enak deh, aku ke dufan, trus aku di sana ke rumah miring, main wahana-wahana yang serem itu tuh, yang kamu nggak berani, aku naiknya ampe dua kali lho! Trus aku juga ke istana boneka, dan tau nggak sayang aku ngapain di sana? Aku berenang! Iya, yang lain naik perahu aku berenang gaya punggung! keren kaaan?

Kita: Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, kamuuuuuuuuuuuuuuu kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet.................................

Kurang lebih begitu lah.


Karena tiap baca chat rata-rata orang selalu ngebayangin ekspresinya, gue mikir kayaknya penggalan-penggalan kata ini bakalan aneh deh kalau dikirimnya ke sesama cowok. Karena cowok, identik dengan ketegasan. Asli deh, gue pernah dapet chat yang salah satu penggalan katanya ada di bawah ini. Pas baca, waduuuy, shock ngebayanginnya.

"Nyebelin"
Kebayang nggak sih lu, kalau temen lu atau lu ngeliat temen-temen cowok lu nge-chat ada kata nyebelinnya? Misal:

A: Hahaha gue ngibul bego, gue ada di rumah.
B: Ah! Nyebelin!

Ya Tuhaaaan...

"Iiiiih"
Gue kalau dapet yang kayak gini dari cewek gue, jujur, gue malah gemes sama dia. Bawaannya pengin nyubit. Coba bayangin deh, imut banget kan cewek kalau lagi ngomong "iiih"? Biasanya ekspresinya itu bibirnya manyun, nada suaranya manja, idungnya kembang kempis. Gila, gemesin banget.

Coba kalau cowok yang ngechat gitu, misal:
A: Eh, gue pulang duluan ya, mau nganter nyokap.
B: Iiiiiiih, dia mah.

Ya Tuhaaaaan...

"Hihihi"
Ini adalah ekspresi nyengir-nyengir-gemes-genit gimana gitu. Gimana ya ngegambarinnya. Geli gak sih lu kalau ada dua insan pria yang chat-nya kayak gini:

A: Eh uang patungan sapi kurban dikumpulin di elo ya?
B: Hihihi iya hihi

Ya Tuhaaaan...

Segalanya yang Huruf Belakangnya Dipanjangin
Misalnya nih, "Nantiiiiiiiiii" atau "Iyaaaaaaaa". Kebayang gak sih lu ekspresinya gimana? Gemes-gemes-ucul gitu kan. Kalau sama pacar, sangat wajar. Coba bayangin lagi dua cucu Adam ngechat-nya gini;

A: Eh, bayar utang pulsa lo
B: Iyaa, nantiiii

Ya Tuhaaaan...

Emote Melet ':p'
Gue ngebayangin ada cowok yang ngomong langsung, trus main julur-juluran lidah. 

A: Anjing lo!
B: hehehe :p

*ternyata anjing beneran lagi melet*

"Yah" "Iyah"
Gue semangat dengerin kata ini, kalau yang ngomong Nikita Mirzani. Beuh, jadi aus nggak sih lu kalau misalnya Nikita Mirzani yang ngomong di depan lu sambil ngedesah-desah? Beda kalau sama cowok.

A: Nanti jangan lupa yah
B: Iyah
A: Bagi minumnyah
B: Bentar yah

*ternyata lagi kepedesan*

"Wooo" atau "Wuuu'
Gerakan memanyunkan bibir dengan nada yang panjang. 

A: Yah, gue lupa bawa casan!
B: Ye dasar wuuuuuuu

Tuhaaaan, tarik mereka Tuhaaan...

"Wleee"
A: lo bolos sekolah ye?
B: Nggak sih, orang gue sakit wleeee

Sedih bacanya.

Yak! Itu kata yang menurut gue bikin geli kalau dipakai chat sesama cowok. Ngebayanginnya itu lho, bikin istighfar. Tapi sekali lagi, ini cuma menurut gue, kalau ada yang nggak setuju, yaudah. Namanya juga menurut gue. Hehehe. No offense pokoknya.

Menurut lo gimana? Atau ada lagi?

Sabtu, 04 April 2015

Cinta Monyet!

Standard
"Kecil-kecil kok buta"

Nggak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Rasa cinta selalu timbul dengan sendirinya, ada juga yang bilang rasa cinta muncul karena terbiasa.

Gue jadi ingat dulu sewaktu kecil, sewaktu masih SD, gue punya satu wanita yang gue cinta. Yap, mungkin terlalu dini kalau bilang namanya "cinta". Setiap hari gue merasakan hal yang mungkin nggak lazim oleh anak-anak seumuran delapan tahun rasakan; dada berdebar-debar, selalu menanti pagi hari, dan gue benci hari libur. Benci hari libur? Tentu, ini hal yang paling aneh. Anak kecil selalu haus akan bermain, tapi untuk gue saat itu, tidak. Gue rela kalau harus masuk sekolah seminggu full sekalipun. Dan belakangan gue baru sadar; kalau saat itu gue lagi jatuh cinta.

