Senin, 17 November 2014

Ngomongin Film: Hantu Juga Selfie

Standard
Sekian lama nggak ngikutin perfilman Indonesia, kali ini gue kembali dibikin shock. Kemarin, pas gue mau nonton, dari kejauhan terlihat poster cukup besar yang dipajang di depan mbak-mbak penjual tiket. Berambut panjang, berbaju putih, serta lumuran darah yang ada di sekitarnya bikin gue penasaran buat ngedeketin posternya. Gue pengin nonton. Udah lama nggak nonton film horror. Tapi, begitu udah dekat, GLEG.

Gue mundur perlahan. Moonwalk sampe ke parkiran.

Kacau, ternyata judulnya Hantu Juga Selfie dengan gambar hantu yang lagi nyengir sambil megang hape.

Yang ada di bayangan gue pas ngeliat posternya dari dekat, gila, ini hantu modern banget. Udah mati aja masih sempet-sempetnya mikirin duniawi. Entah gimana jalan ceritanya. Tapi pas gue liat trailer-nya, hantunya selalu muncul kalau ada orang yang lagi selfie. Kacaaaau. Entah apalagi cerita yang ada di dalamnya, yang jelas, kalau pak ustad mau nangkep ini setan, keliatannya nggak keren banget. Masa yang biasanya kalau nangkep kayak orang lagi berantem sambil komat-kamit, jadi ngeluarin hape, trus selfie.

"Pak ustad, setannya mana nih?"
"Bentar, saya selfie dulu,"

Entah apa penyebab matinya ini setan. Yang jelas, gue nggak ada penasaran-penasarannya sama sekali. Semoga, ke depannya nggak ada film horror yang trendy lagi. Misal, Hantu Kepencet Favorite, hantu yang lagi stalking, taunya kepencet favorite, lalu tewas gara-gara panik. Atau juga, Hantu Juga Pengin Di-ask. Hantu yang meninggal, gara-gara shock Ask.Fm-nya nggak ada yang nge-ask.

Kadang gue mikir, apa ya perasaannya setan di neraka sana, ketika mereka tau nama baiknya tercoreng oleh manusia. Dari yang kesannya serem (kayak film-film zamannya Suzanna), sampai ke sekarang, yang kesannya nggak ada serem-seremnya sama sekali.

Entahlah, segitu dulu. Semoga gue nggak diomelin yang bikin film. Entar kalau ada film yang aneh lagi, tenang aja, pasti gue omongin. 


See you again..

Rabu, 12 November 2014

#AsalUsulAsal "Baper"

Standard
Alkisah hiduplah seorang wanita muda di negeri antah-berantah. Dia dikenal sebagai kembang kerajaan di sana. Dengan sepatu kacanya, dia menapakki sepetak demi sepetak pemukiman warga. Tak heran, semua lelaki melongok-kagum memerhatikan paras wajahnya. Beliau kerap disapa Princess. Princess Komariah.

Princess Komariah ialah sesosok putri raja yang amat cantik, juga amat sederhana. Meskipun dia putri raja, tak ada sedikit pun pengawal kerajaan yang mendampinginya. Wanita yang memiliki hobi blusukan ini, kerap disapa penduduknya, apabila dia sedang berjalan-jalan di pemukiman rakyatnya.

“Mbak Perincess Komariaaah, aku mau selpi dong sama mbake,” sapa gadis desa berkemben yang bertuliskan "Punk Not Dead", seraya mengambil kaca di dalam baskomnya. Dia meminta selfie. Pada zaman ini, selfie merupakan kegiatan mengaca bersama.

“Boleeeeh,” balasnya dengan senyum tipis, sambil merapihkan rambutnya untuk berkaca bersama.

Seperti pada umumnya, si gadis desa pun memulai selfie-nya dengan memberikan aba-aba. “Sijiiiii… loroooo… teeeee….” mereka berpose. “Aaaaaaak! Kok aku masih kalah canti’ sih sama mbak perinces Komariaaah?!” ucapnya dengan logat jawa kental. Si gadis desa kecewa berat, dia memasang muka penuh dengki.

“Ah, cantikan kamu kokkkk,” Princess Komariah tersenyum, sambil mengelus pipi kanan si gadis desa.

“Ah! Mbak Perincess bohong! Mbak bilang gitu biar aku seneng aja, kan?!” gadis desa itu menghempaskan tangan Princess Komariah. “Enggak, sayang. Bener kok. Kamu cantik. Hehe” Princess Komariah tetap membalasnya dengan senyuman.

