Kamis, 22 Oktober 2015

"Cinta Butuh Chemistry"

Standard
First impression gue waktu ngeliat buku Between Us: “wah, ada novel yang isinya tentang Kimia-Kimiaan nih, kayaknya keren.”. Waktu masih SMA, gue paling nggak bisa pelajaran Kimia. Entah kenapa pelajaran Kimia yang gue dapet dari sekolah bikin gue jadi males belajar Kimia. Gue dicekokin dengan segala macam rumus kimia, di situ gue mikir, ini pelajaran buat apaan sih? Daripada belajar kimia, mending gue main basket.

Gue masih ingat waktu dulu gue pernah belajar Kimia tentang inti atom. Begitu dijelasin, hari pertama gue ngerti, keesokan harinya, gue lupa apa itu inti atom. Begitupun temen gue. Gue yakin penyebab anak sekolah cepat lupa sama pelajaran IPA itu karena pelajarannya nggak bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Coba gue tanya, apa itu inti atom? Yak betul! Inti atom itu bukan yang ini:
Metode guru ngajar biasanya cuma ngasih tau definisinya apa, lalu ngasih unjuk gambarnya seperti apa. Ini kan nggak bikin siswa paham. Siswa bakalan paham, kalau dijelaskan dengan hal-hal yang bisa diterapkan sehari-hari, misalnya ngejelasin dengan trik ngegombalin cewek.

A: Sayang, cintaku ke kamu itu kayak inti atom tau.
B: Ah, kenapa gitu, Bang?
A: Kecil sih, tapi nggak bisa dibagi lagi.

DEMN. Pasti tuh siswa-siswa bakalan pada nyatet apa itu inti atom.

Hal yang serupa gue temui di buku Between Us. Buku yang menceritakan tentang Fahrul, seorang chemist (anak Kimia) yang sedang mencari chemistry ke orang-orang di sekitarnya; ke bawahannya, ke bosnya, ke ibunya, juga ke gebetannya, sangat menarik karena dikemas dengan istilah-istilah kimia. Gue baru sadar ternyata dalam jatuh cinta, terdapat proses kimia yang jarang diketahui oleh orang-orang. Yang selama ini gue cuma tahu ikatan terkuat adalah ikatan silaturahmi, ternyata masih ada ikatan lain yang juga sama kuatnya; yaitu ikatan kovalen.


Cinta memang nggak memandang seseorang berdasarkan latar belakangnya, tapi  seseorang, bisa memandang cinta berdasarkan latar belakangnya. Fahrul sebagai anak kimia memandang cinta sebagai proses senyawa kimia yang bereaksi ketika hati menemukan chemistry. Yap, cinta itu butuh chemistry. Dan gue sebagai anak basket, memandang cinta adalah kemenangan. Meraih kemenangan itu nggak mudah, kita butuh latihan rutin –karena cinta tidak datang dengan tiba-tiba-, kita butuh kekompakan –karena cinta itu saling, bukan paling-, dan kita butuh tujuan yang kuat –karena cinta tanpa tujuan, sama dengan buang-buang waktu-. Dari semua elemen itu, tentu nggak mudah untuk menyatukannya. Selalu ada halangan entah itu datangnya dari diri sendiri, ataupun dari rekan kita yang hanya bisa diatasi dengan suatu formula; yaitu saling mengerti. Saling mengerti adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam sebuah hubungan. Karena "saling" adalah berdua, butuh 'kekompakan'. It isn't about you or me. It's all about; BETWEEN US.



EH! Maap-maap salah cover. HEHE. 



Rabu, 09 September 2015

Kata-Kata yang Agak Geli Kalau Dipakai Chat Sesama Cowok

Standard
Entah ini cuma gue doang atau emang udah dari sananya, gue kalau baca chat dari orang pasti langsung kebayang ekspresi dia ngomong kayak gimana. Misalnya kalau bokap gue chat nyuruh pulang, "Satria, pulang." gue ngebayangin kalau dia nyuruh pulang dengan muka datar, mata yang sesekali ngeliat ke arah jam tangan, dan mulut cemberut. Beda dengan kalau gue baca chat dari kakak gue yang nyuruh pulang, "Lo dimana? Pulang!" itu yang kebayang dia ngetiknya dengan jidat yang mengerut, dengusan nafas yang menggebu-gebu, dan sambil megang pisau dapur kalau emang ternyata dia kekunci dari luar dan kunci rumahnya kebawa sama gue.

