Senin, 03 November 2014

Oh, Begini Rasanya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir

Standard
"Aku mau nikah aja!" ucap Euis seraya mengalungkan cerurit ke leher orangtuanya. Perasaan Euis sama kayak kebanyakan cewek di luar sana. Awal masuk kuliah, mukanya keliatan bahagia. Nggak ketinggalan mereka update di semua media sosial, yang menunjukkan dia senang dengan statusnya sebagai mahasiswa. Tapi pas semester 5, dengan entengnya mereka bilang kepengin nikah. Emangnya nikah cuma modal salaman sama penghulu aja.



Belakangan ini gue ngerasain gimana rasanya jadi cewek. Kalau cewek udah ngeluh mau nikah pas di Semester 5, kalau gue sekarang, pas semester 7. Di sinilah letak perbedaannya. Kalau cewek ngomong "Aku mau nikah aja!", dia bisa bahagia dengan ucapannya, asalkan dia nikah dengan pria-kaya-penyakitan atau dengan pengusaha tua yang sebentar lagi akan tutup usia. Tapi kalau gue yang bilang "Aku mau nikah aja!", nanti anak-istri gue mau dikasih makan apa. Nggak mungkin kan tiap hari gue kasih serpihan besi-besi tua.

"Nak, tebak mamah hari ini masak apaaaa? Yak! Pager baladoooooooooo"

Gue juga pengen, ketika udah nggak kuat sama kuliah, tiba-tiba bertemu dengan janda-tua-kaya kalah taruhan, yang bersedia menikahi mahasiswa paruh-baya tampan adanya (((tampan adanya))). Lalu ketika malam pertama, gue penggal kepalanya.

Horeee, gue kaya raya...

Semester 7 benar-benar mengetes kejiwaan kita. Nggak, nggak kita, mungkin gue doang. Kalau semester-semester sebelumnya bisa leha-leha (eh apa cuma gue doang yang leha-leha?!), sekarang udah enggak. Urusannya udah banyak. Mulai dari tugas bikin laporan yang kayak skripsi, presentasi, kerja praktek, kerja beneran, dan seabreg kerjaan yang lainnya. Belum lagi ngeliat temen yang udah pada ngambil skripsi, rasa-rasanya kayak cuma kita yang ganteng, yang lainnya jelek. Nggak nyambung emang, bodo.


Karena jadwal emang lagi hectic banget, makanya banyak kerjaan sampingan gue jadi terlantar. Kayak buku, nge-blog, bahkan ngetwit (ini juga termasuk kerjaan). Buku yang dijadwalin September terbit aja, sampai sekarang belum terbit, dan masih berbentuk draft 1. Yang artinya, perlu berkali-kali revisi lagi untuk bisa terbit. Pffftttt... semoga gue sanggup ngelarin dan bukunya jadi terbit deh. 

Aminin dong aminin..

Jumat, 03 Oktober 2014

Misteri Model Bungkus Rokok

Standard
Menjadi orang terkenal keliatannya menyenangkan. Setiap ke suatu tempat, setiap bertemu dengan seseorang, sudah bukan hal aneh lagi orang tersebut mendapatkan senyuman, sapaan, bahkan permintaan untuk foto bersama. Gue sering ngebayangin gimana kehidupan sehari-harinya penyanyi cantik idaman semua pria, Raisa. Tiap selesai makan di warung, mungkin dia nggak perlu buka dompet. Tapi cukup mengibaskan rambut dengan tatapan sayu, jilat-jilat-gigit bibir bagian bawah, lalu bilang gini ke abang-abangnya, “Semuanyah berapah, mas?”

Kemudian gratis.

Hampir semua laki-laki menjadikan Raisa sebagai pacar imajiner. Hampir tiap minggu gue selalu menemukan foto Raisa di Path, yang dijadiin meme sama orang-orang. Nggak kebayang kalau dia pergi ke suatu tempat. Berapa orang yang minta foto bareng sama dia. Mungkin setiap merem, pas melek lagi udah ada orang lagi yang muncul sambil nenteng-nenteng kamera.