“Halah bohong! Ngaku aja!” si gadis desa tetap ngotot. Princess Komariah pun mulai geram dengan tingkah si gadis desa. “Beneraaan, sayaang, kamu cantik kok,” ujar Princess Komariah, kali ini dengan senyum terpaksa.

Si gadis desa tetap keras kepala. Dia berpikiran kalau Princess Komariah berkata demikian hanya untuk menyenangkan hatinya. Padahal, iya. “Halah! Aku tau kok! Jujur aja kali! Aku gak papa kok! Dalam hati mbak perinces, aku jelek, iya kan??!!! Dasar pembual!!!!”

Mendengar ucapan si gadis desa, princess Komariah makin geram, dia mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis desa, lalu menarik kerah kebayanya. Anggap saja kebaya punya kerah. “AIHSIANYIIIING! DASAR BATU! WANIAN SIA KU AING?!!!” wajah princess Komariah memerah darah, matanya tajam sambil memancarkan sinar laser. Belakangan diketahui, ternyata princess Komariah titisan temannya Wolverine, Cyclops.

Melihat kemarahan Princess Komariah, si gadis desa pun terkejut. Maag-nya kambuh. Lalu dia pingsan, di pelukan Princess Komariah.

Warga yang menyaksikan dari kejauhan pun langsung bergerumul, lalu bertanya-tanya. “MBAAK PERINCES NGAPAIN DIAAAA??????????!?!” Princess Komariah kebingungan. Dia mencoba menjelaskan, tapi warga enggan percaya. “Ya ampun! Ternyata Mbak Perinces orangnya jahat ya! Dimintain selfie aja marah-marah! Diambil hati banget!  Kami kecewa!” ucap salah satu warga dari kerumunan. “Tuh, Nak! Kamu udah gede jangan kayak si mbak perinces ya! Dikit-dikit diambil hati!” ucap warga yang lainnya, kepada anaknya.

“Iya, jangan kayak si mbak perincess!” warga lain mulai ikut nyeletuk.
“Iya! Jangan kayak si mbak Per!”
“Iya! Dasar mbak Per busuk! Gitu doang diambil hati!” saut warga yang lainnya.

Sejak saat itu, sosok Princess Komariah yang kerap dikenal sebagai sosok sederhana dan rendah hati, dikenal menjadi sosok yang dikit-dikit diambil hati. 

Berhari-hari warga mengucilkan Princess Komariah, sampai-sampai semenjak kejadian itu, warga desa pun membuat kurikulum baru yang berisi tentang pengajaran agar anak-cucunya tidak menjadi manusia yang dikit-dikit diambil hati. Sikap warga pun nggak sampai di situ aja, demi melahirkan generasi yang diharapkan, semua bayi yang baru lahir, dibisiki, “Kamu kalau udah gede, jangan kayak mbakper ya, Nak!”

Mbak Per, Mbak Per, dan Mbak Per. Itulah kata yang selalu diingat oleh warga desa pada abad itu. Hingga kini, istilah itu masih dikenang. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, pengucapan mbakper terasa sulit, yang kemudian diubah menjadi: “Baper”.

-TAMAT-


Senin, 03 November 2014

Oh, Begini Rasanya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir

Standard
"Aku mau nikah aja!" ucap Euis seraya mengalungkan cerurit ke leher orangtuanya. Perasaan Euis sama kayak kebanyakan cewek di luar sana. Awal masuk kuliah, mukanya keliatan bahagia. Nggak ketinggalan mereka update di semua media sosial, yang menunjukkan dia senang dengan statusnya sebagai mahasiswa. Tapi pas semester 5, dengan entengnya mereka bilang kepengin nikah. Emangnya nikah cuma modal salaman sama penghulu aja.



Belakangan ini gue ngerasain gimana rasanya jadi cewek. Kalau cewek udah ngeluh mau nikah pas di Semester 5, kalau gue sekarang, pas semester 7. Di sinilah letak perbedaannya. Kalau cewek ngomong "Aku mau nikah aja!", dia bisa bahagia dengan ucapannya, asalkan dia nikah dengan pria-kaya-penyakitan atau dengan pengusaha tua yang sebentar lagi akan tutup usia. Tapi kalau gue yang bilang "Aku mau nikah aja!", nanti anak-istri gue mau dikasih makan apa. Nggak mungkin kan tiap hari gue kasih serpihan besi-besi tua.