Gue makin ngerasa kalau yang ngebayangin-ekspresi-pengirim-pas-baca-chat ini cuma golongan anak muda doang. Tiap gue baca chat bokap-nyokap atau bapak-bapak dan ibu-ibu umumnya, mereka balas chat-nya sadis. Misalnya nih bokap gue kalau nerima chat dari rekan kerjanya, rekan kerjanya udah ngetik panjang-panjang, dia cuma balas singkat kayak "Ya." atau panjangan dikit "Ya, terima kasih." doang. Gile, innocence banget. Dan kerennya, mereka nggak ada yang bete-betean. Beda kalau chat-an sama pacar.

Hampir semua pacar orang kalau dia udah nge-chat panjang-panjang, seandainya kita balasnya dikit pasti dia langsung ngomel, "Kamu kok jutek banget sih?", "Kamu marah ya sama aku?", "KAMU LAGI SELINGKUH YA?!". Soalnya mereka langsung ngebayangin ekspresi kita kayak gimana. Makanya, kita dituntut harus balas yang panjang juga, meskipun intinya cuma seiprit, misal:

Pacar: Eh eh eh tau nggaaaaak, tadi aku seharian study tour enak deh, aku ke dufan, trus aku di sana ke rumah miring, main wahana-wahana yang serem itu tuh, yang kamu nggak berani, aku naiknya ampe dua kali lho! Trus aku juga ke istana boneka, dan tau nggak sayang aku ngapain di sana? Aku berenang! Iya, yang lain naik perahu aku berenang gaya punggung! keren kaaan?

Kita: Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, kamuuuuuuuuuuuuuuu kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet.................................

Kurang lebih begitu lah.


Karena tiap baca chat rata-rata orang selalu ngebayangin ekspresinya, gue mikir kayaknya penggalan-penggalan kata ini bakalan aneh deh kalau dikirimnya ke sesama cowok. Karena cowok, identik dengan ketegasan. Asli deh, gue pernah dapet chat yang salah satu penggalan katanya ada di bawah ini. Pas baca, waduuuy, shock ngebayanginnya.

"Nyebelin"
Kebayang nggak sih lu, kalau temen lu atau lu ngeliat temen-temen cowok lu nge-chat ada kata nyebelinnya? Misal:

A: Hahaha gue ngibul bego, gue ada di rumah.
B: Ah! Nyebelin!

Ya Tuhaaaan...

"Iiiiih"
Gue kalau dapet yang kayak gini dari cewek gue, jujur, gue malah gemes sama dia. Bawaannya pengin nyubit. Coba bayangin deh, imut banget kan cewek kalau lagi ngomong "iiih"? Biasanya ekspresinya itu bibirnya manyun, nada suaranya manja, idungnya kembang kempis. Gila, gemesin banget.

Coba kalau cowok yang ngechat gitu, misal:
A: Eh, gue pulang duluan ya, mau nganter nyokap.
B: Iiiiiiih, dia mah.

Ya Tuhaaaaan...

"Hihihi"
Ini adalah ekspresi nyengir-nyengir-gemes-genit gimana gitu. Gimana ya ngegambarinnya. Geli gak sih lu kalau ada dua insan pria yang chat-nya kayak gini:

A: Eh uang patungan sapi kurban dikumpulin di elo ya?
B: Hihihi iya hihi

Ya Tuhaaaan...

Segalanya yang Huruf Belakangnya Dipanjangin
Misalnya nih, "Nantiiiiiiiiii" atau "Iyaaaaaaaa". Kebayang gak sih lu ekspresinya gimana? Gemes-gemes-ucul gitu kan. Kalau sama pacar, sangat wajar. Coba bayangin lagi dua cucu Adam ngechat-nya gini;

A: Eh, bayar utang pulsa lo
B: Iyaa, nantiiii

Ya Tuhaaaan...

Emote Melet ':p'
Gue ngebayangin ada cowok yang ngomong langsung, trus main julur-juluran lidah. 

A: Anjing lo!
B: hehehe :p

*ternyata anjing beneran lagi melet*

"Yah" "Iyah"
Gue semangat dengerin kata ini, kalau yang ngomong Nikita Mirzani. Beuh, jadi aus nggak sih lu kalau misalnya Nikita Mirzani yang ngomong di depan lu sambil ngedesah-desah? Beda kalau sama cowok.