Untung waktu jadian, gue sempet foto bareng.

Romantis...

Kenangan terindah...

Mungkin semua orang sepaham kalau tiap artis, penyanyi, ataupun model, kalau ke mana-mana selalu dipandang ‘wah’ sama orang-orang. Tapi setelah gue pahami, apa orang yang jadi model di bungkus ini juga diperlakukan sama dengan yang lain?


Di mana-mana setiap gue pergi, gue selalu nemuin foto orang ini di bungkus-bungkus rokok ternama. Mungkin hal ini merupakan hal yang baru di kancah industri kreatif. Di saat Raisa mengawali karirnya dari panggung ke panggung, Raditya Dika mengawali karirnya dari tulisan ke tulisan, dan orang ini, mengawali karirnya dari bungkus ke bungkus. Yang parahnya lagi, dia tampil dengan image sebagai penghilang nafsu ngerokok. Bayangin, penghilang nafsu ngerokok. Musuhnya para perokok.

Lantas muncul pertanyaan dalam diri gue: siapakah orang di model ini? Siapakah orang yang tega ngebohongin dia sampai mau ada di bungkus rokok seperti ini?

Kalau dibayangin, mungkin sebelum dijadiin model bungkus rokok, terjadi percakapan seperti ini antara dia dengan agensi iklan rokok.

“Mas, mau jadi model saya, nggak?”

“WAH! Mau mas! MAU! Tapi model buat apa ya?”

“Buat nakutin orang,”

Jadi model bungkus rokok emang nggak ada yang salah, tapi kalau tujuannya buat nakut-nakutin orang, kebayang nggak sih kehidupan sehari-harinya gimana. Kita tau sendiri perokok di Indonesia banyaknya minta ampun. Semua kalangan rata-rata ngerokok. Mulai dari pelajar, sampai preman. Dan dia, muncul sebagai penghalang buat ngerokok. Kan kalau dibayangin kasian. Di saat model-model lain kalau jalan dimintain foto, "KAKKK! Kakak yang di iklan ini kan, ya?! Aaaaak! Foto bareng dooong!" kalau dia malah diteriakin, "OH! JADI ELO PENGHILANG NAFSU NGEROKOK GUE?!", atau, "DASAR BAJINGAN!!!", atau mungkin yang lebih parahnya lagi, setiap dia lewat perkampungan, dianya digebukin preman gara-gara emosinya nggak bisa ditahan lagi.

Setelah gue cari info tentang siapa dia, asalnya dari mana, nggak ketemu. Mungkin dia diisolasi pabrik rokok, biar nggak dimutilasi masyarakat.

Tapi pas tadi gue iseng-iseng searching di internet, gue baru tau kalau dia ini model iklan Djarum 76 yang terbaru.

Nih videonya:



Entah di iklan ini beneran dia atau bukan, yang jelas, gue yakin hidupnya nggak tenang kalau lewat pemukiman warga dan warung-warung tongkrongan anak STM.

Ada yang tau dia siapa, nggak? Gue penasaran...

Jumat, 12 September 2014

Tiwi, Jangan Bete!

Standard


Social media adalah salah satu wadah untuk memperbanyak teman. Mau kita kenal atau enggak, yang penting add dulu, siapa tau aja nantinya bisa lebih dari teman. Pertama kali gue berkecimpung di dunia socmed, socmed yang gue mainin adalah Friendster. Dulu zamannya Friendster, orang-orang masih terjerat dengan rezim alaynisme. Gue inget banget, pas zamannya Friendster, alay-alay saling menunjukkan bakat kealayan mereka masing-masing. Dikasih nama bagus-bagus orangtua "Wahyu Kartadi", malah masang nama "Mbonz". Hahahaha alay! Termasuk gue.

Makin ke sini muncul lagi socmed baru, namanya Facebook. Di Facebook, alay-alay perlahan memudar. Yang tadinya di Friendster pake nama samaran, di Facebook jadi pake nama asli, dan lengkap.

