Minggu, 12 April 2015

Karya Perdana! [Part 2]

Standard
Beberapa waktu lalu gue posting di blog mengenai pengumuman buku gue yang akan terbit. Nah! Sekarang, gue bakalan ngumumin kelanjutan tentang buku gue ini. 

Ehm, mulai dari mana ya?

Oke, dari cover buku.

Kemarin-kemarin gue sempat post di Twitter buat voting cover mana yang enak buat dijadiin buku gue kelak. Ada tiga cover yang jadi opsinya:


Dari ketiga ini, pemilihan cover masih alot. Mayoritas milih nomor satu dan tiga, akhirnya setelah dihitung (padahal enggak), satu nomor dieliminasi, yang nomor dua. Soalnya sedikit banget yang milih.


Dari post-an itu, gue juga minta saran ke pembaca tentang cover ini enaknya gimana biar bagus. Apa yang harus dikombinasikan. Font judul bukunya kah, font nama penulisnya kah, atau muka penulisnya kah yang diganti. Dan ternyata, banyak yang ngasih saran kalau coba cover nomor tiga, font judul buku dan nama penulisnya diganti kayak cover yang nomor satu. Syukurlah, untung nggak ada yang minta muka penulisnya yang diganti.

Akhirnya setelah diedit-edit oleh desainer cover Bukune @ayuwidjaja, jadinya seperti ini:
Tinggal dua!

Lalu gue voting lagi di Twitter dan IG, dan yak! Yang menang sebelah kanan! 

Fyi: gue satu-satunya lho cover buku dengan foto yang merem-cool-unyu-andrewgarfieldbanget gitu. Anti-mainstream, kan? Makanya, nanti kayaknya bakal ada kontes ngirim foto dengan hestek #MeremKece buat dapetin buku gue. Pasti seru. Ikut ya!

Lanjut ke pengumuman selanjutnya!

Konon katanya, buku gue hari ini udah terbit lho! Tapi, belum tau deh kapan beredar di toko bangunannya. Mungkin dua minggu lagi.

Lanjut lagi!

Konon katanya, buku gue harganya 45 ribuan lho! Ada sih yang harganya 20 ribu. Tapi gitu, halamannya ngacak. Abis halaman 1, langsung 30. Dirandom gitu.

Lanjut lagi!

Nah, ini dia nih yang paling akhir. Mau diadain PO nggak ya? Kata pihak penerbitnya, kalau mau adain PO, tanya dulu ada yang mau atau enggak. Kamu mau? Kalau iya, tulis di kolom comment ya. Soalnya bukannya apa, kalau gue dengan pedenya langsung nge-iya-in buat ngadain PO tapi ternyata nggak ada yang beli, kicep juga. Masa semuanya gue yang beli.

Btw, dengan kamu ikutan PO, keuntungannya lumayan: dapet lebih cepat sebelum bukunya beredar di toko ikan hias, dapet tandatangan (hehehehe), dapet diskon!!! DISKOOONN!!... dan PO ini terbatas, gaan!


Kalau mau, tulis di kolom komen ya! Thanks!


-Andrew Garfield-



Sabtu, 04 April 2015

Cinta Monyet!

Standard
"Kecil-kecil kok buta"

Nggak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Rasa cinta selalu timbul dengan sendirinya, ada juga yang bilang rasa cinta muncul karena terbiasa.

Gue jadi ingat dulu sewaktu kecil, sewaktu masih SD, gue punya satu wanita yang gue cinta. Yap, mungkin terlalu dini kalau bilang namanya "cinta". Setiap hari gue merasakan hal yang mungkin nggak lazim oleh anak-anak seumuran delapan tahun rasakan; dada berdebar-debar, selalu menanti pagi hari, dan gue benci hari libur. Benci hari libur? Tentu, ini hal yang paling aneh. Anak kecil selalu haus akan bermain, tapi untuk gue saat itu, tidak. Gue rela kalau harus masuk sekolah seminggu full sekalipun. Dan belakangan gue baru sadar; kalau saat itu gue lagi jatuh cinta.