"Nak, tebak mamah hari ini masak apaaaa? Yak! Pager baladoooooooooo"

Gue juga pengen, ketika udah nggak kuat sama kuliah, tiba-tiba bertemu dengan janda-tua-kaya kalah taruhan, yang bersedia menikahi mahasiswa paruh-baya tampan adanya (((tampan adanya))). Lalu ketika malam pertama, gue penggal kepalanya.

Horeee, gue kaya raya...

Semester 7 benar-benar mengetes kejiwaan kita. Nggak, nggak kita, mungkin gue doang. Kalau semester-semester sebelumnya bisa leha-leha (eh apa cuma gue doang yang leha-leha?!), sekarang udah enggak. Urusannya udah banyak. Mulai dari tugas bikin laporan yang kayak skripsi, presentasi, kerja praktek, kerja beneran, dan seabreg kerjaan yang lainnya. Belum lagi ngeliat temen yang udah pada ngambil skripsi, rasa-rasanya kayak cuma kita yang ganteng, yang lainnya jelek. Nggak nyambung emang, bodo.


Karena jadwal emang lagi hectic banget, makanya banyak kerjaan sampingan gue jadi terlantar. Kayak buku, nge-blog, bahkan ngetwit (ini juga termasuk kerjaan). Buku yang dijadwalin September terbit aja, sampai sekarang belum terbit, dan masih berbentuk draft 1. Yang artinya, perlu berkali-kali revisi lagi untuk bisa terbit. Pffftttt... semoga gue sanggup ngelarin dan bukunya jadi terbit deh. 

Aminin dong aminin..

Jumat, 03 Oktober 2014

Misteri Model Bungkus Rokok

Standard
Menjadi orang terkenal keliatannya menyenangkan. Setiap ke suatu tempat, setiap bertemu dengan seseorang, sudah bukan hal aneh lagi orang tersebut mendapatkan senyuman, sapaan, bahkan permintaan untuk foto bersama. Gue sering ngebayangin gimana kehidupan sehari-harinya penyanyi cantik idaman semua pria, Raisa. Tiap selesai makan di warung, mungkin dia nggak perlu buka dompet. Tapi cukup mengibaskan rambut dengan tatapan sayu, jilat-jilat-gigit bibir bagian bawah, lalu bilang gini ke abang-abangnya, “Semuanyah berapah, mas?”

Kemudian gratis.

Hampir semua laki-laki menjadikan Raisa sebagai pacar imajiner. Hampir tiap minggu gue selalu menemukan foto Raisa di Path, yang dijadiin meme sama orang-orang. Nggak kebayang kalau dia pergi ke suatu tempat. Berapa orang yang minta foto bareng sama dia. Mungkin setiap merem, pas melek lagi udah ada orang lagi yang muncul sambil nenteng-nenteng kamera.

Untung waktu jadian, gue sempet foto bareng.

Romantis...

Kenangan terindah...

Mungkin semua orang sepaham kalau tiap artis, penyanyi, ataupun model, kalau ke mana-mana selalu dipandang ‘wah’ sama orang-orang. Tapi setelah gue pahami, apa orang yang jadi model di bungkus ini juga diperlakukan sama dengan yang lain?


Di mana-mana setiap gue pergi, gue selalu nemuin foto orang ini di bungkus-bungkus rokok ternama. Mungkin hal ini merupakan hal yang baru di kancah industri kreatif. Di saat Raisa mengawali karirnya dari panggung ke panggung, Raditya Dika mengawali karirnya dari tulisan ke tulisan, dan orang ini, mengawali karirnya dari bungkus ke bungkus. Yang parahnya lagi, dia tampil dengan image sebagai penghilang nafsu ngerokok. Bayangin, penghilang nafsu ngerokok. Musuhnya para perokok.

Lantas muncul pertanyaan dalam diri gue: siapakah orang di model ini? Siapakah orang yang tega ngebohongin dia sampai mau ada di bungkus rokok seperti ini?

Kalau dibayangin, mungkin sebelum dijadiin model bungkus rokok, terjadi percakapan seperti ini antara dia dengan agensi iklan rokok.

“Mas, mau jadi model saya, nggak?”

“WAH! Mau mas! MAU! Tapi model buat apa ya?”