A: Nanti jangan lupa yah
B: Iyah
A: Bagi minumnyah
B: Bentar yah

*ternyata lagi kepedesan*

"Wooo" atau "Wuuu'
Gerakan memanyunkan bibir dengan nada yang panjang. 

A: Yah, gue lupa bawa casan!
B: Ye dasar wuuuuuuu

Tuhaaaan, tarik mereka Tuhaaan...

"Wleee"
A: lo bolos sekolah ye?
B: Nggak sih, orang gue sakit wleeee

Sedih bacanya.

Yak! Itu kata yang menurut gue bikin geli kalau dipakai chat sesama cowok. Ngebayanginnya itu lho, bikin istighfar. Tapi sekali lagi, ini cuma menurut gue, kalau ada yang nggak setuju, yaudah. Namanya juga menurut gue. Hehehe. No offense pokoknya.

Menurut lo gimana? Atau ada lagi?

Minggu, 02 Agustus 2015

Di Balik "re-gram" Dagelan

Standard
Beberapa hari ini kasus pengcopasan Dagelan lagi rame di Twitter. Semua semenjak @ernestprakasa ngomel di Twitter gara-gara ada bit dari comic yang di-copast, dijadiin meme, dan di-post di ig-nya Dagelan tanpa nyantumin sumber. Sebenernya kasus pengcopasan ini udah lama, nggak cuma Koh ernest aja yang ngomel. Banyak anak Twitter (yang kontennya keren dan berfollowers banyak) sebelumnya juga udah ngomel, tapi nggak seheboh kemarin. Ampe masuk portal berita.

Gue dari dulu sebenernya banyak banget kegelisahan tentang Dagelan. Sekarang gini, mungkin lo udah tau, Dagelan itu adminnya banyak. Kalau diliat sekilas, mungkin lebih dari 10. Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa hampir semua konten di Instagramnya harus regram sih? Coba pikirin deh, mereka itu anak muda, masa bikin konten sederhana tentang kegelisahan anak muda zaman sekarang aja nggak bisa? Kayak salah satu tweetnya @arhamrsalan yang dicopast: "Lelaki sejati itu takut sama 3 hal: 1. Tuhan 2. Orangtua 3. Kecoa Terbang". DEG. Ngerasa aneh nggak? Apa mereka nggak ada satupun yang kepikiran kayak gitu? Mereka anak muda lho isinya, bukan veteran-perang-yang-lagi-nyari-uang-tapi-udah-pensiun-makanya-gak-bisa-kerja-lagi-dan-akhirnya-copast-buat-dapetin-uang. Masa sesederhana itu aja nggak bisa. Kecoa terbang kan kegelisahan anak jaman sekarang banget.

Sekarang gini, coba pikirin deh, follower mereka itu jutaan, mau bikin meme lawakan sesederhana "Jangan Makan, Kalau Lagi Haus" aja menurut gue yang ngelikes udah ribuan orang. Lah, gue aja followers cuma tiga ribu tapi posting foto muka-Pevita-Pearce-yang-lagi-foto-sama-Keenan-Pearce-trus-muka-Keenan-nya-gue-ganti-pake-muka-gue aja yang nge-like ratusan. Apalagi Dagelan? Btw kalau mau liat ig gue juga bisa liat di @satriaoo. *sekalian promosi*


Di sisi lain, gue menganalisis ada beberapa kemungkinan kenapa mereka hampir semua kontennya bilang "regram". Semoga suudzon di blog nggak termasuk dosa kecil sama malaikat.

Pertama, mereka nggak punya kegelisahan alias mereka hidupnya jauh dari pergaulan masa kini. Jadi, mereka pribadi nggak suka atau nggak pernah main atau nggak pernah buka sosmed. Karena nggak pernah, mereka jadi nggak tau selera humor anak kekinian. Atau mungkin emang nggak punya selera humor ya? Hehehe. Makanya tinggal copas aja biar cepet. Tapi menurut gue kemungkinan pertama ini nggak bener, sih. Masa anak media nggak suka buka social media. 