Setiap hari gue memandangi wanita itu, dan berbuat apapun hanya untuk satu tujuan; bisa berinteraksi dengan dia. Gue masih ingat betul ada satu hal kejadian terbodoh yang pernah gue lakukan ke dia. Kami pernah main polisi-polisian bersama. Saat itu, peran gue jadi polisi. Dan dia, jadi maling. Tentu dalam permainan ini banyak teman yang perannya jadi "maling", tapi sedari awal, yang gue kejar adalah dia, wanita itu. Gue mengejarnya tentu tidak seperti polisi biasa, gue menikmati adegan kami kejar-kejaran. Cara berlarinya, kecepatannya, sampai teriakannya pun gue ingat, sampai sekarang. Hingga akhirnya gue mencoba menarik lengannya dari belakang. Mungkin tarikan gue terlalu keras sampai-sampai dia terjatuh, berdarah,... dan benci sama gue.

Semenjak hari itu dia nggak mau ngomong sama gue lagi. Setiap kita bertemu, dia selalu memalingkan muka. Gue ngerasa bersalah. Rasa ingin sekolah setiap hari, berubah menjadi rasa ingin libur setiap hari. 

Saat itu, pada umur delapan tahun, gue mencintai wanita itu tentu tanpa alasan. Dia cantik? Enggak. Dia kaya? Juga enggak. Masih terlalu dini buat gue untuk tahu masalah cantik dan kaya. Yang gue tahu saat itu adalah; gue mau terus bersama dengan dia. Sesederhana itu.

Semakin ke sini, gue semakin dewasa. Gue juga tahu yang mana cantik dan yang mana kaya. Gue juga punya tipe pasangan idaman sendiri, yang akhirnya memperibet, dan bikin gue berpikiran; gue harus balik kayak dulu lagi, yang mencintai seseorang tanpa banyak mikir. Hanya sesederhana: gue mau terus bersama dia.

Raditya Dika pun lewat Cinta Brontosaurus mengatakan: "Ketika kita mencintai seseorang, kita harus kayak anak kecil, apa adanya. Nggak usah banyak mikir alasan. Hanya sesimple: aku sayang dia. Cukup."

Tentu gue setuju, sangat setuju. Sampai akhirnya gue tersadar, pada umur ini, pada detik ini, pada tulisan ini, kalau:

Untuk MENCINTAI seseorang memang harus seperti anak kecil, tapi untuk MENDAPATKAN CINTA seseorang, kita harus tau kita itu siapa.


Have a nice day, everyone.

Minggu, 04 Januari 2015

Alasan Kenapa Orang Ngetwit Mulu

Standard
Ada beberapa orang yang tiap gue buka Twitter, dia lagi dia lagi yang nongol. Mungkin yang ngalamin ini banyak. Dan kebanyakan orang, berpendapat solusinya adalah unfollow. Mungkin unfollow emang cara paling ampuh buat 'ngusir' orang yang nggak sesuai dengan kemauan kita. Tapi di sisi lain, sebenarnya kita butuh (mari kita namakan orang ini dengan:) 'orang aneh' di lingkungan kita. Buat apa? Buat supaya kita bisa ngomong: "Amit-amit! Jangan sampe gue kayak dia!", yang secara nggak langsung memberi sugesti ke otak, lalu menghindari hal yang dilakuinnya.

Keberadaan orang aneh sebenarnya sama seperti musuh. Mereka jangan dihindari, diliatin aja, tapi juga jangan dideketin. Karena apa? karena cuma musuh yang hobinya memperhatikan kekurangan kita. Itulah kenapa gue suka mikir mending punya musuh, daripada punya temen yang kalau kita salah malah diam aja. Dengan musuh ngata-ngatain kejelekan kita, kita jadi tau letak kejelekan kita di mana.

Sering banget gue ngeliat ungkapan seperti ini: "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", gue nggak setuju dengan kalimat ini. Walau bagaimanapun, lo ngetwit dari jempol, dan yang ngegerakin jempol itu otak. Kalau emang twit lo ngeres, berarti otak lo ngeres. Kalau emang twit lo bijak, berarti otak lo emang berpikir bijak. KECUALI, twitnya hasil copas. Karena sesungguhnya yang boleh ngomong "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", cuma admin detikcom. Karena emang nggak ada yang bisa dinilai juga dari timeline-nya.

So, your tweet say your personality, Guys!

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~


Setelah gue pahami lebih jauh, ada beberapa alasan kenapa orang kerjaannya ngetwit mulu:

1. Following sedikit
Nggak sepenuhnya kesalahan berasal dari dia. Bisa aja, penyebabnya gara-gara jumlah orang yang kamu follow emang sedikit. Mungkin di bawah lima puluh. Atau mungkin juga gara-gara abis stalking, lupa nutup. Ternyata emang timeline-nya dia.

2. Lagi kerja
Mungkin yang kamu follow adalah akun-akun yang fungsinya emang buat ngetwit terus. Misal, detikcom, adadiskon. Atau mungkin juga, dia ngetwit mulu gara-gara tuntutan pekerjaan. Contohnya: buzzer brand yang lagi kejar target. 