Setiap hari gue memandangi wanita itu, dan berbuat apapun hanya untuk satu tujuan; bisa berinteraksi dengan dia. Gue masih ingat betul ada satu hal kejadian terbodoh yang pernah gue lakukan ke dia. Kami pernah main polisi-polisian bersama. Saat itu, peran gue jadi polisi. Dan dia, jadi maling. Tentu dalam permainan ini banyak teman yang perannya jadi "maling", tapi sedari awal, yang gue kejar adalah dia, wanita itu. Gue mengejarnya tentu tidak seperti polisi biasa, gue menikmati adegan kami kejar-kejaran. Cara berlarinya, kecepatannya, sampai teriakannya pun gue ingat, sampai sekarang. Hingga akhirnya gue mencoba menarik lengannya dari belakang. Mungkin tarikan gue terlalu keras sampai-sampai dia terjatuh, berdarah,... dan benci sama gue.

Semenjak hari itu dia nggak mau ngomong sama gue lagi. Setiap kita bertemu, dia selalu memalingkan muka. Gue ngerasa bersalah. Rasa ingin sekolah setiap hari, berubah menjadi rasa ingin libur setiap hari. 

Saat itu, pada umur delapan tahun, gue mencintai wanita itu tentu tanpa alasan. Dia cantik? Enggak. Dia kaya? Juga enggak. Masih terlalu dini buat gue untuk tahu masalah cantik dan kaya. Yang gue tahu saat itu adalah; gue mau terus bersama dengan dia. Sesederhana itu.

Semakin ke sini, gue semakin dewasa. Gue juga tahu yang mana cantik dan yang mana kaya. Gue juga punya tipe pasangan idaman sendiri, yang akhirnya memperibet, dan bikin gue berpikiran; gue harus balik kayak dulu lagi, yang mencintai seseorang tanpa banyak mikir. Hanya sesederhana: gue mau terus bersama dia.

Raditya Dika pun lewat Cinta Brontosaurus mengatakan: "Ketika kita mencintai seseorang, kita harus kayak anak kecil, apa adanya. Nggak usah banyak mikir alasan. Hanya sesimple: aku sayang dia. Cukup."

Tentu gue setuju, sangat setuju. Sampai akhirnya gue tersadar, pada umur ini, pada detik ini, pada tulisan ini, kalau:

Untuk MENCINTAI seseorang memang harus seperti anak kecil, tapi untuk MENDAPATKAN CINTA seseorang, kita harus tau kita itu siapa.


Have a nice day, everyone.

Kamis, 26 Maret 2015

Karya Perdana! [Part 1]

Standard
HUARGH! AKHIRNYA SELESAI JUGA! *Benerin dasi*

Setelah berabad-abad dalam menyelesaikannya, akhirnya karya perdana gue jadi! yeah! 

Tepuk tangan...

Jujur, gue sendiri aja yang nulis dulu bingung terbitnya kapan, apalagi orang-orang. Udah banyak banget yang nagih karya perdana gue ini. Di mana-mana pada nanyain:

"Bang, bukunya kapan jadi, Bang?"

"Bang, kapan terbit, Bang?"

"Bang, kiri, Bang"

Tapi gue cuma bisa jawab "Nanti ya, dikabarin". Awalnya sempat galau juga, kelarin atau enggak ya? Tapi makin ke sini, gue ngerasa kayak ada hutang buat para pembaca. Dan gue juga emang pengin banget punya karya nyata yang bisa gue kenang di masa tua nanti. Seenggaknya gue bisa pamer ke anak-cucu nanti, "Nih liat, kakek ganteng kan pas muda?" #halah

Atas bantuan editor gue (@edoding) yang udah gigih banget buat nerbitin buku ini, akhirnya buku ini kelar juga. Ya, kalau aja editor gue nggak bawel, mungkin nggak akan selesai-selesai. Terima kasih, Edoding!

