Minggu, 04 Januari 2015

Alasan Kenapa Orang Ngetwit Mulu

Standard
Ada beberapa orang yang tiap gue buka Twitter, dia lagi dia lagi yang nongol. Mungkin yang ngalamin ini banyak. Dan kebanyakan orang, berpendapat solusinya adalah unfollow. Mungkin unfollow emang cara paling ampuh buat 'ngusir' orang yang nggak sesuai dengan kemauan kita. Tapi di sisi lain, sebenarnya kita butuh (mari kita namakan orang ini dengan:) 'orang aneh' di lingkungan kita. Buat apa? Buat supaya kita bisa ngomong: "Amit-amit! Jangan sampe gue kayak dia!", yang secara nggak langsung memberi sugesti ke otak, lalu menghindari hal yang dilakuinnya.

Keberadaan orang aneh sebenarnya sama seperti musuh. Mereka jangan dihindari, diliatin aja, tapi juga jangan dideketin. Karena apa? karena cuma musuh yang hobinya memperhatikan kekurangan kita. Itulah kenapa gue suka mikir mending punya musuh, daripada punya temen yang kalau kita salah malah diam aja. Dengan musuh ngata-ngatain kejelekan kita, kita jadi tau letak kejelekan kita di mana.

Sering banget gue ngeliat ungkapan seperti ini: "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", gue nggak setuju dengan kalimat ini. Walau bagaimanapun, lo ngetwit dari jempol, dan yang ngegerakin jempol itu otak. Kalau emang twit lo ngeres, berarti otak lo ngeres. Kalau emang twit lo bijak, berarti otak lo emang berpikir bijak. KECUALI, twitnya hasil copas. Karena sesungguhnya yang boleh ngomong "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", cuma admin detikcom. Karena emang nggak ada yang bisa dinilai juga dari timeline-nya.

So, your tweet say your personality, Guys!

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~


Setelah gue pahami lebih jauh, ada beberapa alasan kenapa orang kerjaannya ngetwit mulu:

1. Following sedikit
Nggak sepenuhnya kesalahan berasal dari dia. Bisa aja, penyebabnya gara-gara jumlah orang yang kamu follow emang sedikit. Mungkin di bawah lima puluh. Atau mungkin juga gara-gara abis stalking, lupa nutup. Ternyata emang timeline-nya dia.

2. Lagi kerja
Mungkin yang kamu follow adalah akun-akun yang fungsinya emang buat ngetwit terus. Misal, detikcom, adadiskon. Atau mungkin juga, dia ngetwit mulu gara-gara tuntutan pekerjaan. Contohnya: buzzer brand yang lagi kejar target. 

Kalau menurut gue, kalau emang tujuannya gara-gara pekerjaan, itu sah-sah aja. Namanya juga lagi nyari rejeki.

3. Lagi caper
Mungkin kita semua pernah ngerasain gimana rasanya orang yang kita suka, ada di hadapan kita. Iya, rasa-rasanya pengin banget nunjukkin kelebihan kita. Biar dia kagum. Dan cara nunjukkinnya itu yang beda-beda.

Nah! Kalau di timelinemu ada orang yang kerjaannya ngetwit terus, dan tweet-nya membahas tentang tata cara badan meteorologi dan geofisika memanggil awan kinton, bisa jadi dia lagi caper. Mungkin dia berpikiran kalau ngetwit adalah cara efektif buat menarik perhatian si gebetan. Apalagi bahan tweet-nya edukatif gitu ya kan.

Gapapa, kalau ngeliat, doain aja biar cepet dapet.

4. Lagi bayar nazar
Jangan salah, nazar orang nggak ada yang tau. Mungkin aja dia abis mendapatkan sesuatu. Dan nazarnya, dia bayar pake jumlah ngetwit. Makanya menuh-menuhin timeline..

5. Dia akun bot

Bakaaaaaar!

6. Kesepian
Banyak banget orang kayak gini. Tiap saat, dia ngetwit tentang segala hal yang dilakuin. Mulai dari hal yang nggak penting, sampai ke hal yang nggak penting banget. Mulai dari ngomongin orang, nyindir, ngeluhin kehidupan, curhat masalah pribadi, sampai ke ngoceh-ngoceh nggak keruan (yang ini biasanya aktivitas pribadi yang nggak penting). 