Kalau menurut gue, kalau emang tujuannya gara-gara pekerjaan, itu sah-sah aja. Namanya juga lagi nyari rejeki.

3. Lagi caper
Mungkin kita semua pernah ngerasain gimana rasanya orang yang kita suka, ada di hadapan kita. Iya, rasa-rasanya pengin banget nunjukkin kelebihan kita. Biar dia kagum. Dan cara nunjukkinnya itu yang beda-beda.

Nah! Kalau di timelinemu ada orang yang kerjaannya ngetwit terus, dan tweet-nya membahas tentang tata cara badan meteorologi dan geofisika memanggil awan kinton, bisa jadi dia lagi caper. Mungkin dia berpikiran kalau ngetwit adalah cara efektif buat menarik perhatian si gebetan. Apalagi bahan tweet-nya edukatif gitu ya kan.

Gapapa, kalau ngeliat, doain aja biar cepet dapet.

4. Lagi bayar nazar
Jangan salah, nazar orang nggak ada yang tau. Mungkin aja dia abis mendapatkan sesuatu. Dan nazarnya, dia bayar pake jumlah ngetwit. Makanya menuh-menuhin timeline..

5. Dia akun bot

Bakaaaaaar!

6. Kesepian
Banyak banget orang kayak gini. Tiap saat, dia ngetwit tentang segala hal yang dilakuin. Mulai dari hal yang nggak penting, sampai ke hal yang nggak penting banget. Mulai dari ngomongin orang, nyindir, ngeluhin kehidupan, curhat masalah pribadi, sampai ke ngoceh-ngoceh nggak keruan (yang ini biasanya aktivitas pribadi yang nggak penting). 

"Duh, mules" *sent 3 minute ago*
"Lagi buka celana nih." *sent 2 minute ago*
"Doain!" *sent 1 minute ago*
"Hape baru bener yeaay! Dasar closet sialan!" *1 month later*

Dan ekspresi kita begitu ngeliat tweet-nya:




Ketika kamu ada masalah, yang bakalan dilakuin pasti nyari orang terdekat (sahabat/orangtua) buat curhat. Nggak mungkin ke orang yang nggak dekat atau bahkan ke orang yang nggak dikenal. Dengan kamu 'bawel' di media sosial, itu kalau digambarkan ke kehidupan nyata sama aja ketika kamu punya masalah, kamu lari ke luar rumah, lalu nyetopin abang-abang penjual sayur yang lewat, "Tau nggak-tau nggak-tau nggak, gue mau ganti zodiak!"

Gue percaya dengan satu hal, semakin kamu 'bawel' di dunia maya, itu semakin menunjukkan kalau kamu kesepian di dunia nyata. Gue tau, tujuan mereka bawel di dunia maya itu satu; biar ditanggepin. Iya, ditanggepin, meski oleh orang yang nggak dekat dan nggak kenal. Dan yang menjadi penyebab utamanya adalah: karena nggak ada lagi orang yang bisa diajak berbagi. Dan followers Twitter-nya, adalah harapan satu-satunya.

Ollrait, Guys?

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~

Di timeline-mu, ada yang kayak gini juga? Ada komentar?

Sabtu, 27 Desember 2014

Kepada Orang yang Baru Punya Pacar

Standard
Seringkali kita ngeluh ke teman kita yang baru punya pacar. Kira-kira keluhannya seperti ini: “Giliran sendiri aja nyusahin, giliran punya pacar ngelupain.”, “Lagi berantem aja baru ke sini”, “Nggak nyangka ya umurnya secepat ini” (ini buat yang temennya baru jadian langsung dimutilasi)



Sebagai teman, orang yang baru punya pacar hendaklah kita ingatkan, bukan diam-diam kita perbincangkan. Kami, sebagai temanmu di sini, ingin mengingatkan kepada kamu yang baru punya pacar.

Kepada kamu yang baru punya pacar, seringkali kamu menghabiskan detik demi detik waktumu hanya untuk sang kekasih, tanpa celah. Mungkin menurutmu, terlalu berharga waktumu kalau harus dihabiskan untuk kami, temanmu. Bahkan pekerjaanmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memang setia, mungkin di atas level setia. Kami tau, kesetiaanmu pada kekasih sampai-sampai bisa melupakan idolamu, orang ganteng/cantik yang ada di sekelilingmu, lalu menganggap kekasihmu ialah satu-satunya makhluk yang pantas kamu puja.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memiliki penglihatan masa depan yang baik. Kamu bisa melihat di masa depan nanti kamu akan bahagia dengan kekasihmu. Tak khayal sering kami dengar ataupun lihat, kamu kerap mengucap kata-kata manis ataupun janji, terhadap pasanganmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, apapun pasti akan kamu lakukan, demi kekasihmu, tanpa malu dan ragu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, pacarmu adalah sesuatu yang teramat berharga menurutmu. Kamu kerap menunjukkan kepada dunia ‘luar’ kalau pacarmu adalah yang terbaik dari yang terbaik. Semua orang berhak tau kalau pacarmu sangat istimewa. Kamu memang pasangan paling bahagia, yang kami lihat dari media sosialmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami, temanmu, hanya ingin mengingatkan. Yang kamu lakukan semuanya adalah proses ‘pencarian sesuatu' terhadap kekasihmu. Ketika kamu menganggap orang yang baru mengisi hidupmu adalah jodohmu, belahan jiwamu, atau seseorang yang pantas jadi ibu atau ayah dari anak-anakmu, itu karena kamu sedang penasaran. Sekali lagi, penasaran.