Pas ada Facebook, gue jadi rajin online. Temen SMA gue suka pamer kalau temen di Facebook-nya berjumlah ribuan. Dan saat itu, gue cuma empat puluh lima. Empat puluh temen sekelas, limanya lagi keluarga gue. Itu juga akun nyokap, gue yang megang.

Gue jadi terpacu buat banyakin temen di Facebook. Setiap ketemu temen, pertama kali yang gue tanyain Facebook. Setiap ketemu kenalan baru, yang gue tanyain Facebook. Bahkan, pas gue ngeliat tulisan nama orang di tembok kamar mandi sekolah aja, temboknya langsung gue coret, "Nama lo nggak penting! Facebook! Facebook lo apa?!".

Singkatnya, Friends gue mencapai ribuan. Baik yang dikenal, ataupun enggak.

Tadi pagi sehabis kuliah, gue iseng ke perpustakaan buat internetan. Buka Facebook. Di sana internetnya kenceng banget. Lagipula, udah lama juga gue nggak pernah buka Facebook.

Gue scroll newsfeed sampai bawah. Terus nge-scroll. Dan teruuuss sekiranya telunjuk gue udah muter 7 kali. Suatu ketika, gue ngeliat orang ini di Facebook.


Jeng jeng jeng!

Astaghfirullah! Tiwi?! Kamu kenapa?!

Dada gue langsung berdegup dengan kencang. Lidah membeku. Keringat dahi mengucur deras. Gue sontak memikirkan keadaan Tiwi. "TIWI! KAMU KENAPA?! BETE?! BETE KENAPA?!" 

Gue mondar-mandir nggak karuan. Gue mencoba menghubungi nomor darurat 911. Belakangan baru sadar, handphone gue ketinggalan di kelas. Gue bergegas berlari menuju kelas yang berada di lantai 7. Sialnya, lift kampus sedang dalam perbaikan. Mau nggak mau, gue harus menaikki anak tangga. Ya, semuanya demi Tiwi. Gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Gue nggak mau Tiwi bete tanpa alasan yang jelas. Gue nggak mau Tiwi menyendiri di sudut ruangan, sambil membuat lingkaran besar-lingkaran kecil di lantai dapur rumah tetangganya.

"Halo, Mas. Apa benar ini nomor darurat?!" tanya gue dengan nada suara yang tak beraturan.
"Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu, Mas?" jawab seseorang dengan nada suara kebapakkan.
"TIWI DI MANA?! TIWI KENAPA?! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN TIWI?! TIWI MANA MAS?! TIWI MANA?????!"
*tut tut tut* 

Koneksi telepon mendadak terputus. Gue makin panik. Jangan-jangan Tiwi tau apa yang gue perbuat, lalu nyamperin mas-mas darurat-nya, memotong kabel teleponnya, kemudian melilitkan potongan kabel tersebut hingga akhirnya si mas-mas darurat tewas seketika.

Gue bergegas kembali membuka profile Tiwi. Hanya ini yang bisa gue lakukan. Ya, menginvestigasi sendirian. 

Dan sesaat kemudian, gue menemukan statusnya.


Apah?! Berantem?! OH! Jadi Tiwi bete karena berantem?! Siapa yang berantem, Tiw?! SIAPA??!

Gue makin penasaran dan melanjutkan investigasi. Meskipun nggak kenal, gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Ingat, satu teman Facebook sangat berharga buat gue. Sungguh. Gue nggak mau kehilangan Tiwi.

Sesaat kemudian, gue menemukan bukti yang terbaru seputar misteri betenya Tiwi...


ASTAGA! Maaf?! Kamu salah apa, Tiw?! Kamu nggak salah! Aku yang salah! Lantas, Andre itu siapa?! Dia yang bikin kamu bete??! IYA???!

Darah gue perlahan mulai naik. Gue nggak terima Tiwi diperlakukan sampai bete. Gue nggak tega ngeliat cewek dikecewakan oleh laki-laki. Kalau sampai Andre pelakunya, gue bersumpah di atas nasi uduk yang telah ditaburi bawang goreng, gue akan mencari orang yang bernama Andre!