Karena mungkin kurang lebih dua minggu lagi naik cetak, gue mau membeberkan tentang apasih yang ada di buku gue ini. Seenggaknya, calon pembaca jadi kebayang isi buku gue seperti apa. Biar nggak ada yang merasa tertipu pas udah beli. Jadi ketika udah gue kasih tau tentang apa aja isi tiap bab, semoga kalian udah bisa menilai layak atau enggaknya buat dibeli ya. Hehe.

Pada dasarnya, buku ini tentang ketakutan gue, tapi gue kerucutkan menjadi ketakutan-ketakutan dalam hal percintaan (tentu dikemas dengan basket). Buat masalah genre, genre-nya... hmm... apa, ya? Komedi? Nggak juga deh kayaknya. Romance? Hmm, ya nggak juga, karena mungkin nggak akan ada banyak quote-quote 'ngena'. 

Kenapa gue nggak berani mengkategorikan buku ini ke arah komedi atau romance? Karena kalau gue bilang komedi, akan terbentuk ekspektasi yang tinggi ke kalian, dan mungkin yang akan jadi pembandingnya adalah buku Raditya Dika. Jelas, gue kalah. Ehe. Da w mah apa atuh.

Romance? enggak juga, karena nggak ada kisah yang menyedihkan atau kisah yang ngena banget kayak novel romance. 

Jadi kalau ditanya buku gue ini genre-nya apa? Mungkin jawabannya Lebih-Berat-Ke-Komedi. Gitu deh pokoknya. 

Biar kebayang, ini dia isi tiap bab yang akan gue ceritakan nanti di buku gue yang judulnya Love Rebound:

BAB 1: gue pernah punya pacar posesif, karena gue orangnya nggak keenakan, di sini, gue akan nyari cara buat mutusin dia biar nggak nyesek-nyesek amat.
BAB 2: menceritakan tentang nyokap gue yang agamis banget. (tentu ceritanya bukan ini aja, nyambung, tapi nggak gue kasih tau tentang apalagi, nanti spoiler. :p)
BAB 3: tentang sohib gue yang LDR-an.
BAB 4: pernah gue ceritain bab ini di blog, iya, yang gue dirampok. Tapi ini full version. 
BAB 5: tentang gue kenalan sama cewek, tapi gagal gara-gara otak gue konslet.
BAB 6: tentang gue kencan sama cewek freak. Ceweknya punya kebiasaan aneh. Serem~
BAB 7: tentang gue difriendzonin alias ditolak sebelum nembak. :')
BAB 8: tentang gue memperjuangkan seseorang. (di blog ini juga ada, tapi di sini full version) :')
BAB 9: ini akhir dari semua cerita.
BAB 10: tentang Love Rebound
BAB extra: tentang masalah-masalah followers yang pernah gue tanya di Twitter dengan hestek #isengnanyaah. Sekitar 15 orang masuk.


Hmm, segitu aja, buat kover mungkin minggu depan. Jadi belum ada yang bisa gue tampilkan bentuk desain bukunya. hehe. Semoga karya gue nggak mengecewakan ya! :))

*UPDATE

ketinggalan, premis bukunya. Premisnya: Gue pengin punya pacar, tapi... gitu deh, semuanya gara-gara ketakutan!

Senin, 09 Februari 2015

#AsalUsulAsal Pensil Alis

Standard
Alkisah, pada abad ke-16 hiduplah salah seorang perempuan kaya, bernama Alice, yang tinggal di salah satu desa di benua eropa sana.

Sekilas, Alice terlihat seperti anak rajin. Dia memakai kacamata, juga selalu memakai tas ke mana-mana. Namun siapa sangka, ternyata dia anak yang pelupa. Semua berawal di suatu hari, saat Alice sibuk meneriaki mamahnya yang lagi masak di dapur.