Entah beberapa bulan setelahnya, setelah tak ada lagi yang kamu ‘cari’ pada kekasihmu, kami, temanmu, ingin bertanya, apakah kamu masih bisa melakukan semua ini?

Jangan terlalu cepat untuk menyimpulkan, kawan.

Perasaan ada, karena penasaran.

Minggu, 16 Maret 2014

Hal yang Patut Diperjuangkan

Standard
Di buku Manusia Setengah Salmon karya Raditya Dika, dia mengutarakan dari berbagai kejadian kalau esensi dari kehidupan adalah perpindahan. Apapun itu, mulai dari perpindahan rumah, sampai ke permasalahan paling kompleks di bumi ini, perpindahan hati. Gue sangat setuju sama statement beliau. Ya, esensi dari kehidupan memang perpindahan. Lengkapnya, perpindahan untuk menuju kebahagiaan.

Baru-baru ini gue sempet ngobrol cukup serius sama sahabat gue. Namanya, Rama (nama disamarkan) (suara juga disamarkan), dia sedikit berbagi keluh kesah dengan gue tentang kasus percintaannya dia. Mungkin kalau gue berada di posisi dia, gue juga akan sama persis dengan dia. Sama-sama bingung nanggepinnya gimana. Tapi, hal inilah yang mendasari gue buat bercerita di sini, ya mungkin aja ada yang pernah ngalamin, atau sedang mengalami kasus seperti ini. Jadi, kita bisa saling berbagi argumen.

Bisa dibilang, sahabat gue ini orang yang terlalu selektif dalam memilih pasangan. Beberapa wanita yang dia dekati, selalu mau sama dia. Selalu pengin jadi kekasih dia. Akan tetapi, ketika berada di proses PDKT, dan si gebetannya tersebut sudah mau sama dia, dia sering meninggalkan wanita tersebut dengan alasan, "nggak cocok" sontak gue bingung kenapa nggak cocok, dari dua (kalau dijumlahin, semua gebetannya kira-kira ada 10 lebih) gebetan sebelumnya (yang menurut gue cantik), gue tanya satu-persatu alasan kenapa dia bisa ninggalin wanita tersebut. 

Mulai dari cewek pertama. Cewek pertama, sebut aja namanya A, dia bertemu wanita ini di salah satu ajang turnamen basket di daerah Jakarta. Dia berkenalan, dekat, dan sempat beberapa kali jalan bareng ke sebuah pusat perbelanjaan. Mungkin menurut orang-orang, PDKT adalah hal yang pasti. Hal yang pasti untuk jadian ketika keduanya sudah saling berkomunikasi secara intense dan sudah sering menghabiskan waktu berdua. Tapi untuk dia, hal tersebut bukan berarti sudah diharuskan untuk jadian. Menurutnya, PDKT adalah proses pencocokan yang di mana, ketika sekiranya merasa tidak bagus untuk ke depannya dalam hal proses PDKT, lebih baik berhenti dari sekarang, daripada ketika sudah pacaran, lalu putus di tengah jalan. Dia mencoba untuk mengerti wanita tersebut, sampai akhirnya, dia merasakan kalau wanita tersebut tidak cocok untuk dia. Ya, wanita tersebut memiliki sifat kekanak-kanakan.

Ketika gue tanya, "Kenapa lo nggak mau sama dia? Bukannya cewek emang selalu punya sifat kekanak-kanakan?" Rama menjawab, "Memang, wanita selalu punya sifat kekanak-kanakan. Dan yang lo harus bedain, ada yang kekanak-kanakan dari sananya (memang sifat dasarnya), ada juga yang kekanak-kanakan yang dibuat-buat. Kalau kekanak-kanakan yang dari sananya, gue sangat menerima tipe wanita tersebut. Gue malah suka sama tipe cewek seperti itu, seriously. Tapi dia, kekanak-kanakannya dibuat-buat. Dia pengin keliatan imut di depan gue. Dan gue, nggak suka dengan caranya dia yang dibuat-buat. Gue geli." 

Dia pun ninggalin cewek tersebut.