"Duh, mules" *sent 3 minute ago*
"Lagi buka celana nih." *sent 2 minute ago*
"Doain!" *sent 1 minute ago*
"Hape baru bener yeaay! Dasar closet sialan!" *1 month later*

Dan ekspresi kita begitu ngeliat tweet-nya:




Ketika kamu ada masalah, yang bakalan dilakuin pasti nyari orang terdekat (sahabat/orangtua) buat curhat. Nggak mungkin ke orang yang nggak dekat atau bahkan ke orang yang nggak dikenal. Dengan kamu 'bawel' di media sosial, itu kalau digambarkan ke kehidupan nyata sama aja ketika kamu punya masalah, kamu lari ke luar rumah, lalu nyetopin abang-abang penjual sayur yang lewat, "Tau nggak-tau nggak-tau nggak, gue mau ganti zodiak!"

Gue percaya dengan satu hal, semakin kamu 'bawel' di dunia maya, itu semakin menunjukkan kalau kamu kesepian di dunia nyata. Gue tau, tujuan mereka bawel di dunia maya itu satu; biar ditanggepin. Iya, ditanggepin, meski oleh orang yang nggak dekat dan nggak kenal. Dan yang menjadi penyebab utamanya adalah: karena nggak ada lagi orang yang bisa diajak berbagi. Dan followers Twitter-nya, adalah harapan satu-satunya.

Ollrait, Guys?

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~

Di timeline-mu, ada yang kayak gini juga? Ada komentar?

Sabtu, 27 Desember 2014

Kepada Orang yang Baru Punya Pacar

Standard
Seringkali kita ngeluh ke teman kita yang baru punya pacar. Kira-kira keluhannya seperti ini: “Giliran sendiri aja nyusahin, giliran punya pacar ngelupain.”, “Lagi berantem aja baru ke sini”, “Nggak nyangka ya umurnya secepat ini” (ini buat yang temennya baru jadian langsung dimutilasi)



Sebagai teman, orang yang baru punya pacar hendaklah kita ingatkan, bukan diam-diam kita perbincangkan. Kami, sebagai temanmu di sini, ingin mengingatkan kepada kamu yang baru punya pacar.

Kepada kamu yang baru punya pacar, seringkali kamu menghabiskan detik demi detik waktumu hanya untuk sang kekasih, tanpa celah. Mungkin menurutmu, terlalu berharga waktumu kalau harus dihabiskan untuk kami, temanmu. Bahkan pekerjaanmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memang setia, mungkin di atas level setia. Kami tau, kesetiaanmu pada kekasih sampai-sampai bisa melupakan idolamu, orang ganteng/cantik yang ada di sekelilingmu, lalu menganggap kekasihmu ialah satu-satunya makhluk yang pantas kamu puja.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memiliki penglihatan masa depan yang baik. Kamu bisa melihat di masa depan nanti kamu akan bahagia dengan kekasihmu. Tak khayal sering kami dengar ataupun lihat, kamu kerap mengucap kata-kata manis ataupun janji, terhadap pasanganmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, apapun pasti akan kamu lakukan, demi kekasihmu, tanpa malu dan ragu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, pacarmu adalah sesuatu yang teramat berharga menurutmu. Kamu kerap menunjukkan kepada dunia ‘luar’ kalau pacarmu adalah yang terbaik dari yang terbaik. Semua orang berhak tau kalau pacarmu sangat istimewa. Kamu memang pasangan paling bahagia, yang kami lihat dari media sosialmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami, temanmu, hanya ingin mengingatkan. Yang kamu lakukan semuanya adalah proses ‘pencarian sesuatu' terhadap kekasihmu. Ketika kamu menganggap orang yang baru mengisi hidupmu adalah jodohmu, belahan jiwamu, atau seseorang yang pantas jadi ibu atau ayah dari anak-anakmu, itu karena kamu sedang penasaran. Sekali lagi, penasaran.

Entah beberapa bulan setelahnya, setelah tak ada lagi yang kamu ‘cari’ pada kekasihmu, kami, temanmu, ingin bertanya, apakah kamu masih bisa melakukan semua ini?

Jangan terlalu cepat untuk menyimpulkan, kawan.