“KACAMATAKU HILANG!” kata Alice.
“Di kepalaaaa…”
“Oh iyaaaaaah!” “TAS AKU?”
“Di punggung…”
“Ups…” “UANGKU?!”
“Di tuyuuuul…”


“Hah Tuyul?! Tuyul itu siapa??!” saut Alice, kesal.
“Tuyul itu… rahasia.”

Sejak saat itu, Alice membenci ibunya. Ibunya enggan mengasih tau siapa tuyul dan di mana keberadaannya. Belakangan diketahui, ibunya berbuat seperti itu, agar Alice menjadi pribadi yang mandiri. Yang nggak sedikit-sedikit nanya ke ibunya.

Alice pun memutuskan untuk mencari tahu sendiri siapa itu tuyul.

Pertama-tama, Alice menanyakan siapa Tuyul kepada Wikipedia. Tapi, pada zaman itu belum ada Wikipedia, makanya nggak jadi nanya. Kedua, Alice menanyakan tentang Tuyul kepada abang-abang penjaga warung.

“Bang, tolong bantu saya. Tuyul itu siapa?!”
“Oh, itu, anak muda,” kata si abang-abang, “Kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap ada, padahal sebenarnya nggak ada.”
“Itu takhayul, bang,”

Ternyata penjaganya tuli.

Alice frustasi. Berhari-hari dia mencari tahu tentang Tuyul yang mengambil uangnya, tapi nggak ketemu-ketemu. Pada suatu malam, ada kakek-kakek tua berbaju hitam menghampiri Alice yang tengah tertidur di sebuah gubuk sawah yang tak terurus. Alice bertekad nggak akan pulang ke rumah, sebelum dia tau siapa itu Tuyul.

“Anak muda,” kata si kakek.
Alice pun terbangun dari tidur pulasnya. “Ya, ada apa, Kek?”
“Kamu ingin tahu siapa itu Tuyul?”
“Betul, Kek! Kakek tau?! Gimana caranya?!”
”Caranya? Ketik Reg…”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.” “Caranya, kamu cukup pulang ke rumah, lalu cukurlah alismu. Niscaya, kamu akan melihat Tuyul...”
“Serius, Kek?!”
“NOAH!”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.”
Alice pun bergegas berlari ke rumahnya, ke kamar, lalu mencari sebilah pisau untuk mencukur kedua alisnya. Tanpa ada rasa ragu, dia mencukur dengan penuh semangat. Pertama-tama, dia cukur alis kanannya. Kemudian, alis kirinya.

Sesaat kemudian, setelah kedua alisnya tak ada lagi, dia melihat anak kecil botak bercelana dalam putih masuk ke kamarnya. Anak kecil itu membongkar laci meja rias Alice, tempat Alice menyimpan uang.

“HEH KAMU! KAMU PASTI TUYUL KAN?! KAMU YANG NGAMBIL DUIT SAYA WAKTU ITU?!” bentak Alice.
“I-iya… T-tapi…”
“TAPI APA?!”
“Itu disuruh mamah..”
“Mamah?”

Ternyata itu adiknya Alice. Dia bernama Tuyul. Alice lupa kalau dia punya adik.

Lewat dari hari itu, Alice sungguh menyesal telah mengikuti perintah si kakek-kakek. Dia sering melamun di depan cermin, memerhatikan mukanya yang jadi aneh semenjak nggak ada alis.

Berhari-hari dia merenung dan menunggu, lalu bertanya-tanya, kenapa alisnya nggak numbuh-numbuh. Berbagai cara dia lakukan agar alisnya numbuh. Mulai dari cangkok alis, sampai mengadakan gerakan menanam satu hari satu alis. Tapi, hasilnya nihil.