“Buat nakutin orang,”

Jadi model bungkus rokok emang nggak ada yang salah, tapi kalau tujuannya buat nakut-nakutin orang, kebayang nggak sih kehidupan sehari-harinya gimana. Kita tau sendiri perokok di Indonesia banyaknya minta ampun. Semua kalangan rata-rata ngerokok. Mulai dari pelajar, sampai preman. Dan dia, muncul sebagai penghalang buat ngerokok. Kan kalau dibayangin kasian. Di saat model-model lain kalau jalan dimintain foto, "KAKKK! Kakak yang di iklan ini kan, ya?! Aaaaak! Foto bareng dooong!" kalau dia malah diteriakin, "OH! JADI ELO PENGHILANG NAFSU NGEROKOK GUE?!", atau, "DASAR BAJINGAN!!!", atau mungkin yang lebih parahnya lagi, setiap dia lewat perkampungan, dianya digebukin preman gara-gara emosinya nggak bisa ditahan lagi.

Setelah gue cari info tentang siapa dia, asalnya dari mana, nggak ketemu. Mungkin dia diisolasi pabrik rokok, biar nggak dimutilasi masyarakat.

Tapi pas tadi gue iseng-iseng searching di internet, gue baru tau kalau dia ini model iklan Djarum 76 yang terbaru.

Nih videonya:



Entah di iklan ini beneran dia atau bukan, yang jelas, gue yakin hidupnya nggak tenang kalau lewat pemukiman warga dan warung-warung tongkrongan anak STM.

Ada yang tau dia siapa, nggak? Gue penasaran...

Jumat, 12 September 2014

Tiwi, Jangan Bete!

Standard


Social media adalah salah satu wadah untuk memperbanyak teman. Mau kita kenal atau enggak, yang penting add dulu, siapa tau aja nantinya bisa lebih dari teman. Pertama kali gue berkecimpung di dunia socmed, socmed yang gue mainin adalah Friendster. Dulu zamannya Friendster, orang-orang masih terjerat dengan rezim alaynisme. Gue inget banget, pas zamannya Friendster, alay-alay saling menunjukkan bakat kealayan mereka masing-masing. Dikasih nama bagus-bagus orangtua "Wahyu Kartadi", malah masang nama "Mbonz". Hahahaha alay! Termasuk gue.

Makin ke sini muncul lagi socmed baru, namanya Facebook. Di Facebook, alay-alay perlahan memudar. Yang tadinya di Friendster pake nama samaran, di Facebook jadi pake nama asli, dan lengkap.

Pas ada Facebook, gue jadi rajin online. Temen SMA gue suka pamer kalau temen di Facebook-nya berjumlah ribuan. Dan saat itu, gue cuma empat puluh lima. Empat puluh temen sekelas, limanya lagi keluarga gue. Itu juga akun nyokap, gue yang megang.

Gue jadi terpacu buat banyakin temen di Facebook. Setiap ketemu temen, pertama kali yang gue tanyain Facebook. Setiap ketemu kenalan baru, yang gue tanyain Facebook. Bahkan, pas gue ngeliat tulisan nama orang di tembok kamar mandi sekolah aja, temboknya langsung gue coret, "Nama lo nggak penting! Facebook! Facebook lo apa?!".

Singkatnya, Friends gue mencapai ribuan. Baik yang dikenal, ataupun enggak.

Tadi pagi sehabis kuliah, gue iseng ke perpustakaan buat internetan. Buka Facebook. Di sana internetnya kenceng banget. Lagipula, udah lama juga gue nggak pernah buka Facebook.

Gue scroll newsfeed sampai bawah. Terus nge-scroll. Dan teruuuss sekiranya telunjuk gue udah muter 7 kali. Suatu ketika, gue ngeliat orang ini di Facebook.


Jeng jeng jeng!

Astaghfirullah! Tiwi?! Kamu kenapa?!

Dada gue langsung berdegup dengan kencang. Lidah membeku. Keringat dahi mengucur deras. Gue sontak memikirkan keadaan Tiwi. "TIWI! KAMU KENAPA?! BETE?! BETE KENAPA?!" 

Gue mondar-mandir nggak karuan. Gue mencoba menghubungi nomor darurat 911. Belakangan baru sadar, handphone gue ketinggalan di kelas. Gue bergegas berlari menuju kelas yang berada di lantai 7. Sialnya, lift kampus sedang dalam perbaikan. Mau nggak mau, gue harus menaikki anak tangga. Ya, semuanya demi Tiwi. Gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Gue nggak mau Tiwi bete tanpa alasan yang jelas. Gue nggak mau Tiwi menyendiri di sudut ruangan, sambil membuat lingkaran besar-lingkaran kecil di lantai dapur rumah tetangganya.