Misteri betenya Tiwi bagaikan teka-teki yang harus gue pecahkan. Kalau sampai enggak, orang yang pertama kali menyesal adalah gue. Gue nggak mau besok-besok Tiwi sampai ganti nama menjadi: Tiwi Bete Mau Mati Aja atau Tiwi Lelah Dengan Kehidupan Ini Mati Aaah.

Gue tetap meneruskan investigasi. Hingga akhirnya, menemukan ini...



DUAR!

Ternyata Tiwi sedang dilanda kegalauan yang maksimal. Dia didekati oleh banyak pria. Dimas Ekonomi, Dimas Hukum, Anggara, beserta 7 pria lain yang tidak disebuti namanya. Menurut hemat saya, semua pria ini mendadak mengatakan cinta kepada Tiwi. Karena bingung, Tiwi pun bete.

Gue mencoba care sama Tiwi dengan menanyakan ada apa dengan dirinya. Tapi apa daya, comment gue nggak berbalas. Gue mulai pasrah. Mau ngehubungin mas-mas darurat, tapi dia udah tewas. Gue jadi sadar kalau hidup memang keras. Hari ini benar-benar hari terpahit sepanjang perjalanan hidup gue.

Tapi gue nggak boleh nyerah. Nyerah tanda kalah. Kalah tanda tak menang. Tak menang tanda kalah. Gue harus meneruskan investigasi ini sampai titik darah penghabisan.

Dan akhirnya, setelah menghabiskan berliter-liter keringat bercampur airmata, gue menemukan jawabannya.


Ternyata, penyebab betenya Tiwi adalah Dimas dan Andre. Kini, Tiwi memilih untuk sendiri daripada harus memilih di antara keduanya. Mungkin dia berpikiran kalau lebih baik nggak dengan siapa-siapa tapi tenang, daripada dengan salah satunya, tapi ujung-ujungnya nggak tenang gara-gara diganggu oleh pihak yang lain.

Ummm... Tiwi, aku terharu. Kamu keren. Aku juga.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah mengharukan Tiwi. Ya gue pribadi semoga aja, Tiwi lekas menemukan belahan jiwa yang terbarunya, lalu mengganti namanya menjadi Tiwi Bahagia.

Tiwi, kamu pasti bisa. Cheers.

Senin, 26 Mei 2014

Apa Itu Tongsis?

Standard
Apa itu tongsis? Sesuatu yang keluar dari sela-sela mulut? Jelas bukan, itu tonggos. Hari ini gue bingung mendeskripsikan benda ini ketika ditanya sama kenalan baru gue di Malaysia. Awal kejadiannya, gue baru nyampe di Malaysia tadi siang pukul 13.00 (di Malaysia pukul 14.00). Karena bokap sibuk kuliah, gue memutuskan buat jalan-jalan sendirian, SENDIRIAN, ke Menara Kembar. Ya, namanya Menara Kembar, menara yang hingga kini gue belum tau pasti yang lahir duluan itu bangunan kanan, apa bangunan kiri. Apa jangan-jangan mereka bukan kembar? Apa jangan-jangan mereka sengaja ditukar? Entahlah. Hanya Nikita Willy yang tau.

Menara aja gandengan ya..

Dari awal nyampe Menara Kembar, gue udah nenteng-nenteng tongsis dari seberang jalan. Dari kejauhan, gue ngeliat tiga cewek. Mereka lagi asik foto-foto. Karena ada yang mukanya lucu -dan mumpung gue belum ada yang punya-, gue pergi ke dekat mereka dengan niat foto-foto di depan Menara Kembar, pake tongsis. Gue pun foto. Dan ternyata mereka ngeliatin. Ngeliatinnya sambil malu-malu. Dan sesekali mereka juga kepergok motoin gue diem-diem. Mereka pengin nyamperin gue, tapi kayaknya nggak ada yang berani. Akhirnya gue samperin.