Kedua, mereka punya trik yang gue namain trik kambing-hitam-tif. Sungguh nama yang nggak ada kerennya sama sekali sebenernya. Jadi, mungkin aja tujuan regram ini buat mengkambing-hitamkan persoalan yang mereka lagi alami sekarang. Coba lo perhatiin deh, hampir tiap kontennya sekali lagi gue tekanin, ada tulisan "regram by" akun parodi bla-bla-bla lah, atau apalah kek. Kalau nggak percaya, buka aja. Nah, di sini janggalnya. Rata-rata dari mereka si akun yang di-regram by-in sama Dagelan ini, akunnya itu-itu doang. Kalau nggak percaya lagi, cek aja. Dari sini gue mikir, mungkin gak sih ini trik buat kambing hitam? Iya, jadi ketika suatu saat ada yang komplen tweetnya dicopas (kayak kasus kemarin-kemarin ini), mereka bisa beralibi yang intinya, "Ini saya dapetin dari akun ini, salahin dia aja." gitu. Dan gue berpikir, bisa aja akun-akun yang gue maksud adalah akun 'bawahan' mereka.*

Ya lo pikir aje, akun instagram yang dia regram-in, anonim juga. Ngelaporin si akun anonim ke polisi dengan UU ITE juga diketawain sama polisinya. (Dan gue yakin sekarang mereka mau nulis "regram" juga gara-gara orang udah pada tau siapa aja di balik Dagelan. Bisa dilaporin. Kalau enggak juga pasti mereka cuek)

Entah nantinya dengan apa Dagelan bisa sadar hingga akhirnya semua kontennya bikin sendiri. Janggalnya, katanya perusahaan, kok nggak punya konten? Harusnya perusahaan kan punya 'sistem' sendiri. Apa jangan-jangan copast secara ilegal dan copast secara legal (dengan nulis regram) ini adalah sistem yang udah dirancang perusahaannya? Hehe. 

Semoga Dagelan cepat sadar. Dan sadarnya bukan gara-gara azab Tuhan yang sampe difilmin sama tim Pintu Hidayah dengan judul "Copas konten orang, jenazah dikuburkan oleh akun bot"

Hehehe.

Baiklah, sekian. Tetap semangat dan jangan lupa beli Love Rebound.

Yang punya analisis lain tentang Dagelan, monggo kita berdiskusi di kolom komen.

Selasa, 21 Juli 2015

CerSing Tour Buku dan Skripsi

Standard
HUARGH! APA KABAR SEMUANYAAAAAH?! *nunjuk-nunjuk yang di ujung biar kayak konser*

Gila! Udah dua bulan lebih gue nggak nulis yang aneh-aneh di sini. Gue merasa dosa. Punya blog dianggurin. Nggak bener nih. Kalau begini terus, gimana menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Gue mau cerita semuanya ah.

Beberapa bulan belakangan gue emang lagi sibuk banget. Mulai dari bulan April. Di bulan April, gue sibuk ngelarin buku perdana, Love Rebound, pala panas revisi naskah mulu. Gue nggak mau para pembaca kecewa sama hasil akhirnya. Beberapa kali gue re-write. Kalau ada bagian yang janggal, gue ganti, biar bacanya enak. Kesan pertama itu penting. Gue takut pembaca kecewa. Ya walaupun pada akhirnya, masih banyak yang typo ternyata. Maaf ya, nanti dibenerin deh kalau cetak ulang. Ayok makanya beli jangan minjem, dikit lagi cetak ulang nih! #promodikit

Lanjut ke bulan Mei. Pas di bulan Mei, gue sibuk tour ke delapan kota buat promo buku Love Rebound. Gilaaaa, pas ngetik "tour ke delapan kota" gue merasa keren gini. Biasa study tour, sekarang tour promo karya sendiri. Waktu itu, gue tour ke Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Kalibata, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Promonya nggak sekaligus, tapi perminggu. Minggu pertama ke kota ini, lalu disusul ke minggu-minggu selanjutnya.

Waktu tour buku, fokus gue benar-benar ke sana. Terutama waktu ke Jogja, Solo, dan Semarang. Maklum, tour kota perdana. Gue harus nyiapin materi buat apa yang mau gue omongin nanti di depan khalayak ramai. Gila nggak tuh. Biasa ngomong di depan temen/dosen, sekarang ngomong di depan dedek-dedek gemes. Gue serasa kayak orang yang dituakan di kampung yang kalau ada warga ngomongin gue, temennya bakalan nyeletuk, "Heh! Jangan ngomongin dia! Pamali!". Gileee, pamali. Iya, mereka duduk di depan gue buat ngedengerin gue ngoceh-ngoceh. Gue kayak sesepuh banget.