Sekarang cewek yang kedua. Setelah dia menceritakan dengan panjang lebar ke gue, intinya, dia sebenarnya kenal sama wanita ini udah lama. Udah lama banget. Dan gue pernah ditunjukin fotonya sama dia, menurut gue, ceweknya ini cantik. Cantik, putih, behel, ya pokoknya begitulah. Anak Jakarta banget gayanya. Karena gue penasaran, gue tanya lagi, "Kenapa cewek secantik ini lo tinggalin?" dia menjelaskan cukup panjang lebar ke gue. Singkatnya, menurut informasi teman-temannya, wanita ini memang mempunyai perasaan yang sama dengan Rama. Dia sama-sama suka. Tapi sayangnya, Rama ngerasa kalau dia berjuang sendirian untuk mendapatkan hati si wanita tersebut. Sebenarnya, cinta itu simple, kalau kita suka, kejar. Jangan sesekali mengandalkan gengsi buat memiliki hati orang lain yang apalagi memang kalian suka. Meskipun ada ungkapan, "Aku kan ceweeek.." oke, masih bisa diterima. Mungkin salah satu cara selain mengejar adalah; menunjukkan. Dengan hanya menunjukkan, itu saja rasanya sudah cukup membantu kaum pria yang sedang memperjuangkan kalian. Bukan karena mengandalkan gengsi, lantas kalian berpikir, "Gue kan cewek. Kalau lo mau sama gue, ya kejar. Masa bodo. Ikutin cara main gue." no, big no. Tugas wanita memang menunggu pria, dan tugas pria memang mengejar wanita. Sudah ada peran masing-masing. Tapi, jangan pernah melupakan kalau selain menunggu, tugas wanita yang harus dilakukan adalah; menunjukkan.

Akhirnya, dia ninggalin cewek tersebut dengan alasan; "Gue ilfeel"

Hingga akhirnya, dia menemukan sesosok wanita yang selama ini dicari-cari oleh dia. Ya, namanya Mili (nama disamarkan) (suara juga). Sebelum dia bercerita panjang, terlebih dahulu gue dikasih liat fotonya. Dari sepenglihatan gue, Mili memiliki paras yang cantik, putih, manis, lucu, dan menurut gue emang perfect. Mungkin kalau gue kenal Mili, gue juga bakalan naksir berat sama dia. 

Lantas, gue coba tanya lagi, "Trus, kalau Mili? Apalagi masalahnya, Ram?"

Seketika gue speechless mendengar ceritanya. Rama bercerita, mulai awal dia kenal sama Mili, Mili bisa mengubah dia dalam hal segalanya. Mulai dari yang biasanya nggak pernah begadang, mendadak jadi sering begadang hanya untuk menemani Mili mengerjakan tugas. Mulai dari yang tadinya malas untuk bangun pagi, jadi rajin hanya karena nggak mau keduluan mengucapkan, "Selamat Pagiiiii". Sampai ke hal yang konyol seperti sengaja pulang tengah malam, naik motor, hanya untuk mendapatkan ucapan, "Hati-hati ya di jalan. Udah malem. Baca doa ya.." yang nggak pernah dia dapatkan sama sekali dari orang-orang sebelumnya. Ya, terkadang, hanya karena jatuh cinta seseorang bisa cepat berubah dengan drastis. Bisa melakukan hal-hal konyol yang bisa dibilang di luar akal sehat. Dan bisa juga membuat seseorang tersebut melakukan kegiatan yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Namun, rasa saling suka dan saling perhatian yang dijalankan oleh Rama dan Mili ternyata nggak cukup buat mereka bisa menyatu. Kenyataannya, Mili sudah terlebih dahulu dimiliki sama orang lain.

Sampai tahap ini, gue kaget. Gue bener-bener kaget. Kenapa Rama bisa ngedeketin cewek, dengan kondisi dia punya pacar. Dia pun menjelaskan ke gue cukup panjang tentang Mili. Awalnya, dia memang nggak berminat sama sekali untuk mengganggu hubungan orang. Sampai akhirnya dia tahu kalau Mili setia terhadap orang yang salah. Dia setia dengan seseorang yang jelas-jelas nggak bikin dia bahagia, bahkan tertekan. Tapi salutnya Rama, Mili bisa menutupi segala tekanan tersebut dengan segala sifat keceriaan yang dia miliki. Itu lah yang membangun pikiran Rama untuk meyakinkan Mili kalau dia nggak pantas dengan orang tersebut, dengan menjadikan dirinya sebagai pilihan Mili. Menurut Rama, Mili lebih cocok dibahagiakan daripada dikecewakan. Dan juga menurut Rama, Mili sebenarnya tertekan, namun, karena bingung harus berbuat apa, Mili pun mencoba setia. Tepatnya, kesetiaan yang salah. Walaupun tindakan Rama penuh dengan resiko, tapi yang sering diingat oleh Rama adalah, "Tidak ada kebahagiaan yang datang tanpa resiko" ya, sesimpel itu pikirnya. 