"Hello, you guys are cute. Where do u come from?" tanya gue senyum, dengan tingkat ke-cool-an maksimal. 
"Haiiiiii," mereka nyengir kesenengan gegara gue samperin, "We came from China. Hik. Hik. Hik." yang baju belang langsung ngedeket. Gue makin kegeeran. Gue makin merasa cool. 
"Ow, China," kata gue. 
"Umm, btw, i looked you use that thing, and it's so unique. What is it? hihihik. hihihik" cewek yang paling unyu, baju belang, nanya sambil nyengir-nyengir. Gaya ngomongnya ngegemesin.
"Ha? Umm, gimana ngejelasinnya ya, umm, in Indonesia, it called 'Tongsis'" gue nyoba jelasin.
"Thong-shis? What is that?" cewek berambut pendek tiba-tiba nyaut. Padahal awalnya dia salting. 
"Haduuuuuuuh, apa ya," gue mulai bingung. "Something like... like.. i can't describe in english, but, Indonesian people called it tongsis. Hehek."
"Ow, hahaha. This is my first time to see it. And it's really unique. Hahaha." si rambut pendek tertawa kecil, matanya segaris. "Yea, when we saw you brought it, we immediately liked. In my country, there is nothing. Hahaha" sambung si baju belang.

Sial, ternyata mereka dari awal bukan ngeliatin gue. Ngeliatin tongsis.

"Hahahaha kampret..." kata gue. Untung mereka nggak ngerti. "Eiya, what is ur name?"
"Umm, my name is pwen xajskxsjxbasxs" kata baju belang. "My name is xwen asndkasnbcjas" kata rambut pendek. "My name is hbckdscds cbhjcdshj" kata yang satunya lagi.

Jujur, gue nggak tau mereka ngomong apaan. Namanya susah dicerna. Apalagi yang terakhir.

"And you, what is ur name?" kata si baju belang. 
"Me? Satria." jawab gue.
"Hah? Sahriah?" tanya si belang. 
"No... no Sahriah, but Satria." gue nyoba jelasin.
"Syariah?"
"SAT! You can call me 'SAT''. S-A-T!" ucap gue sambil nyari balok kayu.
"Oooh, Sat," akhirnya dia ngerti. "Umm, Sat, may i borrow it to take the photo? Hahaha, i wanna nyobain (gue lupa dia ngomong apa, intinya mau nyobain)" ucap si belang. Ngomongnya salah tingkah.
"Ooh, of course," gue mengiyakan.
Dia pun langsung ngasih kamera-kayak-polaroid-nya ke gue. 
"Put your camera here," kata gue sambil nunjukin letak yang biasanya ditarok hape. Si belang langsung sigap narok kameranya di situ, tapi nggak masuk. Dan gue baru sadar kalau tongsis cuma bisa buat hape.
"Astaga, i'm sorry, i just remembered that tongsis is only can used by iPhone,"
"Hah? Really?" semuanya masang muka kecewa. "Umm, it's okay, but, let me take your photo, and you, you use that thing. Then, i will take the photo. Hihihihi" Dia nyengir. Temennya juga nyengir. Gue serasa lagi dipalak sama encik-encik DVD. "I wanna tell my friends about this. Hihihihi" sambungnya.

Dia bilang mau moto gue, tapi dengan gaya gue yang lagi foto sambil pake tongsis. Buat dipamerin ke temen-temen di negaranya, katanya. Astaga, di China foto gue bakalan disebar. Gue bakalan tenar. Foto gue akan bertebaran di mading-mading sekolahan. 

"Hah? O-oke"

Setelah kemauannya gue turutin, mereka senang.... Gue sedih. Malu. Tapi wajah mereka berseri-seri seolah rakyat dehidrasi yang berkata, "Ya Tuhaaaaaan, terima kasih. Terima kasih telah memberikan sumber mata air ini". Karna udah kelaperan, gue memutuskan buat masuk ke Menara Kembar. Beli makanan. Tapi sebelum masuk, gue mikir kayaknya sayang kalau nggak foto bareng. Setidaknya kan kalau mereka beneran nyebar foto gue, gue juga bisa nyebarin foto mereka di bawah-bawah fly over.