Kira-kira kayak gini suasananya:

Ini waktu di Semarang (tour kota ketiga). Pic by @celotehyori.
Awalnya, sempet deg-degan juga. Apalagi waktu di Jogja (kota perdana tour). Tapi bahagianya, materi gue tersampaikan dengan baik. Nggak ada yang terlupakan. Kecuali, di Solo. Sempet lupa sedikit, tapi alhamdulillah-nya bisa back to the line lagi setelah improv. -_- Dan sekarang, karena udah terbiasa, tiap talkshow gue nggak pernah nyiapin materi lagi. Full improv! Haha! Gue jadi ketagihan talkshow!

Lanjut ke bulan berikutnya.

Bulan berikutnya gue dihadapi dengan skripsi. Sebenarnya nggak dari bulan itu aja, gue skripsi dari bulan Februari. Jadi pas lagi nulis (entah itu nulis buat buku atau artikel nyunyu) dan tour, gue juga kepikiran skripsi. Deadline-nya minggu ketiga bulan Juni, cuy harus kelar! Dan masalahnya, sampai minggu kedua, skripsi gue belum kelar! Baru sampai bab 3 (dari bab 5 buat yang nggak tau)! Kenapa gue lelet ngerjainnya? Yes, karena skripsi gue, bikin inih:


Bikin robot. -___-
Dan sampai H-seminggu sidang robot,.... ROBOTNYA NGGAK BISA JALAN! BAJINGAN KAMU ROBOT SIMALAKAMA! *Jangan tanya kenapa gue nulis simalakama, entah kenapa gue ngerasa kata simalakama cocok buat marah-marah padahal gue nggak tau itu apa*

Fyi, itu robot laba-laba pemantau atau robot pemantau berkaki enam.

Gue stress nggak karuan. Gue jadi sensi. Bawaannya mau merengut mulu. Mau senyum aja rasanya males. Gue juga jadi jarang tidur, kepikiran. Tiap hari kerjaan gue dari pagi sampe malem nongkrong di kampus buat ngotak-ngatik si robot ini. Tapi hasilnya, nihil, dia nggak bisa jalan dengan sempurna. Tiap dia jalan, kaki-kakinya konslet gara-gara kabel bajingan simalakama. (Fyi, konsletnya itu kayak kejang-kejang, kakinya geter-geter). Gue udah mau nyewa psikiater aja. Gue pasrah. Kalau robot nggak jalan, artinya, gue nggak lulus. Kudu kuliah lagi. Kudu bayar lagi. Kudu ngedatengin wisuda temen lagi (bukan ikutan wisuda).

Singkatnya, pada tanggal 20an Juni, anggap saja 23 Juni karena gue lupa (hari sidang robot), gue harus bisa jalanin robot, kalau enggak, gue nggak lulus! Gue ngulang! Gue bisa-bisa kalau ketemu bokap dipanggil bro, bukan Nak lagi gara-gara udah nggak dianggep anak! Dan i'm so lucky,... HAMIN SEPULUH JAM SEBELUM SIDANG ROBOTNYA BISA JALAN TANPA KONSLET!!! Yes, nggak tidur beberapa harinya gue akhirnya membuahkan hasil.

Gue gercep pergi ke kampus. Gue girang. Gue senang bukan main. Tiap ketemu orang bawaannya mau senyum sama ngasih beasiswa ke luar negeri. Gila, hari ini hari gue banget! Sampai akhirnya, gue duduk di sebuah ruangan untuk menanti dosen-wanita-tua-ngeselin buat nguji robot gue. Dan pas dia datang, duduk di sebelah gue,... ROBOT BAJINGAN SIMALAKAMA NGGAK BISA JALAN LAGI!!! KAKINYA KONSLET! KAMERANYA NGGAK BISA NGOTRET! DIA JUGA NGGAK BISA DIKENDALIKAN DARI JARAK JAUH!!!!

Gue dimarahin. Diancam nggak lulus. Gue melas. Dan gue ditunggu tiga hari berikutnya buat nguji ulang. Kesempatan terakhir. 

Singkatnya lagi, hari itu pun tiba. Alhamdulillah, robot gue bisa berjalan dengan baik, dia tidak bajingan. Dia robot yang mengerti majikannya. Semua modul, berfungsi. Dia bisa berjalan, bisa ngotret, dan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Gue duduk santai nunggu dosen di ruangan. Semua mahasiswa udah diuji, cuma gue doang satu-satunya mahasiswa yang belum sidang program. Sebelum mulai diuji, robot-nya gue test dulu. Lancar!