Gue coba liat chat Rama dengan Mili. Sontak gue kaget. Rama berubah dalam hal chat. Yang biasanya kalau chat cuek, berubah jadi perhatian. Super perhatian. Yang tadinya formatnya dewasa, berubah menjadi kekanak-kanakan. Tapi itu semua, Rama lakukan hanya untuk Mili. Ya, hal yang gue bilang bodoh tersebut ternyata Rama lakuin. Mili memang tipe wanita yang paling beda ditemuin Rama. Rama merasa, Mili benar-benar cocok untuk dia. Semua aspek yang selama ini Rama cari, ternyata semuanya melekat pada diri Mili. "Mili itu lucu, dia berhasil membuat gue selalu semangat, membuat gue selalu tertawa, membuat gue jadi mood buat ngapa-ngapain, dan yang paling gue suka dari Mili adalah; dia menunjukkan ketertarikannya sama gue. Dia nggak menuhankan gengsi. Dia apa adanya. Dia orang yang selama ini gue cari. Dia yang bisa mengembalikan rasa percaya diri gue setelah gue kehilangan orang yang gue sayangi sebelumnya. Ya, dia se-perfect itu di mata gue. Gue nggak akan rela melepaskan orang yang jelas-jelas patut diperjuangkan seperti dia (Mili). Orang yang jelas-jelas sangat bisa dan sangat sanggup buat gue bahagiain. Jadi, selama dia nggak bahagia sama pacarnya, gue bakalan tetap memperjuangkan dia. Apapun caranya." jelas Rama ke gue. Setelah mendengar perkataan tersebut, gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Gue cuma bisa berharap sahabat gue bisa jadian sama dia. Walaupun, pada akhirnya hanya Tuhan yang menentukan jalannya.

Namun, semua usaha dan niat Rama pupus ketika dia melihat beberapa hal yang membuatnya untuk mundur mengejar Mili. Ya, kemesraan di social media. Setelah melihat itu, Rama berpikir kalau pemikirannya selama ini salah. Mili ternyata (keliatannya) bahagia. Walaupun belum tau pasti hal tersebut kebahagiaan sesungguhnya atau semu, yang jelas, Rama mempunyai prinsip kalau sampai kapanpun nggak akan mau merusak hubungan seseorang yang sudah jelas-jelas kedua pihaknya saling bahagia. Apapun kenyataannya, itu bentuk pilihan dari Mili. Mili memilih untuk tetap sama dia. Dia yang awalnya Rama pikir nggak bisa bikin Mili bahagia. Walaupun kenyataan itu semua menyakitkan bagi Rama, tapi, Rama mencoba menerimanya sebagai konsekuensi dari tindakan yang telah dia lakukan. Ya, patah hati. Rama pun mundur. Sekarang, Rama hanya bisa berharap kalau suatu saat nanti, dia bisa menemukan Mili-Mili yang lain, yang bisa mengembalikan rasa kepercayadiriannya setelah dia kehilangan orang yang dia sayang sebelumnya.

Begitulah kisah sahabat gue. Gue pun terharu sebenarnya. Cuma, ya mau gimana, kalau keadaan sudah memaksa, nggak akan ada lagi yang bisa menolong. Kalau gue liat dari sisi Mili, dia pasti dilema untuk memilih di antara dengan Rama, atau dengan pacarnya yang sekarang. Karna kalau seandainya Mili memilih dengan Rama, kemungkinan dia akan menanggung beban moral. Di satu sisi dia bisa mengikuti kemauan hatinya (untuk memilih Rama), di sisi lain akan timbul rasa bersalah dari dalam dirinya. Tapi, dari kisah ini gue dapat pelajaran kalau, "Perjuangkanlah seseorang yang memang patut diperjuangkan, meski dipenuhi dengan berbagai resiko. Dan perlu diingat, dalam hal percintaan, hendaknya membahagiakan orang lain, bukan mencuri kebahagiaan orang lain."

Selasa, 11 Februari 2014

Makna di Balik Kehilangan

Standard
Baru-baru ini di Bogor ada event basket yang super seru, namanya DBL. Hari itu emang puncak acara dari acara tersebut, iya, final maksudnya. Pertandingan pertama yang bertanding adalah kaum putri, SMAN 2 Bogor versus SMAN 2 Cianjur, yang berakhir dengan kemenangan SMAN 2 Bogor. Di pertandingan pertama ini, gue sangat menikmati sekali jalannya pertandingan, masih belum ada beban pikiran. Sampai akhirnya pertandingan yang gue tunggu-tunggu, final cowok, akhirnya tiba. Sebelum final cowok dimulai, temen gue ada yang mau dateng. Gue yang dari awal masuk ke GOR duluan pun bersedia nalangin lima tiket dulu buat mereka, takut tiketnya abis. Karena sebelum entrance (ceremony awal yang nyebutin pemain inti) temen gue yang otw tadi udah dateng, akhirnya gue nitipin tiket yang udah gue beli tadi ke temen gue yang satu lagi (yang udah dateng lebih duluan), biar dia yang ngasihin ke temen gue lewat pintu keluar. Nah, di sini kampretnya, pas gue ngambil tiket di dompet, ngasih ke temen gue, dan pas masukin dompet ke saku celananya lagi gue nggak sadar kalau narok dompetnya nggak sepenuhnya masuk, jadi agak nongol. Jadi dengan nongolnya ini, kalau gue gerak dari bangku sedikiiit aja, pasti dompetnya jatoh ke belakang, dan jadi rejeki orang belakang. Walaupun sebenernya dompet gue lebih cocok dijadiin peci, daripada dijadiin sasaran tukang copet.