"Umm, before i go, would u guys to take a photo with me?"
"Waaaaah, of course! But, use thong-shis ya," kata mereka sambil nunjuk-nunjuk tongsis. Lagi-lagi yang baju belang yang paling semangat.

"One... Two... THREE!" saut beberapa bule yang lagi ngeliatin kita foto-foto. Mereka keliatannya juga baru pertama kali ngeliat tongsis. Gue dikerubungin. Kayak korban kecelakaan.

Gue pun foto. Dan nggak cuma foto, gue video-in sekalian. Tadinya niatnya diem-diem biar kayak Selfie With Stranger, eeh, malah ketawan.

"Wah, ada tongkat ajaib. Bisa manjang sendiri."
Bonus foto Andrew Garfield. Semoga pada nggak mual.
Dan ini video-nya: klik.

Ternyata bener. Kalau orang udah (keliatan) tertarik sama kita, kalau kita respon balik, pasti ujungnya enak. Coba kalau seandainya gue gengsi. Pasti ujungnya nggak akan gini.

Jumat, 11 April 2014

Tragedi Ujian Nasional

Standard
Sebentar lagi ujian nasional. Kalau mendengar kata ujian nasional, gue jadi bernostalgia ke zaman di mana ketika gue ngalamin hal ini. Mulai dari berangkat pagi-pulang sore buat belajar, sampai rumah belajar lagi sampai tengah malam, kalau mau ke mana-mana selalu megang buku, kalau mau ke luar rumah selalu takut karna udah mau UN. Tapi untungnya, semua hal yang barusan gue sebutin bukan gue yang ngelakuin, tapi temen-temen gue. Gue mana pernah ngelakuin hal kayak gitu. Menurut gue, belajar dengan pola seperti itu nggak baik buat otak manusia, bikin lelah. 

Gue sendiri punya pola belajar yang cukup santai setiap mau ujian. Asumsikan dari 24 jam gue tidur 7 jam, masih sisa 17 jam. Buat mandi, makan, ngusirin semut, totalnya lima jam, masih sisa duabelas jam. Naaah, gue belajar cukup empat jam aja, delapan jamnya lagi main PS. Itu juga dalam empat jam gue belajar, gue suka ketiduran dua jam, ditambah satu jamnya lagi gue suka bantuin nyokap ngangkatin jemuran. Kadang, jemuran tetangga juga suka gue angkat-angkatin. Jadinya, cuma satu jam. Tapi itu cukup kok. Asalkan bener-bener fokus dan masuk ke otak aja.

Tentunya, itu semua hanya gambaran kalau belajar secara over itu nggak baik. Otak manusia kalau terus-terusan dipaksa, otomatis akan jenuh. Dan kalau udah jenuh, apa yang dipelajari nggak akan ada yang masuk. Nge-blank. Maka dari itu, biar nggak jenuh, otak kita butuh yang namanya refreshing. Bentuk refreshing gue sih simple, kalau gak main basket, ya main PS. Bahkan, ngeliat tukang angkot kena tilang aja bagi gue udah refreshing. So, luangkanlah waktu untuk refreshing sesaat. Refreshing bukan berarti harus jalan-jalan, ngabisin duit, bikin kerusuhan, jadi dalang orasi, bukan. Tertawa semenit-duamenit juga salah satu bentuk refreshing kok.


Menjelang UN, biasanya selalu ada fenomena unik yang kerap bermunculan. Mulai dari bio Twitter yang isinya "LULUS UN 2014!", sampai ke status social media yang isinya "Allahuma yassir wala tu'assir". Gue sendiri punya pengalaman yang cukup pahit ketika gue menjalankan ujian nasional. Semua itu bermula ketika gue minta contekan dari sekolah lain. Kampret! Sial banget. Awalnya, gue nggak mau minta jawaban tersebut, tapi, gara-gara temen gue pada bilang, "Mau gak lu, Sat? Lumayan tau, buat nyocokin jawaban," yaudah, gue jadi kepengin juga. Ya kalau dipikir-pikir emang lumayan sih, buat jaga-jaga kalau seandainya nggak bisa. Lagipula, contekannya dari SMA yang terpercaya gitu deh. Makanya gue manggut-manggut aja.