Perasaan ada, karena penasaran.

Sabtu, 13 Desember 2014

Ngomongin Film: Stand By Me Doraemon

Standard
Pertama kali diumumkan film Doraemon (yang katanya serial terakhir), diberikan kesan kalau film-nya bakalan sedih. Ditambah lagi dengan tagline-nya "Sedia tisu yang banyak". Dalam pikiran gue pas ngeliat itu semua: Gila! Ini bakalan ada adegan yang mengharukan banget nih! Siapa nih yang berani-beraninya ngehamilin Doraemon?



Respon dari masyarakat begitu film-nya release pun gila-gilaan. Gue liat di Twitter, katanya, di mana-mana bioskop penuh. Antrean tiketnya mengular. Nassar ingin bercerai. Gue jadi penasaran sama film-nya. Kira-kira kayak gimana sih film-nya?

Gue dari dulu emang suka banget sama film Doraemon. Jadi begitu pengin nonton film-nya, ada ekspektasi yang tinggi dengan film ini. Orang katanya film terakhir gitu lho. Masa nggak seru. 

Dari awal film-nya mulai, gue menikmati jalan ceritanya. Suatu ketika gue ngeliat jam, "Waduh, udah jam lima lewat lima belas nih (gue nonton jam setengah lima), mana konfliknya???". Struktur pembuatan film (menurut gue yang sotoy ini) biasanya terdiri dari: awal (biasanya di bagian ini perkenalan tokoh-tokoh, dan apa yang diinginkan tokoh utama dalam film ini) ---> masuk ke konflik (dia pengin ngelakuin apa yang dia inginkan, tapi terbentur masalah) ---> ending. Gue nggak melihat sama sekali ada konflik yang kuat di dalam film ini. Premis yang gue dapatkan dari film ini adalah seorang remaja culun yang ingin mengubah masa depannya. Tapi konfliknya nggak kuat. Kenapa gue bilang nggak kuat? Di sini Nobita pengin mengubah masa depannya. Yang pertama masa depan nasibnya (harta dan keluarganya), yang kedua istrinya. Yang menjadi poin penting adalah:

PERTAMA. Di awal, nasib Nobita di masa depan diperlihatkan seperti ini (gue nggak mau spoiler), tapi di akhir? Nggak diliatin.

KEDUA. Di awal, Nobita nikah sama si ini, tapi di akhir? Ya sesuai dengan keinginannya, TAPI, untuk mendapatkannya, bagi gue sangatlah mudah. Semua berjalan mulus. Inilah letak kelemahan konfliknya.

Misal, bayangin Nobita pengin beli kue rangi dari Bogor ke Tambun. Di film ini, yang gue tangkap si Nobita ke sana naik bis, dan di jalan, bisnya kena tilang gara-gara spionnya berbentuk limas, lalu sehabis damai sama polantas, jalan lagi, trus sampe deh. Simpel. 

Coba bayangin kalau si Nobita pas naik bis menuju Tambun, di jalan dia nyasar, yang tadinya pengin ke Tambun, malah ke Honduras. Ternyata dia naik bis yang go internasional. Kalau gini, bakalan lebih menarik kan ceritanya? Penonton pasti akan bertanya-tanya: "Wah, gimana ya dia bisa balik lagi ke Tambun? Berapa kali nanya penjaga warung, ya?" yap, ini yang gue kecewa dan kecewe sama film-nya. Kenapa konfliknya nggak menonjol.

Kalau gue tangkep, si pembuat film hanya ingin menonjolkan sisi sedihnya aja dengan si Nobita yang kehilangan Doraemon. Tapi menurut gue, sedihnya malah nggak dapet. Di awal emang sih, karakter Doraemon ini diperlihatkan sebagai robot yang benar-benar berguna untuk Nobita, tapi di akhir-akhir, jalan ceritanya kurang menunjukkan kalau Nobita itu nggak pantas kehilangan Doraemon. Penonton kurang dibuat sampai ngomong "Ya ampuuun, Doraemon jangan ninggalin Nobita dong. Kalian tuh cocok, masa pisah, sih" atau sejenisnya yang mengungkapkan kesedihan penonton sekaligus penyesalan kenapa Doraemon harus ninggalin Nobita.