Gue nggak nuduh orang yang lagi duduk di belakang gue yang ngambil, cuma gue yakin aja kalo dia yang ngambil (lah ini mah nuduh namanya!), hal ini gue dapati karna dua alasan: yang pertama, gue emang dari awal masuk ke GOR nggak pernah pergi ke mana-mana. Dan yang kedua, setelah game dimulai, orang yang di belakang gue yang tadinya anak-anak cowok SMA, berubah jadi sekumpulan ibu-ibu bersuara cempreng nan keras yang tidak berkeprikupingan. Intermezo sedikit, menurut gue, ibu-ibu ini tadinya tukang panci di desa-desa yang kalo lagi jualan panci, promosinya nggak pake TOA, tapi langsung teriak dari atas bukit. Suaranya bener-bener keras, dan bikin gendang telinga gue jadi bocor alus. 

Tapi setelah ngeliat si ibu-ibu, gue langsung nyoba fokus lagi ke pertandingan. Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada bisikan yang seraya berkata, "Cek dompet! @satriaoo" gue pun ngikutin dengan ngeraba-raba saku celana gue. Dan pas gue raba.. JRENG!! Dompet gue nggak ada.

Awalnya gue nggak panik, biasa aja, gue masih meriksa-meriksa di tas kecil yang gue bawa. Tapi ternyata nggak nemu, gue langsung panik... but still cool. Gue nyoba nyari ke bawah-bawah bangku yang lebih rendah dari gue (karena gue duduk di satu tingkat sebelum kursi paling atas) tapi hasilnya nihil. Gue pun makin panik... but still cool. Gue nanya-nanya ke orang yang lagi duduk di bawah gue, kalau di bawah kaki mereka ada dompet yang jatoh atau enggak, tapi ternyata nggak ada. Oke lah, gue pasrah, ini pasti diambil sama anak-belakang-yang-tiba-tiba-berganti-jadi-ibu-ibu-cempreng tadi.

Gue jadi nggak fokus ke pertandingan, gue sibuk megang hape. Bukan, gue megang hape bukan buat ngabarin pacar. Gue megang hape buat ngetwit tentang hilangnya dompet gue, dan lagipula gue kan nggak punya cewek, jadi rasanya nggak mungkin.

Tweet yang gue post banyak yang nge-retweet, termasuk temen gue, @daraprayoga_ (anak basket ber-followers hampir 160 ribu yang nggak pernah digandrungi wanita. HAHAHA rasakan! Akhirnya gue bisa ngecengin di sini). Dari situ mention langsung banyak yang masuk, tapi anehnya, di saat gue lagi panik kayak gitu, masih ada aja (malah banyak) yang ngebecandain tweet gue dengan, "Dompetnya di hatiku bang, di hatiku. Ambil, Bang, ambil.." setan emang.

Gue udah bener-bener pasrah, masa bodo, dan gue fokus lagi buat nontonin pertandingan. Malah saking fokusnya, di malam itu gue malah ketawa-ketawa, livescore-in Smanda, dan neriakin temen gue anak Dua Bogor yang lagi mati-matian buat ngejar score, seakan saat itu nggak ada kejadian apa-apa. Malah gue sempet punya pikiran, "Ah, bodo amat deh masalah dompet, tinggal urus sendiri lagi aja nanti. Susah-susah amat." ya, se-instant itu pikiran gue waktu itu.

Sesampainya di rumah gue masih biasa aja, gue malah main PS, dan nonton TV. Pokoknya bener-bener seakan nggak ada kejadian apa-apa. Pas besoknya gue baru sadar, dan baru kepikiran gimana cara ngurus semua surat-surat yang ada di dompet gue. Hal yang pertama gue pikirin adalah e-ktp. Tanpa e-ktp, gue nggak akan bisa ngurus semua surat. Dan masalahnya, gue tinggal di wilayah Cibinong yang katanya kalau ngurus e-ktp itu susah. Pokoknya susahnya bagaikan penjelajah gurun yang lagi kehausan, yang nyari tukang pop es di tengah-tengah gurun pasir. Gue pun makin gelisah. Gue tiba-tiba kepikiran sampai ke hal yang di hari pertama nggak pernah terlintas sama sekali di otak gue, iya, kalau SIM A gue ilang, gue ke kampus bakalan naik apa. Sedangkan Senin ini gue udah mulai masuk kuliah. Kalau naik elang rasa-rasanya nggak mungkin. Gue kan gampang masuk angin.