Hari itu, tepatnya hari Selasa, pukul empat pagi, gue udah siap-siap buat berangkat ke sekolah. Tepat pukul lima, tiba-tiba hp gue berdering. Pas diliat, isinya pesan singkat yang isinya jawaban UN dari sekolah yang gue minta tersebut. Setelah mengetahui hal itu, dengan pedenya gue langsung nyalin semua jawaban tersebut, ke kertas kecil. Karena sebelumnya beredar kabar kalau sebelum masuk akan ada pemeriksaan, gue pun berinisiatif masukin kertas yang tadi ke sela-sela ikat pinggang. Kan nggak mungkin dia buka-buka ikat pinggang gue, menang banyak dia. 

Sesampainya di kelas, gue lega. Ternyata nggak ada pemeriksaan. Dan gue inget banget kalau hari itu pelajarannya Biologi. Pelajaran yang paling males buat gue pelajarin. Apalagi bab makhluk hidup yang disuruh ngapalin jenis ordo-nya lah, famili-nya lah, keponakannya lah, tetangganya lah, kalau bab Reproduksi sih nggak masalah. Udah hatam. Lagipula, buat apa coba harus dihapalin, emangnya kalau gue mau beli beras, gue harus bilang, "Beliiiiik.. Ibukkk.. Saya mau beli Oryza Sativa dong! Yang ordo-nya Poales, Famili-nya Poaceae, dan divisi-nya Magnoliophyta ya!" gue jamin kalau gue ngomong kayak gitu, besoknya yang jaga warung bakalan resign dari penjaga warung. Pada nyerah.

Seperti biasa, awal-awal ngerjain soal emang selalu lancar tanpa halangan, tingkat kesulitannya masih mudah. Akan tetapi, sesampainya nomor pertengahan, 18 ke atas, gue mulai bingung ngerjainnya kayak gimana. Gue nyoba ngeliatin sekeliling gue. Gue berharap ada yang nengok ke arah gue. Tapi ternyata nggak ada satu pun yang nengok. Mungkin mereka mual. Semua keliatan asik menatap soal. Entah asik, atau nggak bisa, gue nggak tau persis. Yang jelas, saat itu gue udah nyerah buat ngerjain soal. Gue udah nggak bisa lagi. Gue cuma bisa ngerjain 16 soal dari 40 soal. Dari situ gue baru inget kalau gue punya jawaban. Ah iya, gue kan ada jawaban! Gue pun buka pelan-pelan ikat pinggang gue. Gue ambil kertasnya, lalu, gue selipin ke sapu tangan gue. Pertama-tama gue cocokin jawaban yang udah gue jawab, ternyata sesuai, gue pun makin pede buat ngejawab nomor-nomor selanjutnya. Satu nomor, dua nomor, hingga lima nomor gue kerjain. "Wah, bisa keluar kelas cepet nih" pikir gue saat itu. Tiba-tiba, nggak ada angin nggak ada ujan, gue bersin, 'HATCHIIIIIIIIM!"

Contekan gue jatoh ke lantai.

Temen gue ngeliat, dia panik, gue lebih panik, semuanya panik. Dengan cepat gue ngambil contekan tadi. Awalnya, gue cukup tenang karna pengawasnya nggak engeh kalau contekan gue jatoh ke lantai. Tapi memang, sehabis bersin, suasana kelas jadi mendadak hening, IYALAH NAMANYA JUGA LAGI UN, eh maksudnya, heningnya beda, pandangan semua orang tertuju ke arah gue. Setelah itu gue langsung pura-pura ngambil penghapus. Belakangan baru sadar kalau gue nggak punya penghapus. Untungnya, pengawasnya nggak ngeliat apa yang gue ambil. Yaudah, abis itu gue masukin lagi kertasnya ke sapu tangan.