Hingga saatnya dosen itu masuk ke ruangan. Gue dengan mantap menyalakan laptop dan bersiap mengendalikan robot. Begitu gue mau masuk ke sistem si robot lewat jaringan wifi kampus,... MENDADAK JARINGANNYA MATI! MATIIII! SUNGGUH WIFI BAJINGAN SIMALAKAMAAA!

Pada dasarnya, kuncinya adalah jaringan. Kalau nggak ada jaringan, robot nggak akan bisa dikendalikan. Kalau robot nggak bisa dikendalikan, artinya gue nggak akan lulus. Dalam teori silogisme pernyataan gue memiliki arti,... KALAU NGGAK ADA JARINGAN YA GUE NGGAK AKAN LULUS! 

Gue panik. Langsung izin keluar ruangan buat nyari dosen pembimbing dan nanya ruangan mana yang jaringannya bagus. Beliau menunjuk salah satu ruangan. Gue pun menjelaskan ke dosen penguji buat pindah ruangan karena jaringannya buruk. 

Setelah 20 menit men-setting robot (karena kabelnya banyak), robot pun siap, jaringan pun bisa digunakan. Dosen penguji kembali masuk ke ruangan. Dan begitu mau dikendalikan, memasukkan perintah,... ROBOT SIALAN ITU KONSLET!!! KAKINYA KEJANG-KEJANG!!!!

Gue stress. Panik nggak keruan. Si dosen ngeliatin gue dengan tatapan lapar penuh amarah. Gue terus ngecek problema si robot, dan ternyata, daya listrik ruangan emang bermasalah, makanya dia konslet. Gue pun kembali mencoba menjelaskan ke dosen apa problemnya. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Gue: Bu, bu, bu, ini konslet bu, tadi bisa kok bu di sana. Beneran. Serius. Saya nggak bohong. 
Dosen: Maksudnya?
Gue: Iya, jadi, tadi kan kalau di sana problemnya jaringan, nah, di sini, daya listrik, bu. 
Dosen: Jadi, nggak bisa gerak robotnya?
Gue: I-iya, tapi tadi bisa kok bu! Seriusan! Saya punya rekamannya kok!
Dosen: JANGAN BAHAS YANG TADI-TADI! SAYA PERLU BUKTINYA SEKARANG!
Gue: Yah, Bu, tapi, ini gara-gara...
Dosen: Satria, kamu mau mempermainkan, saya?

Sampai di sini, gue reflek pengin nutup mulut si ibu dosen dengan telunjuk sambil berkata, "Sayang, plis dengerin aku. Semuanya bisa aku jelasin...". Dia tetap nggak mau dengar penjelasan gue. Akhirnya, dia pun meninggalkan gue lalu berkata, "Sudah, saya tunggu kamu sampai jam tiga (artinya setengah jam lagi), kalau masih nggak bisa, saya nggak menjamin kamu lulus!"

DEG. 

Tuhaaan tarik akuu...

Jantung makin jedag-jedug. Keringat gue keluar dari mana-mana, dari kepala, jidat, leher, tangan, tembok, plafon. Dan ketika gue panik, temen seperjuangan pun datang. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Temen: Sat, kenapa lo?
Gue: Robot gue error! Padahal tadi bisa di sana, pas di sini nggak bisa. Ada-ada aja nih. Di sana, jaringan wifinya mati, di sini, jaringannya ada, tapi kakinya konslet. Kayaknya gue nggak lulus.

Mendengar hal itu, dia langsung bergegas ngeluarin sesuatu dari ranselnya, lalu ngasih ke gue dengan gaya tangan kanan lurus ke depan sambil memegang sebuah benda layaknya iklan-iklan obat di TV-TV.

"Pakai ini!"

Katanya, sambil ngeluarin Bolt.

Gara-gara itu, gue langsung mencium hawa kemenangan. Gue balik lagi ke ruangan sebelumnya. Lari-larian buat mensetting robot. Gue melirik jam. Sisa 15 menit lagi! Setelah selesai, gue pun manggil dosen itu ke ruangannya, and theeeen.... yes! Lancar semuanya!

Perjuangan terberat gue kerasa sampai di sidang program. Buat di sidang akhir (sidang buku), semuanya lancar, tanpa ada halangan. Dan hasil dari semua itu......