Sampai suatu ketika, dia melihat adiknya, Tuyul, sedang mengerjakan tugas menggambar dari sekolahnya. Saat itu, Tuyul menggambar gunung lengkap dengan matahari di tengah-tengah, sawah, juga burung.

“Yul, itu apa namanya?” kata Alice, memerhatikan benda yang dipegang Tuyul.
“Pensil, Kak.”           
“Kok pake pensil?”
“Biar ngapusnya gampang, Kak,”
Alice manggut-manggut, sambil memerhatikan gambarnya Tuyul.
“Yul, ini gambar apa?”
“Burung, Kak,”
“Kok kayak kakak kenal ya gambarnya?”
“Itu kayak alis kakak, Kak!”

Alice terdiam, mengelus-ngelus dagu, dengan gerak terburu-buru, dia meminjam pensil adiknya saat itu juga untuk bereksperimen. Berjam-jam dia habiskan di depan cermin, hanya untuk mengembalikan alisnya yang telah lama dia cukur. Awalnya, bentuknya seperti ini...

Terinspiras dari gambar burungnya Tuyul...

Lalu...

Niatnya biar gampang, tapi malah hancur...

Karena usahanya yang keras dan tak kenal putus asa, akhirnya bentuknya pun menjadi....

Khan maeen...

Alice menyadari, ternyata, bikin alis itu susah. Butuh berjam-jam biar bentuknya sesuai dengan keinginan. 

Alisnya pun balik lagi, meski dengan bantuan pensil.
  
Seiring berjalannya waktu, Alice merasa nggak enak kalau harus terus-terusan memakai pensil milik adiknya. Dia mikir, sungguh sangat tidak adil kalau harus membiarkan adiknya menggambar dengan tangan kosong. Emangnya berantem.

Dia pun memutar otak, lalu menciptakan sebuah pensil baru, yang bernama, pensil Alice. Pensil khusus alis.

-TAMAT- 

Minggu, 04 Januari 2015

Alasan Kenapa Orang Ngetwit Mulu

Standard
Ada beberapa orang yang tiap gue buka Twitter, dia lagi dia lagi yang nongol. Mungkin yang ngalamin ini banyak. Dan kebanyakan orang, berpendapat solusinya adalah unfollow. Mungkin unfollow emang cara paling ampuh buat 'ngusir' orang yang nggak sesuai dengan kemauan kita. Tapi di sisi lain, sebenarnya kita butuh (mari kita namakan orang ini dengan:) 'orang aneh' di lingkungan kita. Buat apa? Buat supaya kita bisa ngomong: "Amit-amit! Jangan sampe gue kayak dia!", yang secara nggak langsung memberi sugesti ke otak, lalu menghindari hal yang dilakuinnya.

Keberadaan orang aneh sebenarnya sama seperti musuh. Mereka jangan dihindari, diliatin aja, tapi juga jangan dideketin. Karena apa? karena cuma musuh yang hobinya memperhatikan kekurangan kita. Itulah kenapa gue suka mikir mending punya musuh, daripada punya temen yang kalau kita salah malah diam aja. Dengan musuh ngata-ngatain kejelekan kita, kita jadi tau letak kejelekan kita di mana.

Sering banget gue ngeliat ungkapan seperti ini: "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", gue nggak setuju dengan kalimat ini. Walau bagaimanapun, lo ngetwit dari jempol, dan yang ngegerakin jempol itu otak. Kalau emang twit lo ngeres, berarti otak lo ngeres. Kalau emang twit lo bijak, berarti otak lo emang berpikir bijak. KECUALI, twitnya hasil copas. Karena sesungguhnya yang boleh ngomong "Jangan nilai orang dari timeline-nya!", cuma admin detikcom. Karena emang nggak ada yang bisa dinilai juga dari timeline-nya.

So, your tweet say your personality, Guys!