Here's the problem started.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba pengawas yang berprawakan tua, berhijab, dan bermuka Brimob jalan ke belakang kelas. Ke belakang barisan gue tepatnya. Berjalan cukup cepat, kedua tangan berpegangan di belakang pinggang, pandangan ke lantai, itu semua dia lakuin sehabis tragedi bersin tersebut. Di situ, gue masih belum curiga sama gerak-geriknya. Gue tetap menatap soal dengan posisi sapu tangan terlipat segiempat di sebelah kanan lembar jawaban gue. Lalu, tiba-tiba......... *drum roll* secara mengagetkan dia mengambil sapu tangan gue! Mengguncangkan sapu tangan gue! Dan menjatuhkan jawaban gue! 

"INI APA?! JAWAB!" bentak dia sambil megang kertas.

Sekelas langsung diem, gue diem, Limbad diem.

"INI APA???!" bentak dia lagi.

Gue cuma bisa diem, keringet dingin... but stil cool.

"SAYA CATAT KAMU!" bentak dia lagi sambil berjalan ke depan kelas.

Setelah dia ngomong gitu, gue makin panik. Dan lagi-lagi gue hanya bisa diam elegant. Untungnya, lembar jawaban gue nggak dirobek atau diapa-apain. Cuma contekannya aja yang diambil, sebagai barang bukti katanya. Ya Tuhaaaan, kunfayakun, apapun yang terjadi, terjadilah. Saya pasrah. Saya pasrah kalau nggak lulus gara-gara si Setan Maghrib ini. Pikir gue setelah kejadian itu.

20 menit kemudian, bel berbunyi. Gue yang hanya mengerjakan 24 nomor (yang pasti benar) hanya bisa pasrah. Sisanya, 16 nomor lagi, gue isi secara asal gara-gara udah nggak fokus lagi.

"Bu, jangan dicatet dong. Ehehe," gue nyamperin si ibu ke depan kelas, nyengir. Nyengir stress tepatnya.

"DAPET DARI MANA KAMU?!" bentak dia lagi. 

Karena sebelum ujian gue sempet ngeliat papan daftar pengawas, alhasil, gue jadi tau si ibu ini asalnya dari mana.

"Dari... dari SMA [SMA asal si ibu], bu. Ehehe,"
Mendengar jawaban gue, dia diem, gue lebih diem, Limbad juga tetep diem. Dia pun diam tanpa kata, lalu meninggalkan kelas. Astagaaa, untung gue tau dia pengawas dari SMA mana! gumam gue setelah dia pergi.

Setelah itu, gue langsung dipanggil sama guru-guru sekolah. Dan yang bikin gue tenang, guru-guru gue langsung ngumpul, lalu bilang, "Udaah, tenang ajaaa, nggak usah dipikirin, nggak akan dilaporin kok,"

Gue lega..

Semenjak kejadian itu gue jadi trauma kalau mau nyontek. Kadang, kalau mau nyontek, gue harus geladiresik dulu dari sehari sebelum ulangannya. Kadang, juga minta izin dulu sama pengawasnya.

Tapi, dari postingan ini gue punya sedikit pesan; setiap ujian jangan dibiasain nyontek. Nilai nggak akan ada artinya kalau kita sendiri nggak ada ilmunya. Dan di masa depan, yang berbicara adalah kemampuan, bukan nilai. Kalau udah dibiasain nyontek, sampai kapanpun kebiasaannya nggak akan hilang. Lagipula pas di alam kubur nanti, pas Malaikat nanya, "Siapa Tuhanmu?! Apa Agamamu?!" nggak akan ada lagi waktu untuk kita buat nanya-nanya ke kuburan sebelah. Apalagi Googling.

Buat yang mau UN, good luck!

Note: Jangan nyontek..... kecuali sama yang pinter. Btw, buat yang belum baca postingan tips ujian ala gue, bisa dibaca di sini. ^^