"Halo, Mas. Apa benar ini nomor darurat?!" tanya gue dengan nada suara yang tak beraturan.
"Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu, Mas?" jawab seseorang dengan nada suara kebapakkan.
"TIWI DI MANA?! TIWI KENAPA?! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN TIWI?! TIWI MANA MAS?! TIWI MANA?????!"
*tut tut tut* 

Koneksi telepon mendadak terputus. Gue makin panik. Jangan-jangan Tiwi tau apa yang gue perbuat, lalu nyamperin mas-mas darurat-nya, memotong kabel teleponnya, kemudian melilitkan potongan kabel tersebut hingga akhirnya si mas-mas darurat tewas seketika.

Gue bergegas kembali membuka profile Tiwi. Hanya ini yang bisa gue lakukan. Ya, menginvestigasi sendirian. 

Dan sesaat kemudian, gue menemukan statusnya.


Apah?! Berantem?! OH! Jadi Tiwi bete karena berantem?! Siapa yang berantem, Tiw?! SIAPA??!

Gue makin penasaran dan melanjutkan investigasi. Meskipun nggak kenal, gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Ingat, satu teman Facebook sangat berharga buat gue. Sungguh. Gue nggak mau kehilangan Tiwi.

Sesaat kemudian, gue menemukan bukti yang terbaru seputar misteri betenya Tiwi...


ASTAGA! Maaf?! Kamu salah apa, Tiw?! Kamu nggak salah! Aku yang salah! Lantas, Andre itu siapa?! Dia yang bikin kamu bete??! IYA???!

Darah gue perlahan mulai naik. Gue nggak terima Tiwi diperlakukan sampai bete. Gue nggak tega ngeliat cewek dikecewakan oleh laki-laki. Kalau sampai Andre pelakunya, gue bersumpah di atas nasi uduk yang telah ditaburi bawang goreng, gue akan mencari orang yang bernama Andre!

Misteri betenya Tiwi bagaikan teka-teki yang harus gue pecahkan. Kalau sampai enggak, orang yang pertama kali menyesal adalah gue. Gue nggak mau besok-besok Tiwi sampai ganti nama menjadi: Tiwi Bete Mau Mati Aja atau Tiwi Lelah Dengan Kehidupan Ini Mati Aaah.

Gue tetap meneruskan investigasi. Hingga akhirnya, menemukan ini...



DUAR!

Ternyata Tiwi sedang dilanda kegalauan yang maksimal. Dia didekati oleh banyak pria. Dimas Ekonomi, Dimas Hukum, Anggara, beserta 7 pria lain yang tidak disebuti namanya. Menurut hemat saya, semua pria ini mendadak mengatakan cinta kepada Tiwi. Karena bingung, Tiwi pun bete.

Gue mencoba care sama Tiwi dengan menanyakan ada apa dengan dirinya. Tapi apa daya, comment gue nggak berbalas. Gue mulai pasrah. Mau ngehubungin mas-mas darurat, tapi dia udah tewas. Gue jadi sadar kalau hidup memang keras. Hari ini benar-benar hari terpahit sepanjang perjalanan hidup gue.

Tapi gue nggak boleh nyerah. Nyerah tanda kalah. Kalah tanda tak menang. Tak menang tanda kalah. Gue harus meneruskan investigasi ini sampai titik darah penghabisan.

Dan akhirnya, setelah menghabiskan berliter-liter keringat bercampur airmata, gue menemukan jawabannya.


Ternyata, penyebab betenya Tiwi adalah Dimas dan Andre. Kini, Tiwi memilih untuk sendiri daripada harus memilih di antara keduanya. Mungkin dia berpikiran kalau lebih baik nggak dengan siapa-siapa tapi tenang, daripada dengan salah satunya, tapi ujung-ujungnya nggak tenang gara-gara diganggu oleh pihak yang lain.

Ummm... Tiwi, aku terharu. Kamu keren. Aku juga.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah mengharukan Tiwi. Ya gue pribadi semoga aja, Tiwi lekas menemukan belahan jiwa yang terbarunya, lalu mengganti namanya menjadi Tiwi Bahagia.

Tiwi, kamu pasti bisa. Cheers.