Tapi dari sisi komedi, lumayan lucu. Muka Nobita-nya ngeselin. Tapi itu tadi, gara-gara opininya digiring ke film yang sedih-sedihan, jadi pas dimasukin unsur komedi, malah nggak pas. (ini menurut gue sih. Hueuheuehuhe) Terutama di bagian yang sebenarnya sukses membawa penonton ke suasana sedih, tapi sayangnya malah diselipin komedi. Ibaratnya barusan mau netesin air mata, eh, malah dibikin ketawa.

Dan yang paling gue bingung............. KENAPA DI PATH PADA UPDATE KALAU FILM-NYA SEDIH BANGET YA???! Apa selera sedih gue yang cemen? 

Beklah, sekian~ semoga bermanfaat~ semoga tulisan gue nggak termasuk spoiler ya~ tapi emang nggak sih~








Senin, 17 November 2014

Ngomongin Film: Hantu Juga Selfie

Standard
Sekian lama nggak ngikutin perfilman Indonesia, kali ini gue kembali dibikin shock. Kemarin, pas gue mau nonton, dari kejauhan terlihat poster cukup besar yang dipajang di depan mbak-mbak penjual tiket. Berambut panjang, berbaju putih, serta lumuran darah yang ada di sekitarnya bikin gue penasaran buat ngedeketin posternya. Gue pengin nonton. Udah lama nggak nonton film horror. Tapi, begitu udah dekat, GLEG.

Gue mundur perlahan. Moonwalk sampe ke parkiran.

Kacau, ternyata judulnya Hantu Juga Selfie dengan gambar hantu yang lagi nyengir sambil megang hape.

Yang ada di bayangan gue pas ngeliat posternya dari dekat, gila, ini hantu modern banget. Udah mati aja masih sempet-sempetnya mikirin duniawi. Entah gimana jalan ceritanya. Tapi pas gue liat trailer-nya, hantunya selalu muncul kalau ada orang yang lagi selfie. Kacaaaau. Entah apalagi cerita yang ada di dalamnya, yang jelas, kalau pak ustad mau nangkep ini setan, keliatannya nggak keren banget. Masa yang biasanya kalau nangkep kayak orang lagi berantem sambil komat-kamit, jadi ngeluarin hape, trus selfie.

"Pak ustad, setannya mana nih?"
"Bentar, saya selfie dulu,"

Entah apa penyebab matinya ini setan. Yang jelas, gue nggak ada penasaran-penasarannya sama sekali. Semoga, ke depannya nggak ada film horror yang trendy lagi. Misal, Hantu Kepencet Favorite, hantu yang lagi stalking, taunya kepencet favorite, lalu tewas gara-gara panik. Atau juga, Hantu Juga Pengin Di-ask. Hantu yang meninggal, gara-gara shock Ask.Fm-nya nggak ada yang nge-ask.

Kadang gue mikir, apa ya perasaannya setan di neraka sana, ketika mereka tau nama baiknya tercoreng oleh manusia. Dari yang kesannya serem (kayak film-film zamannya Suzanna), sampai ke sekarang, yang kesannya nggak ada serem-seremnya sama sekali.

Entahlah, segitu dulu. Semoga gue nggak diomelin yang bikin film. Entar kalau ada film yang aneh lagi, tenang aja, pasti gue omongin. 


See you again..

Rabu, 12 November 2014

#AsalUsulAsal "Baper"

Standard
Alkisah hiduplah seorang wanita muda di negeri antah-berantah. Dia dikenal sebagai kembang kerajaan di sana. Dengan sepatu kacanya, dia menapakki sepetak demi sepetak pemukiman warga. Tak heran, semua lelaki melongok-kagum memerhatikan paras wajahnya. Beliau kerap disapa Princess. Princess Komariah.

Princess Komariah ialah sesosok putri raja yang amat cantik, juga amat sederhana. Meskipun dia putri raja, tak ada sedikit pun pengawal kerajaan yang mendampinginya. Wanita yang memiliki hobi blusukan ini, kerap disapa penduduknya, apabila dia sedang berjalan-jalan di pemukiman rakyatnya.