Yuhuuuu, Satria Ramadhan S. Kom.

Btw, ini penampakan temen seperjuangan gue. Namanya Nickerson. Iye, emang datar gitu ekspresinya:


Dan ini cerita singkat tentang kita berdua:


Meski kedengarannya rumit, susah, ribet, dan penuh lika-liku buat ngelarin skripsi. Percayalah, ketika lo ngerjain skripsi atau ngerjain apapun yang menurut lo berat, inget ini: Nggak ada usaha yang sia-sia. Yang ada, kita selalu ngerasa usaha kita sia-sia. Jadi kalau lo udah bilang, "Yah, usaha gue sia-sia nih." Sebenarnya usaha lo masih belum maksimal, dan masih bisa dimaksimalin.

Kalaupun kemarin gue -meski udah doa dan usaha mati-matian ngerjain- tetap gagal, gue percaya, Tuhan udah nyiapin jalan yang lebih baik. Apapun hasilnya, kalau dilakuinnya dengan maksimal, selalu timbul kepuasan.

Sampai belum dinyatakan gagal, lo masih bisa (mungkin terus harus) usaha. Do the best will get the best. 

Siapapun anda dan di mana pun anda berada, tetap semangat dalam berjuang! 

... Dan jangan lupa beli Love Rebound. Cheers!

Senin, 27 April 2015

Karya Perdana [Part 3]

Standard
Ok, guys! Setelah bagian satu dan dua, kali ini gue mau ngepost tulisan Karya Perdana bagian terakhir! Yep, tulisan penutup tentang karya gue ini. Lumayan komplit kan, dari sebelum proses penerbitan (Part 1), saat proses penerbitan (part 2), dan sekarang, setelah proses penerbitan! 

Mungkin dari tanggal 23 kemarin ada yang berubah dari timeline gue. Iya, gue jadi lebih sering promosi buat pre-order Love Rebound daripada ngetwit nggak jelas biasanya. Ehe. Maapin. 

Jadi, #LoveRebound udah buka PO dari tanggal 23 April kemarin sampai tanggal 30 April mendatang. Ada yang belum tau kalau ada PO? Atau ada yang udah ikut PO? Ngacung sini!


Buat kamu yang pengin ikutan PO, bisa tuh ikut PO di toko buku online yang ada di bagian bawah banner, atau kalau nggak keliatan, cek di favorite Twitter gue aja ya. Ehe.

Dan buat kamu yang udah ikutan PO, fyi, semua toko buku online yang ada di bawah banner, baru dapat buku-buku gue dari penerbit tanggal 24 kemarin. Dan hari ini, tanggal 27, semua buku bakalan dikirim ke rumah kamu! Ihiw!


Naaaah, buat yang pengin beli buku gue di toko buku, kemungkinan bukunya bakal dijual akhir dari minggu pertama di bulan Mei (sekitar tanggal 7, dan ini pun cuma tebakan gue). So, bersabar yah!

Tapi khusus toko buku yang akan gue kunjungi buat roadshow nanti (Jogja, Solo, Semarang), begitu gue di sana, bukunya udah dijual kok! Jadi, jangan khawatir yah! Soalnya dari kemarin banyak yang mention intinya gini: "Yah, bukunya dijual di toko buku masih lama? Nanti pas lo talkshow gue nggak ada buku lo dong?!". Gitu. 

Btw, siapa nih yang dateng pas roadshow nanti? Absen dong! 


Untuk sementara, kota-kota di atas ini aja yang gue dan Oka kunjungi. Mau kota atau sekolah kamu dikunjungi Bukune? Coba mention @bukune sebanyak-banyaknya yah! Hehe. :D

And then,... ehm. Apalagi yes. Ehm. Nah! Kalau kamu udah nerima bukunya, setelah baca, tolong kasih kritik dan sarannya ya. Bisa lewat Twitter, Line, atau kalau ada yang mau review di blog juga lebih bagus. Saran dan kritikmu itu gue butuhkan banget buat karya-karya gue selanjutnya. Tenang, yang kritikannya jelek nggak bakalan gue block atau gue santet sampe perutnya bisa ngeluarin kandang hamster. Semua kritikanmu, bakalan gue terima.

Karena gue percaya, semakin banyak yang ngeritik, ilmu gue bakalan nambah. Hehe.

So, jangan sungkan buat ngeritik! And.... happy reading! Semoga tulisan gue bisa memberikan inspirasi. :-)