Akhirnya di hari kedua gue jadi kepikiran terus. Saking kepikirannya, apa-apa jadi gak fokus, sikat gigi aja nggak sadar malah pake deodorant. Nyalain TV aja malah pake remote AC. Tapi abis itu gue mulai nyoba ikhlas dan mikir positif, mungkin aja semua kejadian yang gue alamin ada hikmahnya. Gue mulai nyoba refreshing dengan buka Twitter, tapi tiba-tiba pas gue liat tab mention, ternyata ada orang yang mention dan bilang, kalau dia baru aja nemuin dompet gue. Awalnya gue ngarep kalau dia wanita cantik yang kayak di FTV, minimal se-Kadek Devie, dan abis ketemuan kita jalan, trus pulangnya langsung jadian. Tapi ternyata bukan. Gue kecewa. Tapi tak apa lah, yang penting surat-surat di dompet gue udah bisa balik lagi ke tangan gue.

"Dompet ilang......."

Abis ketemuan di depan Giant Taman Yasmin, Bogor, gue langsung seneng sekaligus merenung. Ya, merenung kalau sebenarnya makna dari kehilangan semuanya sama, sama-sama bikin kita nyesel pada akhirnya. Betul, gue nyesel kenapa narok dompet di sakunya ngasal-ngasalan. Ini emang awalnya masalah dompet. Tapi kalau dipikirin, kehilangan dompet dengan kehilangan seseorang yang kita sayang, sebenarnya kasusnya sama. 

Ketika kita kehilangan orang yang kita sayang, efek awalnya mungkin sama kayak gue kehilangan dompet. Semua seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Mungkin tahap awal gue kehilangan dompet gue masih bisa ketawa-ketawa, bercanda, tapi ketika gue mulai masuk ke tahap selanjutnya, gue udah mulai merasa ada yang hilang. Gue mulai merasa hal sekecil apapun yang ada di dompet gue bener-bener berarti. Seperti misalnya di dompet gue ada sebuah tusukan yang fungsinya buat ngeluarin sim-card di iPad, ketika gue mau ngeganti sim-card, gue sangat menyayangkan kenapa benda sekecil itu bisa hilang. Awalnya emang masa bodo, tapi besoknya gue berpikir lagi kalau andai saja benda itu nggak ilang, pasti gue nggak akan ngeribetin orang-orang seisi rumah, buat nyari tusukan yang bisa dijadiin alternatif buat ngeluarin sim-card.

Sama halnya dengan ketika kita kehilangan orang yang berarti buat kita, tahap awalnya emang bakalan ada omongan, "Ah, ternyata jomblo enak juga.", "Ah, ternyata jalan sendirian enak-enak aja.", atau, "Ah, jomblo ternyata nggak sesuram yang orang-orang bilang." tapi ketika kita memasuki tahap selanjutnya, kita akan mulai merasakan kehilangan orang tersebut, dan cenderung memikirkan hal-hal kecil yang di tahap awal nggak pernah kita pikirkan sebelumnya, seperti, "Andai aja masih ada dia, pasti gue udah dibawelin nih gara-gara males makan kayak gini.", atau, "Andai aja masih ada dia, pasti gue udah diomelin nih kalau begadang kayak gini.", dan masih banyak hal-hal kecil yang lain.

Mungkin awalnya yang bisa kita lakukan ketika kehilangan adalah ikhlas, ya, hanya ikhlas dan berharap agar dia kembali. Namun, ketika sesuatu yang telah hilang tersebut dipertemukan kembali dengan kita, itu pertanda, pertanda kalau kita memang ditakdirkan untuk menjaganya dengan cara yang lebih baik lagi, jangan sampai dia hilang untuk yang kedua kalinya. Mungkin kehilangan pertama gue masih untung cuma ilang duitnya aja, tapi kalau sampai hilang untuk yang kedua kalinya, mungkin nggak cuma duitnya aja yang ilang, bisa jadi surat-suratnya juga ikutan ilang, dan dikembalikan dengan kondisi dompet + isi yang sebenernya nggak bener-bener kita butuhin. Misal, cuma e-ktp, sama struk tagihannya aja.

Untuk kasus hilangnya dompet gue, cara gue biar dia nggak hilang lagi mungkin gue harus punya dua dompet. Dompet pertama untuk uang dan alat pembayaran (buat ditarok di saku celana), dan satu lagi dompet untuk surat-surat penting (buat ditarok di dalam tas). Tapi dalam percintaan? Mungkin caranya dengan memperbaiki kesalahan yang pernah kita buat. Karena sesungguhnya, sesuatu yang penting untuk kita, dan dia hilang, pasti ada beberapa kesalahan yang pernah kita buat, walaupun terkadang nggak pernah kita sadari.

Ya mungkin dengan adanya Tragedi Hilang Dompet ini, gue jadi bisa lebih hati-hati. Lebih hati-hati buat ngejaga sesuatu yang emang berharga di kehidupan gue, bukan cuma dompet. Biar nggak akan ada lagi yang namanya kehilangan, yang berujung sebuah penyesalan.

Pernah kehilangan? Apa? Trus ngatasinnya gimana?