“Mbak Perincess Komariaaah, aku mau selpi dong sama mbake,” sapa gadis desa berkemben yang bertuliskan "Punk Not Dead", seraya mengambil kaca di dalam baskomnya. Dia meminta selfie. Pada zaman ini, selfie merupakan kegiatan mengaca bersama.

“Boleeeeh,” balasnya dengan senyum tipis, sambil merapihkan rambutnya untuk berkaca bersama.

Seperti pada umumnya, si gadis desa pun memulai selfie-nya dengan memberikan aba-aba. “Sijiiiii… loroooo… teeeee….” mereka berpose. “Aaaaaaak! Kok aku masih kalah canti’ sih sama mbak perinces Komariaaah?!” ucapnya dengan logat jawa kental. Si gadis desa kecewa berat, dia memasang muka penuh dengki.

“Ah, cantikan kamu kokkkk,” Princess Komariah tersenyum, sambil mengelus pipi kanan si gadis desa.

“Ah! Mbak Perincess bohong! Mbak bilang gitu biar aku seneng aja, kan?!” gadis desa itu menghempaskan tangan Princess Komariah. “Enggak, sayang. Bener kok. Kamu cantik. Hehe” Princess Komariah tetap membalasnya dengan senyuman.

“Halah bohong! Ngaku aja!” si gadis desa tetap ngotot. Princess Komariah pun mulai geram dengan tingkah si gadis desa. “Beneraaan, sayaang, kamu cantik kok,” ujar Princess Komariah, kali ini dengan senyum terpaksa.

Si gadis desa tetap keras kepala. Dia berpikiran kalau Princess Komariah berkata demikian hanya untuk menyenangkan hatinya. Padahal, iya. “Halah! Aku tau kok! Jujur aja kali! Aku gak papa kok! Dalam hati mbak perinces, aku jelek, iya kan??!!! Dasar pembual!!!!”

Mendengar ucapan si gadis desa, princess Komariah makin geram, dia mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis desa, lalu menarik kerah kebayanya. Anggap saja kebaya punya kerah. “AIHSIANYIIIING! DASAR BATU! WANIAN SIA KU AING?!!!” wajah princess Komariah memerah darah, matanya tajam sambil memancarkan sinar laser. Belakangan diketahui, ternyata princess Komariah titisan temannya Wolverine, Cyclops.

Melihat kemarahan Princess Komariah, si gadis desa pun terkejut. Maag-nya kambuh. Lalu dia pingsan, di pelukan Princess Komariah.

Warga yang menyaksikan dari kejauhan pun langsung bergerumul, lalu bertanya-tanya. “MBAAK PERINCES NGAPAIN DIAAAA??????????!?!” Princess Komariah kebingungan. Dia mencoba menjelaskan, tapi warga enggan percaya. “Ya ampun! Ternyata Mbak Perinces orangnya jahat ya! Dimintain selfie aja marah-marah! Diambil hati banget!  Kami kecewa!” ucap salah satu warga dari kerumunan. “Tuh, Nak! Kamu udah gede jangan kayak si mbak perinces ya! Dikit-dikit diambil hati!” ucap warga yang lainnya, kepada anaknya.

“Iya, jangan kayak si mbak perincess!” warga lain mulai ikut nyeletuk.
“Iya! Jangan kayak si mbak Per!”
“Iya! Dasar mbak Per busuk! Gitu doang diambil hati!” saut warga yang lainnya.

Sejak saat itu, sosok Princess Komariah yang kerap dikenal sebagai sosok sederhana dan rendah hati, dikenal menjadi sosok yang dikit-dikit diambil hati. 

Berhari-hari warga mengucilkan Princess Komariah, sampai-sampai semenjak kejadian itu, warga desa pun membuat kurikulum baru yang berisi tentang pengajaran agar anak-cucunya tidak menjadi manusia yang dikit-dikit diambil hati. Sikap warga pun nggak sampai di situ aja, demi melahirkan generasi yang diharapkan, semua bayi yang baru lahir, dibisiki, “Kamu kalau udah gede, jangan kayak mbakper ya, Nak!”

Mbak Per, Mbak Per, dan Mbak Per. Itulah kata yang selalu diingat oleh warga desa pada abad itu. Hingga kini, istilah itu masih dikenang. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, pengucapan mbakper terasa sulit, yang kemudian diubah menjadi: “Baper”.

-TAMAT-