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~


Setelah gue pahami lebih jauh, ada beberapa alasan kenapa orang kerjaannya ngetwit mulu:

1. Following sedikit
Nggak sepenuhnya kesalahan berasal dari dia. Bisa aja, penyebabnya gara-gara jumlah orang yang kamu follow emang sedikit. Mungkin di bawah lima puluh. Atau mungkin juga gara-gara abis stalking, lupa nutup. Ternyata emang timeline-nya dia.

2. Lagi kerja
Mungkin yang kamu follow adalah akun-akun yang fungsinya emang buat ngetwit terus. Misal, detikcom, adadiskon. Atau mungkin juga, dia ngetwit mulu gara-gara tuntutan pekerjaan. Contohnya: buzzer brand yang lagi kejar target. 

Kalau menurut gue, kalau emang tujuannya gara-gara pekerjaan, itu sah-sah aja. Namanya juga lagi nyari rejeki.

3. Lagi caper
Mungkin kita semua pernah ngerasain gimana rasanya orang yang kita suka, ada di hadapan kita. Iya, rasa-rasanya pengin banget nunjukkin kelebihan kita. Biar dia kagum. Dan cara nunjukkinnya itu yang beda-beda.

Nah! Kalau di timelinemu ada orang yang kerjaannya ngetwit terus, dan tweet-nya membahas tentang tata cara badan meteorologi dan geofisika memanggil awan kinton, bisa jadi dia lagi caper. Mungkin dia berpikiran kalau ngetwit adalah cara efektif buat menarik perhatian si gebetan. Apalagi bahan tweet-nya edukatif gitu ya kan.

Gapapa, kalau ngeliat, doain aja biar cepet dapet.

4. Lagi bayar nazar
Jangan salah, nazar orang nggak ada yang tau. Mungkin aja dia abis mendapatkan sesuatu. Dan nazarnya, dia bayar pake jumlah ngetwit. Makanya menuh-menuhin timeline..

5. Dia akun bot

Bakaaaaaar!

6. Kesepian
Banyak banget orang kayak gini. Tiap saat, dia ngetwit tentang segala hal yang dilakuin. Mulai dari hal yang nggak penting, sampai ke hal yang nggak penting banget. Mulai dari ngomongin orang, nyindir, ngeluhin kehidupan, curhat masalah pribadi, sampai ke ngoceh-ngoceh nggak keruan (yang ini biasanya aktivitas pribadi yang nggak penting). 

"Duh, mules" *sent 3 minute ago*
"Lagi buka celana nih." *sent 2 minute ago*
"Doain!" *sent 1 minute ago*
"Hape baru bener yeaay! Dasar closet sialan!" *1 month later*

Dan ekspresi kita begitu ngeliat tweet-nya:




Ketika kamu ada masalah, yang bakalan dilakuin pasti nyari orang terdekat (sahabat/orangtua) buat curhat. Nggak mungkin ke orang yang nggak dekat atau bahkan ke orang yang nggak dikenal. Dengan kamu 'bawel' di media sosial, itu kalau digambarkan ke kehidupan nyata sama aja ketika kamu punya masalah, kamu lari ke luar rumah, lalu nyetopin abang-abang penjual sayur yang lewat, "Tau nggak-tau nggak-tau nggak, gue mau ganti zodiak!"

Gue percaya dengan satu hal, semakin kamu 'bawel' di dunia maya, itu semakin menunjukkan kalau kamu kesepian di dunia nyata. Gue tau, tujuan mereka bawel di dunia maya itu satu; biar ditanggepin. Iya, ditanggepin, meski oleh orang yang nggak dekat dan nggak kenal. Dan yang menjadi penyebab utamanya adalah: karena nggak ada lagi orang yang bisa diajak berbagi. Dan followers Twitter-nya, adalah harapan satu-satunya.

Ollrait, Guys?

Andai ku Guys Tambunaaaaan~~ Yang bisa pergi ke Bali~~

Di timeline-mu, ada yang kayak gini juga? Ada komentar?